WNI Tawanan Abu Sayyaf Tewas, RI Koordinasi dengan Filipina

CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 12:05 WIB
Kementerian Luar Negeri akan berkoordinasi dengan Filipina mengenai nasib empat WNI tawanan Abu Sayyaf menyusul kematian satu warga Indonesia. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. (Dok. Kemenlu)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Luar Negeri akan berkoordinasi dengan Filipina mengenai nasib empat WNI tawanan Abu Sayyaf menyusul kematian satu warga Indonesia.  

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan otoritas Filipina terkait empat WNI lainnya yang kini menjadi tawanan Abu Sayyaf.

"Kita akan terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan otoritas Filipina mengenai nasib 4 sandera lainnya," ucap dia dalam press briefing virtual, Rabu (30/9).


Retno tidak menjelaskan secara rinci apakah WNI tawanan kelompok tersebut akan segera dipulangkan ke Indonesia. Dia juga tidak memberikan informasi identitas empat tawanan lainnya yang dia sebutkan.

Dia mengungkapkan satu sandera WNI berinisial LB tewas dalam kontak senjata antara aparat keamanan Filipina dengan kelompok Abu Sayyaf.

Baku tembak sendiri kata Retno terjadi pada pukul 8 pagi waktu setempat di Sulu, sebuah provinsi yang dilaporkan menjadi markas kombatan Abu Sayyaf.

Retno mengatakan bahwa kabar duka telah Kemlu sampaikan kepada keluarga korban. Dia atas nama pemerintah juga menyampaikan ucapan belasungkawa atas peristiwa tersebut.

"Atas nama pemerintah mengungkapkan duka cita mendalam atas meninggalnya WNI itu," ujarnya.

LB adalah salah satu awak kapal yang dilaporkan diculik kelompok Abu Sayyaf pada Januari lalu.

Melansir The Strait Times, pada Minggu (19/1), empat pria bersenjata berpakaian serba hitam dilaporkan menyandera lima dari delapan nelayan kapal pukat Malaysia.

Mereka tengah mencari ikan di dekat perbatasan laut Filipina sekitar pukul 20.00 malam waktu setempat.

Para anak buah kapal yang diculik terdiri dari sang kapten, Arsyad Dahlan (41), La Baa (32), Riswanto Hayono (27), Edi Lawalopo (53), dan Syarizal Kastamiran (29).

Kelima nelayan itu berasal dari Indonesia yang bekerja pada perusahaan perikanan berbasis di Sandakan, Malaysia.

Komando Keamanan Sabah Timur (Esscom), Komandan Hazani Ghazali, menuturkan bahwa pria bersenjata itu berada di kapal cepat atau speedboat saat mendekati para nelayan.

Para penyandera dikabarkan langsung melarikan diri ke perairan Filipina sambil membawa lima sandera tersebut.

Kabar penculikan kelima nelayan Indonesia ini didapat Esscom dari laporan nelayan setempat.

Para nelayan lokal menuturkan mereka melihat jaring ikan di lokasi penculikan tetapi tidak dapat menemukan pukat atau kru kapal di sekitar Tambisan.

(ndn/dea)

[Gambas:Video CNN]