WNI: Indikasi Perang Armenia-Azerbaijan Sejak 15 September

CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 19:35 WIB
Seorang WNI di Azerbaijan mengatakan indikasi perang dengan Armenia telah terlihat sejak 15 September ketika banyak bendera Turki terpasang di sepanjang jalan. Kerusakan akibat perang Armenia-Azerbaijan. (Foto: AFP/VAHRAM BAGHDASARYAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Konflik antara Armenia dan Azerbaijan hingga kini telah memasuki hari keempat sejak pecah pada Senin (28/9) dini hari. Hingga kini belum ada indikasi perang akan berakhir lantaran kedua pihak menolak usulan damai yang diserukan banyak pihak.

Kholidah Tamami, WNI yang saat ini berada di Azerbaijan mengatakan indikasi perang antara kedua negaranya sebenarnya telah terlihat sejak 15 September lalu.

WNI yang kini tengah menempuh pendidikan Strata 3 di Baku State University, ibu kota Baku ini mengatakan indikasi itu terlihat ketika banyak bendera Turki terpasang di sepanjang jalan. Kala itu ia tengah melintasi jalan Zahid Xalilov.


"Banyak bendera Turki terpasang menandakan akan ada sebuah peristiwa penting. Dan ternyata (justru terjadi) peristiwa genting (perang)," kisahnya ketika kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat.

Perempuan yang baru tiba di Azerbaijan pada 18 September 2019 ini mengatakan jika kediamannya di Badamdar memang jauh dari wilayah terjadinya perang, Nagorno-Karabakh yang hingga kini masih menjadi sengketa dengan Armenia.

Baik Armenia maupun Azerbaijan hingga kini saling tuding sebagai pemicu terjadinya perang. Kedua pihak memiliki versinya masing-masing terkait pemicu konflik.

"Dalam berita yang saya pantau di siaran lokal, Azerbaijan melakukan penyerangan akibat Armenia melakukan penyerangan terhadap peralatan perang Azerbaijan," kata perempuan yang kerap disapa Olie ini.

"Sedangkan apa yang dilakukan Azerbaijan adalah (melakukan) serangan balasan, namun itu terjadi di wilayah Azerbaijan. Mengingat secara hukum internasional, Nagorno-Karabakh adalah wilayah Azerbaijan," lanjutnya.

Perang yang terjadi tak ayal membuat warga setempat terkejut dan merasa kian khawatir. Belum lagi, situasi negara yang belum sepenuhnya pulih pasca transisi lockdown virus corona.

A man speaks with his child, wounded during shelling, in Stepanakert, the self-proclaimed Republic of Nagorno-Karabakh, Azerbaijan, Monday, Sept. 28, 2020. Fighting between Armenian and Azerbaijani forces over the disputed separatist region of Nagorno-Karabakh continued on Monday morning after erupting the day before, with both sides blaming each other for resuming the attacks. (Areg Balayan/PAN Photo via AP)Warga sipil menjadi korban perang Armenia-Azerbaijan. (Foto: AP/Areg Balayan)

Jam malam hingga pembatasan sinyal

Selama terjadinya perang, pemerintah Azerbaijan juga telah memberlakukan jam malam mulai pukul 21.00 malam hingga 06.00 pagi.

Pemerintah mulai membatasi akses komunikasi, termasuk penggunaan sinyal seluler dan media sosial. Serangkaian pembatasan dalam menyikapi situasi darurat diklaim dilakukan pemerintah Azerbaijan untuk keselamatan warga sipil.

Pembatasan akses media sosial diklaim perlu dilakukan demi menghindari aksi provokasi warga.

"Kami hanya bisa mengakses Google dan Skype, selain itu susah sekali. Kalau pun bisa dengan VPN, tapi masih sangat terbatas," terang perempuan asal Banten ini.

Pembatasan akses komunikasi juga berimbas pada aktivitas perkuliahan Olie yang terhambat. Saat ini kampus tempatnya menuntut ilmu memutuskan untuk membatalkan semua kelas perkuliahan.

"Kuliah pun dibatalkan dan sampai sekarang belum ada kabar lagi. Online pun tidak bisa, karena memang akses internet dibatasi," ucapnya.

Dua WNI pulang ke Indonesia

Di tengah suasa genting, Olie mengatakan dua rekannya yang berada di Nakhcivan dari Indonesia memutuskan untuk meninggalkan Azerbaijan.

Kedua mahasiswa tersebut memutuskan untuk pulang ke Indonesia pada Selasa (29/9) melalui perbatasan Azerbaijan-Turki yang berbatasan dengan Iran-Turki.

"Sebenarnya itu wilayah yang lebih dekat dengan wilayah konflik. Tapi karena itu wilayah yang terpisah sama Baku, jadi mereka memutuskan untuk meninggalkan Azerbaijan. Saya doakan mereka yang menuju Turki untuk pulang ke Indonesia, selamat," ucapnya.

Olie mengatakan sejauh ini KBRI di Azerbaijan secara pro aktif memastikan keselamatan WNI di sana.

Perang di wilayah sengketa hingga hari ini masih berlangsung kendati PBB dan negara-negara di dunia menyerukan kedua pihak untuk menghentikan konflik.

[Gambas:Video CNN]

Presiden Azerbaijan Ilkham Aliyev mengatakan kepada saluran TV Rusia, Rossia 1 bahwa negaranya berkomitmen untuk merundingkan resolusi tetapi Armenia menghalangi proses tersebut.

"Perdana Menteri Armenia secara terbuka menyatakan bahwa Karabakh adalah (bagian dari) Armenia, titik. Dalam hal ini, proses negosiasi seperti apa yang dapat kita bicarakan," kata Aliev dilansir dari Associated Press.

Sementara itu, Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan mengatakan sangat sulit untuk berbicara tentang negosiasi ketika operasi militer sedang berlangsung di wilayah tersebut.

Dia meminta Azerbaijan untuk segera mengakhiri agresi terhadap Nagorno-Karabakh dan Armenia. Ia pun menganggap serangan yang dilakukan Azerbaijan
sebagai ancaman eksistensial bagi Armenia.

Pemerintah Armenia mengklaim sebuah pesawat tempur mereka jenis Sukhoi Su-25 ditembak jatuh oleh jet tempur F-16 milik Turki. Namun Turki yang merupakan sekutu Azerbaijan membantah tuduhan itu.

Infografis Perbandingan Militer Armenia-AzerbaijanFoto: CNN Indonesia/Timothy Loen
Infografis Perbandingan Militer Armenia-Azerbaijan

(ans/evn)