Presiden Taiwan Beri Semangat Tentara untuk Hadapi Aksi China

Associated Press, CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2020 23:10 WIB
Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, menyemangati tentara yang berdinas di pangkalan AU Penghu Magong untuk menghadapi militer China. Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen. Dia menyemangati tentara yang berdinas di pangkalan AU Penghu Magong untuk menghadapi militer China. (AP Photo/Chiang Ying-ying)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, mengunjungi pangkalan militer di salah satu pulau terpencil pada Selasa (22/9), untuk memberi semangat para tentara menyusul unjuk kekuatan yang terjadi baru-baru ini oleh militer China.

Melansir Associated Press, Tsai berbicara dengan sekitar seratus pilot Angkatan Udara Taiwan dan para kru di pangkalan Angkatan Udara Penghu Magong. Demi menyambut kedatangannya, dua pilot unjuk kebolehan menggunakan pesawat tempur buatan dalam negeri, Ching-kuo.

Tsai menuturkan Taiwan memiliki "kemampuan" dan "tekad" untuk menjaga wilayahnya.


"Saya tahu (kita) harus menghadapi provokasi Tentara Pembebasan Rakyat di sekitar Taiwan, dan tindakan mereka yang mengganggu perdamaian di daerah, (membuat) tugas setiap orang di garis depan pertahanan udara di Penghu menjadi lebih berat," ujar Tsai.

"Tapi saya berkeyakinan pada setiap individu, bahwa setiap saudara dan saudari angkatan udara kita yang terlatih mampu memikul tanggung jawab yang berat ini," lanjutnya.

Pada Jumat dan Sabtu pekan lalu, Angkatan Udara China menerbangkan 37 pesawat, termasuk jet tempur dan pembom jarak jauh, melintasi Selat Taiwan. China menyebut upaya itu sebagai bentuk peringatan yang disengaja terkait kunjungan utusan tingkat tinggi Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat ke Taiwan.

China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya, dan menolak hubungan langsung antara negara lain dengan Taiwan.

Selain itu, China dilaporkan meningkatkan tekanan diplomatik dan militer terhadap pemerintahan Tsai atas penolakannya menyetujui desakan China untuk mengakui Taiwan sebagai bagian dari China.

Sebagian besar warga Taiwan menolak rencana penyatuan politik dengan China, di bawah kerangka "satu negara, dua sistem" seperti yang berlaku di Hong Kong.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan Taiwan, angkatan bersenjata China memiliki keunggulan dari segi jumlah.

Akan tetapi, pasukan dengan bekal senjata berteknologi tinggi dalam jumlah kecil tetapi terlatih seperti di Taiwan mendapat dukungan kuat dari AS, yang tak lain adalah sekutu utama negara itu.

(ans/ayp)

[Gambas:Video CNN]