Militan Libanon Ingin Ikut Perang Armenia-Azerbaijan

CNN Indonesia | Sabtu, 10/10/2020 01:05 WIB
Militan Libanon dilaporkan ingin ikut ambil bagian dalam perang Armenia dan Azerbaijan. Mereka adalah orang-orang etnis Armenia yang kini tinggal di sana.
 Konflik perbatasan Armenia-Azerbaijan kembali pecah. (AP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Militan Libanon dilaporkan ingin ikut ambil bagian dalam perang Armenia dan Azerbaijan. Mereka adalah orang-orang etnis Armenia yang kini tinggal di sana.


Raffi Ghazarian adalah salah satunya. Selama dua pekan terakhir ia melihat berbagai informasi dari televisi. Dia menonton berita tentang pertempuran antara pasukan Armenia dan Azerbaijan.

Melansir Associated Press, jika hal tersebut terus berlanjut, pria Libanon keturunan Armenia berusia 50 tahun itu mengaku siap meninggalkan segalanya dan menjadi sukarelawan untuk mempertahankan tanah leluhur.


Warga etnis Armenia lainnya yang kini tinggal di Libanon, Ghazarian menyerukan hal yang sama. Dia mengklaim bahwa penduduk di wilayah itu siap bertempur hingga titik darah penghabisan.

"Kami tidak akan membiarkan apa yang terjadi pada tahun 1915 terjadi lagi. Kami akan bertempur sampai tentara Armenia terakhir," ucapnya.

"Ini bukan perang antara Muslim dan Kristen. Ini adalah perang untuk keberadaan entitas Armenia dan kami siap," ujar dia.

Legislator Libanon dan Kepala Federasi Revolusi Armenia, Hagop Pakradounian mengatakan sukarelawan yang pergi dari Libanon menuju Armenia bertindak sendiri.

"Kami tidak bisa menahan mereka. Mereka (orang) merdeka," kata Pakradounian.

Menurut anggota komunitas, beberapa dari populasi etnis Armenia yang besar di Libanon telah melakukan perjalanan untuk bergabung dalam pertempuran, meski dalam jumlah kecil.

Konflik antara Armenia-Azerbaijan baru-baru ini kembali meletus di wilayah Kaukasus, terjadi di dekat rumah bagi orang-orang Armenia di Libanon.  

Bendera Armenia berwarna merah, biru, dan oranye dikibarkan di balkon, jendela, dan atap gedung di Bourj Hammoud, distrik utama Armenia di Beirut. Grafiti anti-Turki dalam bahasa Inggris dan Armenia menandai dinding di seluruh jalan.

Pertempuran telah berkecamuk sejak 27 September di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh, menyebabkan beberapa ratus orang tewas.

Daerah sengketa itu terletak di Azerbaijan tetapi telah di bawah kendali pasukan etnis Armenia yang didukung oleh negara tetangga Armenia sejak 1994.

Sebagai informasi, menurut pemantau perang Suriah dan tiga aktivis oposisi yang berbasis di Suriah, beberapa waktu lalu Turki telah mengirim ratusan militan oposisi Suriah untuk mendukung sekutunya, Azerbaijan.

Lebanon dan Armenia telah mengirimkan uang dan bantuan serta berkampanye di media untuk mendukung etnis Armenia di daerah tersebut, yang mereka sebut sebagai Artsakh.

Dukungan yang dapat mereka berikan terbatas karena Libanon sendiri saat ini sedang melewati krisis ekonomi yang parah, bank-bank di sana telah memberlakukan kontrol modal yang ketat.

Libanon adalah rumah bagi salah satu komunitas Armenia terbesar di dunia, kebanyakan dari mereka keturunan yang selamat dari genosida 1915 oleh Turki Ottoman.

Diperkirakan 1,5 juta tewas dalam pembantaian, deportasi, dan pengusiran paksa yang dimulai pada tahun 1915 itu.

Pejabat Ottoman kala itu khawatir bahwa orang-orang Kristen Armenia akan berpihak pada Rusia, musuhnya dalam Perang Dunia I. Peristiwa tersebut secara luas dipandang oleh para sejarawan sebagai genosida, namun Turki menyangkalnya.

(ndn/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK