China Dinilai Senang jika Trump Kembali Jadi Presiden AS

CNN Indonesia | Rabu, 21/10/2020 09:43 WIB
China dinilai lebih senang jika Trump kembali terpilih jadi presiden AS. China punya lebih banyak waktu bangkit sebagai kekuatan besar. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. (AP/Susan Walsh)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hubungan China dan Amerika Serikat sedang jatuh di titik terendah sepanjang sejarah. Di bawah kepemimpinan Donald Trump, kedua negara bersitegang atas sejumlah isu.

Trump kerap membuat marah China dengan berbagai kebijakan dan narasinya.

Hubungan sedingin es antara China dan AS sebenarnya sudah terjadi sejak empat dekade lalu. China menyatakan tidak ingin ditarik ke dalam "perang dingin" baru dengan Amerika Serikat.


Lewat narasi 'America First', Trump telah menggambarkan China sebagai ancaman terbesar bagi AS dan demokrasi global.

Namun jika Trump kembali terpilih dalam pilpres 3 November mendatang, hal itu justru sangat menguntungkan bagi China. Karena kepemimpinan AS di bawah Trump dinilai akan menurunkan persaingan negara adidaya tersebut.

Presiden China Xi Jinping diketahui tengah berusaha untuk memperkuat kebangkitan negaranya sebagai negara adidaya.

Pengamat politik dan hubungan internasional Universitas Bucknell Zhu Zhiqun menilai kemenangan Trump justru menjadi keuntungan bagi China.

Zhu menilai kemenangan itu merupakan kesempatan China untuk meningkatkan posisi globalnya sebagai juara di berbagai bidang.

"China memiliki kesempatan untuk meningkatkan posisinya sebagai juara globalisasi, multilateralisme, dan kerja sama internasional," ujar Zhu dilansir dari AFP, Selasa (20/10).

Masa jabatan kedua Trump menurut Zhu bisa memberi China lebih banyak waktu untuk bangkit sebagai kekuatan besar di panggung dunia.

Di saat Trump dihujani kritik atas kepemimpinan AS terutama dalam menangani pandemi virus corona, China malah tampil sebagai pemimpin dunia. Mereka berhasil mempresentasikan negaranya sebagai juara perdagangan bebas dan pemimpin dalam perang melawan perubahan iklim.

Negeri Tirai Bambu bahkan berjanji untuk membagikan vaksin Covid-19 ke negara-negara miskin.

Ahli China dari Harvard Kennedy School Amerika Serikat, Philippe Le Corre setuju bahwa perpanjangan kebijakan 'America First' Trump akan memberikan keuntungan jangka panjang bagi China.

Trump kerap menjadi bahan olok-olokan warga Tiongkok. Kaum nasionalis China secara terbuka bersorak, atau mencemooh Trump.

"Anda dapat membuat Amerika menjadi eksentrik dan dengan demikian membuat dunia membecinya," kata Pemimpin Redaksi Global Times, Hu Xijin, lewat tweet yang ditujukan kepada Trump.

"Anda membantu mempromosikan persatuan di China."

Trump pun dicemooh di media sosial China yang sangat disensor sebagai 'Jianguo', yang berarti "membantu membangun China". Ia tidak diragukan lagi telah menimbulkan penderitaan ekonomi dan politik di China.

"China telah kehilangan banyak sekali dalam rencana perdagangan dan teknologinya," kata analis politik yang berbasis di Beijing, Hua Po.

Januari lalu, AS dan China menandatangani kesepakatan yang membawa gencatan senjata parsial dalam perang dagang.

Kesepakatan itu mewajibkan Beijing untuk mengimpor tambahan $200 miliar atas produk Amerika selama dua tahun, mulai dari mobil hingga mesin dan minyak hingga produk pertanian.

Negeri Paman Sam juga menyasar perusahaan teknologi China dengan menyebutnya sebagai ancaman keamanan.

Salah satunya aplikasi berbagi video TikTok AS yang dimiliki oleh perusahaan induk China Bytedance. Raksasa ponsel Huawei juga termasuk dalam daftar sasaran Trump.

Permusuhan meluas ke pertahanan dan hak asasi manusia, dengan Taiwan, Hong Kong dan perlakuan terhadap minoritas Muslim Uighur China semuanya dikomentari oleh AS.

Tetapi China kemungkinan tidak akan mendapatkan banyak keuntungan jika Trump kalah dari penantangnya Joe Biden.

Menurut pengamat, Beijing khawatir karena Biden kemungkinan akan memperbarui kepemimpinan Amerika di bidang hak asasi manusia, menekan China pada masalah Uighur, Tibet, dan kebebasan di Hong Kong.

"Biden kemungkinan akan lebih tangguh daripada Trump dalam masalah hak asasi manusia di Xinjiang dan Tibet," kata Zhu, dari Universitas Bucknell.

Kemudian pada bidang teknologi,  titik-titik penting dalam persaingan AS-China, tidak jelas seberapa banyak ruang yang dimiliki Gedung Putih bagi Biden untuk bermanuver.

"Biden akan mewarisi tarif, dan saya ragu dia akan menaikkannya secara sepihak," kata Direktur Proyek Tenaga China di Pusat Kajian Strategis dan Internasional, Bonnie Glaser.

Bonie lebih lanjut mengatakan bahwa China mungkin harus mengakui tuntutan AS lainnya jika ingin kebijakan tarif dicabut.

China juga harus mengajukan argumen yang meyakinkan tentang keamanan data jika ingin menghindari larangan yang lebih merusak pada perusahaan teknologinya.

Trump dan Biden saat ini tengah berjuang memperebutkan kursi panas orang nomor satu di AS. Beberapa polling yang diadakan kerap mengungkapkan bahwa Biden yang akan keluar sebagai pemenang.

Trump semakin terpuruk karena dia sempat absen dari kampanye karena terinfeksi virus corona. Alih-alih melakukan perawatan, Trump bersikeras untuk segera kembali,

Pilpres AS akan segera mencapai puncaknya, debat antara dua calon itu akan dihelat kembali pada 22 Oktober mendatang. Debat akan berlangsung di Tennessee.

(ndn/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK