Ulama UEA Ikuti Jejak Saudi Cap Ikhwanul Muslimin Teroris

CNN Indonesia | Kamis, 26/11/2020 19:05 WIB
Majelis Fatwa UEA mengikuti jejak cendekiawan Arab Saudi dengan menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris. Ilustrasi bendera Uni Emirat Arab. (iStockphoto/frantic00)
Jakarta, CNN Indonesia --

Majelis Fatwa Uni Emirat Arab (UEA) mengikuti jejak cendekiawan Arab Saudi dengan menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.

Majelis Cendekiawan Arab Saudi pada awal November juga menyatakan hal yang sama.

"Majelis Fatwa UEA menyatakan dukungan penuh terhadap pernyataan Majelis Cendekiawan Saudi yang memperkuat keputusan pemerintah UEA dan Arab Saudi, yang menyatakan Ikhwanul Muslimin adalah organisasi teroris karena mendukung kelompok yang menggunakan kekerasan, bersengketa dengan pemimpin dan tidak patuh," demikian isi pernyataan itu seperti dilaporkan kantor berita UEA, WAM, dan dikutip Middle East Eye, Kamis (26/11).


Keputusan Majelis Fatwa UEA disampaikan dalam rapat virtual, yang dipimpin ulama asal Mauritania, Syekh Abdullah bin Bayyah, yang juga ketua lembaga itu.

Lembaga itu berdiri sejak 2018 dan bertanggung jawab menerbitkan fatwa.

Dalam mengambil keputusannya, Majelis Fatwa UEA juga menyitir ayat Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad S.A.W.

"Tidak diperbolehkan bersumpah setia terhadap orang lain di samping pemimpin negara atau 'Amir bayangan'," lanjut pernyataan Majelis Fatwa UEA.

Pemerintah Arab Saudi, Mesir, UEA dan Bahrain menolak aktivitas dan kehadiran Ikhwanul Muslimin.

Organisasi itu didirikan Hasan al-Banna pada 1928 di Mesir.

Pada 12 November lalu, Ikatan Cendekiawan Arab Saudi menyatakan gerakan dan organisasi Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris.

Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi lebih dulu menyatakan hal serupa pada Maret 2014 silam.

Mereka juga menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah organisasi sesat yang tidak menaati penguasa yang sah, memicu perselisihan, menyembunyikan perbuatan kotor di bawah kedok agama, dan mempraktikkan kekerasan dan terorisme.

"Ikhwanul Muslimin tidak menunjukkan ketertarikan untuk mengikuti ajaran Islam atau Sunnah dan hadits, tetapi lebih bertujuan untuk mencapai kekuasaan," lanjut Ikatan Cendekiawan Saudi.

Juru Bicara Ikhwanul Muslimin, Talaat Fahmy, membantah seluruh tuduhan itu.

"Ikhwanul Muslimin jauh dari tindak kekerasan, terorisme dan penyebaran perpecahan di antara komponen bangsa. Kelompok yang sama sekali jauh dari tindak kekerasan dan terorisme, (malah) selalu menjadi korban kekerasan dan teror kediktatoran," kata Fahmy.

(Middle East Eye/ayp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK