Studi Terbaru Sebut Corona Ada di AS Sebelum Mewabah di China

CNN Indonesia | Kamis, 03/12/2020 17:00 WIB
Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa virus corona kemungkinan mulai menginfeksi orang-orang di AS pada Desember 2019 sebelum mewabah di China. Ilustrasi pandemi virus corona di Amerika Serikat. (AP/John Minchillo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan pada Senin (30/11) mengungkap bahwa virus corona kemungkinan mulai menginfeksi orang-orang di Amerika Serikat pada Desember 2019, sebelum mewabah di China.

AS pertama kali mengonfirmasi kasus Covid-19 pada Januari dari orang yang baru tiba dari China pada 15 Januari.

Dilansir CNN, Rabu (2/12), para peneliti memeriksa donor darah yang dilakukan pada Desember dan awal Januari.

Dari pemeriksaan itu, mereka menemukan bukti antibodi terhadap virus corona di setidaknya 84 sampel dari sembilan negara bagian.


Dalam artian, temuan itu menunjukkan orang-orang tersebut telah terinfeksi virus corona.

"Temuan ini menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 mungkin telah memasuki AS sebelum 19 Januari 2020," tulis para peneliti di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Palang Merah dalam jurnal Clinical Infectious Diseases.

Para peneliti CDC dan Palang Merah mengatakan penelitian tersebut menunjukkan bahwa donor darah mungkin bisa menjadi sumber informasi penting tentang kapan virus tersebut mulai beredar.


"Temuan ini juga menyoroti nilai donor darah sebagai sumber untuk melakukan pengawasan SARS-CoV-2," tulis mereka dalam laporannya.

SARS-CoV-2 adalah nama ilmiah untuk virus corona penyebab Covid-19.

Direktur Pusat Infeksi dan Imunitas di Universitas Columbia, Ian Lipkin mengatakan banyak orang bertanya-tanya apakah mereka mungkin telah terpapar virus corona di awal pandemi, atau bahkan sebelum orang-orang tahu virus itu telah beredar.

"Kami jelas ingin tahu sudah berapa lama virus ini beredar. Orang-orang mencoba mencari tahu kapan (virus) ini pertama kali muncul di luar China," kata Lipkin.

Menurut dia, sulit untuk mengetahuinya kecuali seseorang melakukan tes Covid-19 pada saat itu, sesuatu yang jelas masih tidak ada. Karena seperti diketahui, gejala Covid-19 mirip dengan banyak infeksi seperti flu yang meliputi batuk, demam, nyeri tubuh, dan mungkin sakit tenggorokan.

Lebih lanjut, ia menuturkan tanpa sampel yang diambil pada saat atau setelah infeksi, tidak mungkin untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi pada saat itu.


"Anda tidak bisa membedakan antara seseorang yang terinfeksi pada Desember atau terinfeksi pada Maret atau April," kata Lipkin kepada CNN.

Selain itu, respons kekebalan seseorang terhadap infeksi virus seperti Covid-19 berubah seiring waktu.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa respons antibodi meningkat tepat setelah infeksi, lalu menyesuaikan ketika berbagai jenis antibodi mengambil alih, dan kemudian kekebalan jangka panjang mulai bekerja.

Tapi hingga kini, belum diketahui berapa lama tubuh manusia dapat mempertahankan respons kekebalan terhadap infeksi virus corona.

(ans/dea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK