Korsel Tetap Berupaya Dekati Korut soal Penembakan Pejabat

CNN Indonesia | Jumat, 23/10/2020 18:21 WIB
Korsel berjanji terus mengupayakan dialog dengan Korut untuk mencari tahu kronologi pejabat Korsel yang ditembak mati di perairan Korut bulan lalu. Pos jaga di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. (AP/Ahn Young-joon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Penyatuan Korea Selatan, Lee In-young, mengatakan akan terus mengupayakan dialog dengan Korea Utara untuk mencari tahu penyebab kematian pejabat Korsel yang ditembak mati di perairan Korut pada September lalu.

Lee membuat pernyataan tersebut dalam sesi audit parlemen.

"Kami harus menemukan metode untuk menyelesaikan masalah dengan lancar melalui dialog," kata Lee seperti dilansir kantor berita Korsel, Yonhap News Agency, Jumat (23/10).


Korsel telah menyerukan penyelidikan bersama dengan Korut atas insiden itu, tapi Pyongyang belum juga menanggapi. Saat ini, Seoul sedang mencari mayat pejabat tersebut yang masih dinyatakan hilang.

"Ini adalah sesuatu yang kami tidak akan pernah menyerah, untuk mengambil tubuhnya dan membawanya kembali ke keluarganya," tambah Lee.

Pada 22 September lalu, seorang pejabat Korsel ditembak mati oleh militer Korut ketika sedang terapung-apung di perairan Korut. Sebelumnya, Korsel mengklaim bahwa tentara Korut menembak pejabat itu hingga tewas dan membakar tubuhnya.

Korut segera meminta maaf atas insiden tersebut, tapi juga membantah telah membakar jasad korban. Pihaknya mengklaim bahwa benda-benda yang dibakar oleh tentara mereka adalah barang-barang si pejabat sementara jenazahnya hilang.

Di sisi lain, Lee menyatakan tidak memihak kepada salah satu kandidat pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini, dan berharap negaranya tetap mempertahankan kerja sama dengan Negeri Paman Sam.

"Kami akan tetap siap menanggapi situasi apa pun terlepas dari hasil pemilu di November mendatang," ucap Lee.

Menurut Lee, calon presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden, diperkirakan belum tentu kembali pada kebijakan "kesabaran strategis" terhadap Korut yang diterapkan di masa pemerintahan Presiden Barack Obama.

"Jika Biden memenangkan pemilu, ada kemungkinan pemerintahan baru akan menjadi 'masa jabatan ketiga Clinton' daripada 'masa jabatan ketiga Obama'," kata Lee.

Lee merujuk pada kebijakan mantan Presiden Bill Clinton yang menempatkan Korut sebagai lawan daripada pendekatan "kesabaran strategis" pemerintahan Obama.

Pendekatan kesabaran strategis (strategic patience) berpusat pada menunggu Korut kembali ke meja perundingan sambil tetap menjaga sanksi dan tekanan.

(ans/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK