Pegulat Iran Dieksekusi Mati Atas Tuduhan Pembunuhan

AFP, CNN Indonesia | Senin, 14/09/2020 10:05 WIB
Pegular Iran, Navid Afkari dieksekusi mati pada Sabtu (13/9) atas tuduhan melakukan aksi pembunuhan. Mantan atlet gulat Iran Navid Afkari dieksekusi mati. (Foto: JUSTIN TALLIS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan pegulat Iran, Navid Afkari dieksekusi mati pada Sabtu (13/9) setelah dinyatakan bersalah atas tuduhan pembunuhan.

Pejabat pengadilan Iran dan pengacara keluarga mengonfirmasi eksekusi mati terhadap mantan pegulat berusia 27 tahun tersebut.

Afkari didakwa membunuh seorang pria yang digambarkan sebagai perwira intelijen selama protes anti-pemerintah pada Agustus 2018 lalu di kota Shiraz.


Ia diadili oleh Pengadilan Revolusi Iran yang secara ideologis menganut garis keras dan pengadilan pidana biasa yang digambarkan menjatuhi vonis tidak adil, tidak jela, dan minim transparansi.

Mahkamah Agung Iran memperkuat vonis dua hukuman mati yang dijatuhi pengadilan karena melakukan pembunuhan dan bertindak melawan Tuhan.

Kantor berita Tasnim seperti dilansir AFP mengabarkan seorang pejabat pengadilan mengatakan eksekusi berjalan sesuai dengan prinsip yuriprudensi Islam setelah keluarga korban menolak untuk memberikan pengampunan.

Sementara itu, dua saudara laki-laki Afkari yang dipenjara dan dipaksa untuk memberikan kesaksian dijatuhi hukuman penjara masing-masing 81 tahun dan 74 cambukan atas tuduhan melakukan aksi pembunuhan serupa.

Kasus Afkari telah menarik perhatian internasional, termasuk asosiasi atlet dunia. Asosiasi menuduh Iran menggunakan Afkari sebagai 'pion' untuk urusan politik dalam negeri, hingga menuntut agar partisipasi Iran dalam Olimpiade gulat dan sepak bola dunia dinilai kembali.

"Dia telah menjadi sasaran yang tidak adil oleh otoritas Iran yang ingin menjadi contoh dari seorang atlet terkenal dengan mengintimidasi orang lain yang mungkin berani menggunakan hak asasi manusia untuk berpartisipasi dalam protes damai," kata serikat atlet dalam sebuah pernyataan seperti dikutip The Independent.

Kecaman serupa juga datang dari Amnesty Internasional yang mengatakan bahwa pihak berwenang Iran memiliki catatan bekerja sama dengan televisi pemerintah untuk memproduksi dan menyiarkan pernyataan paksa Afkari.

"Otoritas Iran memiliki catatan lama bekerja sama dengan televisi pemerintah untuk memproduksi dan menyiarkan pernyataan paksa yang diperoleh dari para korban pelanggaran hak asasi manusia di bawah penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya," tulis Amnesty Internasional.

Amnesty Internasional mengungkapkan Afkari telah menelepon keluarganya secara singkat pad 6 September 2020 ketika ia memberi tahu bahwa dia ditahan dengan perlakuan keras di penjara Shiraz.

(ndn/evn)

[Gambas:Video CNN]