Pakistan Bantah Kerahkan Tentara di Perang Armenia-Azerbaijan

Anadolu, CNN Indonesia | Senin, 05/10/2020 13:00 WIB
Pakistan membantah laporan media India yang menyebut jika mereka telah mengerahkan tentara dalam perang Armenia-Azerbaijan. Perang Armenia dan Azerbaijan hingga kini masih memanas. (Foto: AP/Areg Balayan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pakistan membantah laporan media India yang menyebut jika mereka telah mengerahkan tentara untuk bergabung dengan pasukan Azerbaijan menghadapi Armenia di Nagorno-Karabakh.

Kementerian Luar Negeri Pakistan dalam sebuah pernyataan mengatakan jika laporan tersebut 'tidak bertanggung jawab, spekulatif, dan tidak berdasar'. Pakistan juga menegaskan posisinya atas konflik tersebut dan mengatakan prihatin atas eksklasi di wilayah tersebut.

"Penembakan intensif oleh pasukan Armenia terhadap penduduk sipil Azerbaijan sangatlah tercela dan sangat disayangkan. Ini dapat membahayakan perdamaian dan keamanan di seluruh wilayah. Armenia harus menghentikan aksi militernya untuk menghindari eskalasi lebih lanjut," tulis pernyataan tersebut seperti dilaporkan kantor berita Anadolu.


"Pakistan mendukung posisi Azerbaijan di Nagorno-Karabakh yang sejalan dengan beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB yang diadopsi dengan suara bulat."

Sejumlah media India pada Selasa (29/9) pekan lalu melaporkan bahwa tentara Pakistan turut dikerahkan untuk bergabung bersama pasukan Azerbaijan untuk menghadapi agresi Armenia.

Bentrokan ataran Armenia dan Azerbaijan pecah pada Minggu (27/9) pekan lalu ketika pasukan Armenia menargetkan pemukiman sipil Azerbaijan dan posisi militer. Serangan itu menelan korban jiwa dari sisi Azerbaijan.

Hubungan antara dua bekas Republik Soviet itu menjadi tak tentu sejak 1991 ketika militer Armenia menduduki Karabakh atas, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.

Sejumlah pihak, termasuk Amerika Serikat, Rusia, Prancis, dan Jerman mendesak kedua pihak untuk menghentikan bentrokan di sepanjang perbatasan. Turki menyatakan dukungan atas hak Azerbaijan untuk membela diri atas wilayah tersebut.

Empat resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), dua resolusi Majelis Umum PBB, dan banyak organisasi internasional lainnya turut menuntut penarikan pasukan.

Pada 1992, dibentuklah OSCE Minsk Group yang diketuai oleh Prancis, Rusia, dan AS untuk menemukan solusi damai atas konflik tersebut, namun tak berhasil. Namun kedua pihak pada 1994, setuju untuk melakukan gencatan senjata.

(ans/evn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK