Kebakaran California, Trump Sangkal karena Perubahan Iklim

AFP, CNN Indonesia | Senin, 14/09/2020 19:17 WIB
Donald Trump mendapat serangan dari lawan-lawan politiknya di Pilpres AS karena menyangkal kebakaran hebat di California disebabkan perubahan iklim. Presiden AS Donald Trump. (AFP/JIM WATSON)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wali kota Los Angeles menuding Presiden AS Donald Trump menyangkal bahwa perubahan iklim menyebabkan kebakaran besar di wilayah barat yang menewaskan 35 orang dan membuat puluhan lainnya hilang.

"Ini (kebakaran) merupakan perubahan iklim. Pemerintahan bersembunyi dari kenyataan," ujar wali kota Los Angeles Eric Gracetti, Minggu (13/9) waktu setempat, seperti dikutip dari AFP.

Kamala Harris, politisi Partai Demokrat yang juga calon wakil presiden AS di Pilpres 2020 --notabene lawan politik Trump-- juga menuduhkan hal serupa. Dalam cuitannya ia menyebut Trump terus menyangkal bukti bahwa kebakaran dipicu oleh krisis iklim.


Dalam pidato kampanye di Nevada, Trump menyatakan kebakaran di wilayah barat AS dipicu oleh kegagalan pengelolaan hutan.

"Tolong ingat, ini sangat sederhana, pengelolaan hutan," ujar Trump.

Wali kota Los Angeles menyatakan warganya terhina oleh pernyataan Trump tersebut.

Hal berbeda disampaikan rival Trump dalam pemilihan presiden AS mendatang, Joe Biden. Ia sepakat bahwa perubahan iklim benar adanya dan menjadi salah satu penyebab kebakaran.

Kini lebih dari 30 ribu petugas pemadam diterjunkan. Pemerintah setempat menyatakan angin akan kembali bertiup ke wilayah kering pada Senin (14/9). Penduduk Arcadia dievakuasi karena api sudah bergerak menuju permukiman.

"Masih ada api yang menyala, kabel listrik putus, pohon tumbang, dan beberapa jalan tak bisa dilewati," ujar Sheriff Butte County Kory Honea. Ia pun menyatakan butuh beberapa pekan untuk para pengungsi bisa kembali ke rumah mereka.

Kebakaran hebat melanda sebagian wilayah di bagian barat AS. Negara bagian California menjadi yang terparah dengan lebih dari 3,3 juta hektar wilayah terbakar. Kebakaran juga tercatat telah menghancurkan lebih dari 4.000 bangunan.

(fjr/vws)

[Gambas:Video CNN]