1.500 Karyawan Kena Corona, Top Glove Tutup Sebagian Pabrik

CNN Indonesia | Rabu, 25/11/2020 15:07 WIB
Produsen sarung tangan terbesar di dunia, Top Glove, di Malaysia akan menutup lebih dari setengah pabrik setelah 1.511 karyawan positif corona. Pabrik sarung tangan terbesar di dunia, Top Glove di Malaysia. (AP/Vincent Thian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Produsen sarung tangan terbesar di dunia, Top Glove, di Malaysia akan menutup lebih dari setengah pabrik setelah 1.511 karyawan terinfeksi virus corona, Selasa (24/11).

Dilansir AFP, Top Glove menemukan sekelompok wabah Covid-19 yang di antaranya banyak berasal dari pekerja migran bergaji rendah.

Departemen Tenaga Kerja Malaysia telah diinstruksikan untuk fokus terhadap penyelidikan kondisi kerja dan perumahan di pabrik Top Glove.

Menurut Kementerian Kesehatan, klaster di sekitar pabrik dan area asrama perusahaan di kota Meru telah menyumbang 1.511 dari 1.623 kasus yang tercatat di negara bagian Selangor pada Selasa.


Dilansir Straits Times, Menteri Sumber Daya Manusia M. Saravanan mengatakan Dewan Keamanan Nasional (NSC) memutuskan untuk berupaya menghentikan penyebaran virus corona di Top Glove.

"Kami tidak hanya mengirimkan tim untuk memeriksa kondisi di Top Glove, melainkan juga (mengirim) seluruh Departemen Tenaga Kerja. Kami akan menyelesaikan semuanya dalam sepekan dan akan memasukkan semuanya dalam warna hitam dan putih," ujarnya.

Saranavan telah mengunjungi pabrik Top Glove beberapa hari sebelumnya bersama petugas Departemen Tenaga Kerja. Dia mengatakan kondisi perumahan para pekerja sangat menyedihkan.

"Saya telah mengunjungi hostel dan kondisinya sangat buruk. Petugas saya diperintahkan untuk pergi karena ini adalah koloni pekerja migran yang besar dan rentan. Jika kita tidak bertindak, klaster ini mungkin akan lepas kendali. Departemen Tenaga Kerja akan memastikan majikan bertanggung jawab atas kondisi pekerja dan tindakan sungguh-sungguh akan diambil sesuai hukum," kata Saranavan.



Pada Juli lalu, dua anak perusahaan Top Glove terkena larangan impor oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) AS atas tuduhan kerja paksa.

Selama pandemi, Top Glove menerima lonjakan pembelian besar sehingga meningkatkan laba dan harga sahamnya, mengingat negara-negara di dunia terus berlomba-lomba membeli peralatan pelindung medis.

Dalam pernyataannya, Top Glove mengatakan pihaknya bekerja sama dengan pihak berwenang untuk memerangi pandemi.

"Top Glove ingin meyakinkan pelanggan kami bahwa kami bekerja sama dengan pihak berwenang selama periode ini untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan yang berkelanjutan dari karyawan kami dan komunitas lokal, yang tetap menjadi prioritas utama kami," bunyi pernyataan itu.

Pihaknya menambahkan akan terus mematuhi aturan pencegahan Covid-19 secara ketat.

"Disinfeksi di tempat dan akomodasi kami juga dilakukan secara teratur, dengan semua tindakan pencegahan yang diperlukan diterapkan secara ketat," bunyi pernyataan itu lebih lanjut.

Perusahaan itu menuturkan sekitar 5.700 pekerja telah di-screening dan sisanya juga akan menjalani tes Covid-19.

Top Glove saat ini mempekerjakan lebih dari 21 ribu pekerja di seluruh negeri dan mengoperasikan 47 pabrik. Para pekerjanya banyak berasal dari Nepal dan tinggal di kompleks asrama yang padat.

Dalam setahun, Top Glove dapat memproduksi lebih dari 70 miliar sarung tangan dan menjadi pemasok global utama.


Pada 23 November, NSC memutuskan Top Glove harus menutup pabriknya secara bertahap setelah Covid-19 mewabah di lingkaran pekerjanya.

Klaster tersebut pertama kali muncul pada 7 November dan sekarang memiliki 4.036 kasus. Dari total tersebut, lebih dari 80 persen adalah pekerja asing.

Kota Meru yang dulunya sibuk dan penuh sesak, di mana beberapa unit pabrik Top Glove berada, sekarang seperti kota hantu.

(ans/dea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK