Universitas Al-Azhar Kutuk Penerbitan Ulang Kartun Nabi

Al Monitor, CNN Indonesia | Kamis, 03/09/2020 21:43 WIB
Universitas Al-Azhar di Mesir mengutuk keputusan majalah Charlie Hebdo yang akan mencetak ulang kartun Nabi Muhammad S.A.W. Ilustrasi majalah satir mingguan Prancis, Charlie Hebdo. (AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan pengawas yang memerangi ekstremisme di Universitas Al-Azhar, Mesir, mengutuk keputusan majalah satir mingguan Prancis, Charlie Hebdo, yang memutuskan mencetak ulang kartun Nabi Muhammad S.A.W.

Dilansir Al-Monitor, Kamis (3/9), pencetakan ulang itu menyusul dibukanya persidangan atas 14 terdakwa serangan teror terhadap kantor redaksi Charlie Hebdo di Paris pada lima tahun silam.

"Desakan tindakan kriminal untuk menerbitkan ulang kartun ofensif ini menanamkan ujaran kebencian lanjutan dan mengobarkan emosi para pengikut agama yang setia," demikian isi pernyataan Observatorium untuk Memerangi Ekstremisme Al-Azhar di laman Facebook-nya.


Mereka juga mengatakan keputusan kontroversial untuk mencetak ulang karikatur itu adalah "provokasi yang tidak dapat dibenarkan oleh hampir dua miliar Muslim di seluruh dunia".

Al-Azhar dianggap sebagai lembaga keagamaan terpenting bagi kalangan Muslim Sunni. Dalam tradisi Islam, penggambaran Nabi Muhammad dalam majalah itu dianggap bentuk pelecehan dan penistaan.

Dalam pernyataannya pada Rabu kemarin, Al-Azhar juga mengutuk serangan teror di kantor Charlie Hebdo. Mereka menyatakan Islam membenci setiap tindakan kekerasan.

Ketika dua bersaudara Said dan Cherif Kouachi menyerbu kantor redaksi Charlie Hebdo di timur Paris pada 7 Januari 2015, 12 orang termasuk beberapa kartunis paling terkenal di Prancis tewas.

Sehari kemudian, rekan Cherif, Amedy Coulibaly, membunuh seorang polisi berusia 27 tahun bernama Clarissa Jean-Philippe saat sedang bertugas melakukan pemeriksaan lalu lintas di Montrouge, di luar Paris.

Coulibaly melanjutkan terornya dengan membunuh empat orang pria Yahudi dalam penyanderaan di supermarket Hyper Cacher di Paris pada 9 Januari.

Dia membuat sebuah video yang menjelaskan bahwa tiga serangan itu terkoordinasi dan dilakukan atas nama kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

(ans/ayp)

[Gambas:Video CNN]