Warga Selandia Baru Dukung Euthanasia, Ragu soal Ganja

CNN Indonesia | Sabtu, 31/10/2020 00:55 WIB
Penduduk Selandia Baru memilih mendukung praktik suntik mati (euthanasia) dan belum menyetujui legalisasi ganja dalam jajak pendapat. Ilustrasi referendum euthanasia dan legalisasi ganja di Selandia Baru. (AP/Mark Baker)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penduduk Selandia Baru memilih mendukung praktik suntik mati (euthanasia) dan belum menyetujui legalisasi ganja dalam hasil jajak pendapat yang dipaparkan pada Jumat (30/10).

Seperti dilansir Associated Press, sebanyak 65 persen penduduk Negeri Kiwi mendukung pengesahan Rancangan Undang-Undang untuk Mengakhiri Hidup yang mengatur tentang praktik euthanasia. Sedangkan yang menolak mencapai 35 persen.

Jika disetujui, maka RUU itu akan mulai berlaku pada November 2021. Isinya mencakup tentang praktik mengakhiri hidup dengan panduan ahli.


Mereka yang boleh melakukannya hanya orang dewasa yang dinilai sekarat dan harapan hidupnya diperkirakan hanya tinggal enam bulan.

Negara lain yang mengizinkan euthanasia adalah Belanda, Belgia, Kanada, Kolombia dan Luksemburg.

Sedangkan untuk legalisasi ganja untuk keperluan rekreasi, sebanyak 53 persen penduduk menentang dan 46 persen mendukung. Meski begitu masih ada kemungkinan legalisasi ganja bisa diloloskan jika suara para pemilih khusus dihitung pada pekan depan.

Dua hal itu dinilai menjadi tolak ukur penting bagi perubahan pandangan di tengah masyarakat Selandia Baru. Namun, kedua hal itu tertutup oleh gencarnya penanganan pandemi virus corona dan pemilihan umum yang belum lama ini digelar.

Di usulan legalisasi ganja, penduduk Selandia Baru dibolehkan membeli ganja sebanyak 14 setiap hari, serta diizinkan menanam dua pohon ganja.

Jika meraih suara mayoritas, maka parlemen harus menyusun RUU Legalisasi Ganja. Saat ini negara yang mengizinkan penggunaan ganja untuk rekreasi adalah Afrika Selatan, Georgia, Kanada, Uruguay dan sejumlah negara bagian di Amerika Serikat.

Kelompok pendukung legalisasi ganja sampai saat ini dilaporkan frustrasi karena Jacinda Ardern dari Partai Buruh yang kembali terpilih sampai saat ini belum menunjukkan sikap apakah mendukung atau tidak. Sebab, mereka beranggapan jika Ardern mendukung maka akan memperkuat posisi mereka.

Akan tetapi, Ardern memilih menyerahkan hal itu kepada penduduk Selandia Baru.

Kelompok oposisi dari Partai Nasional malah senang dengan hasil jajak pendapat mengenai legalisasi ganja.

"Ini adalah kemenangan nilai-nilai umum. Penelitian mengungkapkan bahwa penggunaan ganja berpotensi menyebabkan gangguan kejiwaan, menurunkan semangat dan prestasi belajar, serta meningkatkan kematian akibat kecelakaan dan di tempat kerja. Penduduk Selandia Baru berhak menentukan apakah akan menyetujui legalisasi ganja untuk rekreasi, atau malah menyebabkan kerugian," kata politikus Partai Nasional, Nick Smith.

Sedangkan menurut politikus Partai Hijau, Chloe Swarbrick, dia sudah bisa menduga bahwa hasil referendum terkait legalisasi ganja bakal tidak terlampau jauh.

"Kami sudah menduga bahwa jumlah pemilih akan turun. Kami juga sudah mempunyai catatan soal pemilih khusus, jadi kami tetap yakin. Dialog tentang aturan narkoba di Selandia Baru sudah sangat dewasa dan berkembang, dan kami berkembang sangat cepat dalam tiga tahun terakhir," kata Swarbrick.

(ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK