AS Berencana Jual Senjata Berat ke Taiwan

CNN, CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2020 19:55 WIB
Amerika Serikat disebut akan segera menjual sejumlah paket persenjataan dalam jumlah besar kepada Taiwan. Ilustrasi latihan perang tentara Taiwan. Amerika Serikat disebut akan segera menjual sejumlah paket persenjataan dalam jumlah besar kepada Taiwan. (AFP Photo/Sam Yeh)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat disebut akan segera menjual sejumlah paket persenjataan dalam jumlah besar kepada Taiwan, yang jika disetujui diperkirakan akan memicu reaksi negatif dari China.

Salah satu persenjataan yang akan dilego kepada Taiwan adalah adalah pesawat nirawak (drone).

Melansir CNN, Jumat (18/9), anggota Kongres dan pemerintahan Trump diharapkan segera bersepakat menjual drone dan alat utama sistem persenjataan lainnya ke Taiwan.


Seorang ajudan Kongres mengungkapkan bahwa AS sedang bersiap menjual tujuh paket sistem senjata ke Taiwan. Namun, belum jelas kapan Kongres akan diberitahu oleh pemerintah secara resmi terkait kabar tersebut.

Nilai drone dan peralatan terkait serta dukungan program diperkirakan mencapai USD600 juta atau Rp8,8 triliun. Dua sumber tersebut kemudian mengungkapkan bahwa penjualan senjata ke Taiwan juga termasuk rudal anti kapal.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri AS belum mau mengonfirmasi atau menyanggah kabar tersebut. Dia hanya mengatakan akan berkomentar jika sudah ada pemberitahuan resmi.

"Sesuai kebijakan yang ada, kami tidak mengomentari atau mengkonfirmasi penjualan atau transfer pertahanan yang diusulkan sampai mereka secara resmi diberitahukan kepada Kongres," ucapnya.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) menolak memberi tanggapan soal kabar tersebut hingga saat ini.

AS diketahui telah lama menjalin kerjasama dengan Taiwan itu di bawah ketentuan Undang-Undang Hubungan antar kedua negara yang telah berlangsung selama 40 tahun.

Melihat kemesraan AS-Taiwan belakangan, China sebagai negara yang hingga saat ini mengklaim Taiwan adalah bagian dari negaranya meradang. China menyebut tindakan AS ke Taiwan sebagai pelanggaran kedaulatan.

Pemerintah China memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, meskipun keduanya telah memiliki pemerintahan masing-masing, sejak berakhirnya perang saudara pada 1949.

AS memang acapkali menjual senjata ke Taiwan. Sebelumnya, pemerintahan Trump telah menyetujui beberapa penjualan senjata besar ke Taiwan senilai total lebih dari USD13 miliar atau sekitar Rp191 triliun.

Di dalam kesepakatan itu jual beli senjata termasuk puluhan jet tempur F-16, tank M1A2T Abrams, rudal anti-pesawat Stinger, dan torpedo MK-48 Mod6.

Baru-baru ini China marah karena ada pejabat AS yang akan kembali berkunjung ke Taiwan. Sang pejabat AS itu adalah Wakil Menteri Luar Negeri, Keitch Krach.

"China dengan tegas menentang pertemuan delegasi AS dan Taiwan. Saya ingin menekankan sekali lagi bahwa pertanyaan Taiwan berkaitan dengan kedaulatan dan integritas teritorial China dan menyangkut kepentingan inti China," ucap Jubir Kemlu China, Wang Wenbin, dalam konferensi pers Senin (14/9) lalu.

Wang mengatakan peringatan itu benar-benar serius dan meminta AS untuk mematuhi prinsip satu China, dengan mengakui Taiwan bagian dari China.

"Kami mendesak AS untuk mematuhi prinsip Satu China dan tiga komunike bersama China-AS, dan untuk menghentikan semua bentuk hubungan resmi antara AS dan Taiwan," katanya.

(ndn/ayp)

[Gambas:Video CNN]