Legalkan Kumpul Kebo hingga Miras dan Upaya UEA Gaet Investor

CNN Indonesia | Selasa, 24/11/2020 16:15 WIB
Uni Emirat Arab mutuskan melonggarkan syariat Islam yang telah diterapkan bertahun-tahun, memodernisasi negara mempromosikan citra Islam yang progresif. Ilustrasi tempat wisata di Dubai, Uni Emirat Arab. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Jakarta, CNN Indonesia --

Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan melonggarkan syariat Islam yang telah diterapkan bertahun-tahun. Lewat cara itu mereka ingin memodernisasi negara sekaligus mempromosikan citra Islam yang progresif.

Negara Teluk kaya minyak itu mengumumkan telah mendekriminalisasi alkohol dan bunuh diri pada 7 November. Negara juga menjatuhkan hukuman berat terhadap pelaku pembunuhan demi kehormatan (honor killing) yang mayoritas menimpa perempuan.

Hal ini dilakukan pemerintah UEA menjelang menjadi tuan rumah pameran bertajukWorld Expo. Kegiatan itu bertujuan menarik pemodal dan mendatangkan sekitar 25 juta pengunjung ke negara itu, setelah diundur satu tahun akibat pandemi virus corona.


Dilansir AFP, proyek modernisasi UEA juga datang ketika pemerintahan baru presiden Amerika Serikat terpilih, Joe Biden bersiap menggantikan Presiden Donald Trump yang telah menjalin hubungan dekat dengan pemerintah Teluk.

Dalam beberapa tahun terakhir, UEA telah mengadopsi pendekatan yang semakin liberal guna menarik semakin banyak ekspatriat dan mempertahankan yang sudah menetap di sana.

Ketika ekonomi UEA berkontraksi pada 2020 akibat efek Covid-19 dan penurunan harga minyak, mereka berusaha menarik ekspatriat dengan meluncurkan program pensiun dan memudahkan jalan menuju naturalisasi.

"Dekrit itu bertujuan untuk memperkuat kepatuhan UEA terhadap pentingnya menciptakan lingkungan hukum yang sesuai dengan keanekaragaman budaya. Negara berkomitmen untuk membangun lingkungan sosial dan ekonomi yang kompetitif dan aman," tulis kantor berita negara, Emirates News Agency (WAM), seperti dilansir dari CNN.

Dilansir The Indian Express, berikut beberapa reformasi aturan yang diterapkan oleh UEA:

Menghukum pelaku honor killing

Sebelumnya, di bawah "kejahatan demi kehormatan (honour crimes)" laki-laki dapat menghindari penuntutan atau mendapat hukum yang lebih ringan karena menyerang perempuan yang konon dianggap membawa "aib" kepada keluarga. Perbuatan yang dianggap aib meliputi tidak mematuhi kitab suci agama atau terjun dalam pergaulan bebas.

Tapi di bawah reformasi aturan baru, kini para pelaku bisa diseret ke pengadilan.



UEA juga akan memberikan hukuman yang lebih ketat bagi pria yang menjadikan perempuan sebagai sasaran pelecehan, termasuk penguntitan dan pelecehan di jalan. Reformasi tersebut juga mengakui pria sebagai korban pelecehan atau penguntitan.

Selain itu, pemerkosaan anak di bawah umur atau seseorang "dengan kapasitas mental terbatas" akan dihukum dengan eksekusi.

Konsumsi alkohol

UEA juga telah mendekriminalisasi konsumsi alkohol bagi orang-orang berusia di atas 21 tahun dan menghapus hukuman atas kepemilikan atau menjual minuman beralkohol tanpa izin di wilayah resmi.

Sesuai laporan Associated Press, umat Islam yang dilarang minum minuman beralkohol kini akan mendapatkan izin tersebut.

Meski demikian, orang-orang dengan usia di bawah umur tidak diperkenankan mengonsumsi alkohol dan tetap akan dihukum.

Kohabitasi atau kumpul kebo

Sebelumnya, pasangan yang belum menikah dianggap ilegal untuk tinggal serumah. Tapi di bawah aturan baru, kohabitasi pasangan yang belum menikah telah disahkan untuk pertama kalinya.


Meskipun penuntutan hukum atas kategori ini jarang terjadi, dekriminalisasi ini dimaksudkan untuk menarik lebih banyak orang pindah ke UEA.

Bunuh diri

UEA juga telah mendekriminalisasi bunuh diri dan percobaan bunuh diri. Sebelumnya, orang yang selamat dari upaya bunuh diri bisa diadili. Namun pelanggaran ini sekarang telah dihapus.

Kendati demikian, membantu seseorang dalam upaya bunuh diri tetap merupakan kejahatan dan dapat dijatuhi hukuman penjara yang tidak ditentukan.

Meski dalam beberapa tahun terakhir UEA jarang memberlakukan aturan konservatif sosialnya, namun kemungkinan dihukum karena berperilaku liberal secara sosial masih membayangi benak penduduk UEA. Sehingga, formalisasi reformasi syariat Islam telah melegakan banyak penduduk yang liberal secara sosial.

Namun belum jelas bagaimana reformasi itu akan berdampak pada kaum LGBTQ di UEA, di mana homoseksualitas biasanya dikriminalisasi oleh undang-undang dan dapat dihukum satu tahun penjara.

Segala upaya pelonggaran aturan tersebut juga muncul pasca momentum kesepakatan Abraham Accords yang disahkan pada 15 September lalu yang ditengahi oleh Amerika Serikat. UEA berpisah dengan Prakarsa Perdamaian Arab 2002 dengan menormalisasi hubungan dengan Israel.

Dua bulan kemudian, UEA secara resmi mengumumkan bahwa mereka berencana menjadi negara mayoritas Muslim yang liberal secara sosial.

Kendati demikian, tampaknya UEA tidak memiliki kecenderungan menuju ke arah demokratisasi dan tidak berniat berbasa-basi pada gagasan itu.

Dalam beberapa hal, jalur yang ditempuh UEA mirip dengan Arab Saudi, di mana penguasa de facto kerajaan Saudi Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) menepis perbedaan pendapat dengan keras sambil lalu mengantarkan negaranya menuju reformasi sosial dan ekonomi.

Bahkan, ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron menerima kecaman dari negara-negara Muslim dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggaungkan pemboikotan terhadap produk buatan Prancis, UEA berada di pihak Macron.

Dalam wawancara dengan surat kabar Jerman, Die Welt, Menteri Luar Negeri UEA Anwar Gargash menuduh Erdogan memanipulasi "masalah agama" dan mengatakan bahwa pernyataan Macron telah disalahpahami.

(ans/dea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK