Pendeta Ditembak di Prancis, Tersangka Ditahan

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 01/11/2020 05:25 WIB
Seorang pendeta menjadi korban penyerangan dengan tembakan di Prancis, otoritas setempat mengaku telah menahan pelaku. Ilustrasi. Seorang pendeta dari gereja Ortodoks di Prancis jadi korban penembakan hingga kritis. (AFP/LUDOVIC MARIN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang pendeta Ortodoks Yunani mengalami luka-luka setelah ditembak penyerang misterius di kota Lyon, Prancis.

Nikolaos Kakavelaki (52), diserang saat ia tengah menutup gerejanya pada Sabtu (31/10). Kini ia dalam kondisi kritis di rumah sakit, kata sumber polisi, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Pastor itu ditembak dua kali di dada dari jarak dekat, menurut sumber yang dekat dengan penyelidikan.


Para saksi mendengar suara tembakan itu kemudian "melihat seseorang melarikan diri dan menemukan seorang pria dengan luka tembak di pintu belakang gereja," kata kantor kejaksaan Lyon dalam sebuah pernyataan.

Penyerang melarikan diri dari tempat kejadian. Tetapi jaksa penuntut umum Lyon Nicolas Jacquet mengumumkan bahwa seorang tersangka telah ditangkap.

"Seseorang yang bisa sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh saksi awal telah ditempatkan dalam tahanan polisi," kata Jacquet, seraya menambahkan bahwa tersangka tidak membawa senjata saat ditangkap, seperti dilaporkan AFP.

Hingga saat ini, masih belum jelas motif serangan itu. Namun, serangan ini menambah panjang deretan tragedi yang terjadi di negara itu. Sebelumnya, tiga warga di dalam sebuah gereja dibunuh. Selain itu, seorang guru yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas pun dipenggal kepalanya.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut telah mengerahkan petugas keamanan dan darurat di sekitar lokasi kejadian. Mereka juga memperingatkan orang-orang untuk "menghindari daerah" tempat serangan terjadi.

Menanggapi serangan ini, Presiden Parlemen Uni Eropa David Sassoli mengatakan bahwa "Eropa tidak akan pernah tunduk pada kekerasan dan terorisme".

Majelis Uskup Ortodoks di Prancis (AEOF) mengatakan pihaknya "mengutuk tindakan kekerasan yang mengancam kehidupan dan menyebarkan iklim ketidakamanan umum".

Gereja Ortodoks kecil terletak di daerah pemukiman Lyon yang sangat sepi. Sebab, saat ini pemerintah Prancis kembali menerapkan lockdown kedua pada Jumat, untuk membendung penularan virus corona yang kembali meningkat.

Pekan ini, Prancis kembali riuh setelah mingguan majalah satir Charlie Hebdo menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad pada awal September. Akibatnya, terjadi serangan di luar kantor majalah itu, pemenggalan kepala guru, dan serangan kepada tiga orang di Nice.

Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian telah memperingatkan bahwa warga Prancis menghadapi risiko keamanan "di mana pun mereka berada". Pihaknya juga telah mengirimkan peringatan kepada semua warga negara Prancis di luar negeri.

Prancis dalam kondisi siaga tinggi sejak pembantaian Januari 2015 di Charlie Hebdo oleh gelombang serangan jihadis yang telah menewaskan lebih dari 250 orang.

Ketegangan kembali meningkat sejak bulan lalu, ketika persidangan dibuka untuk 14 tersangka antek dalam serangan itu.

(eks/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK