500 Ribu Etnis Uighur Dipaksa Jadi Buruh Pemetik Kapas

AP/AFP, CNN Indonesia | Kamis, 17/12/2020 02:40 WIB
Ratusan ribu etnis minoritas Uighur di Xinjiang, China, dilaporkan dipaksa bekerja menjadi buruh pemetik kapas. Ilustrasi etnis Uighur di Xinjiang, China. (GREG BAKER / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ratusan ribu etnis minoritas Uighur di XinjiangChina dilaporkan dipaksa bekerja menjadi buruh pemetik kapas karena aturan yang dibuat pemerintah setempat.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (16/12), menurut laporan lembaga riset asal Amerika Serikat, Center for Global Policy, ada sebanyak 570 ribu etnis Uighur yang dikirim untuk dipaksa bekerja sebagai buruh pemetik kapas dalam skema kerja yang dibuat pemerintah setempat.

Di dalam laporan itu, mereka menyatakan para etnis Uighur yang dipaksa menjadi buruh pemetik kapas diawasi ketat oleh polisi, dan dikirim ke sejumlah perkebunan. Pola manajemen perkebunan kapas itu, menurut laporan mereka, mengadopsi gaya militer.


Para buruh etnis Uighur itu juga harus melalui pelatihan ideologi di lokasi tempat mereka bekerja.

"Jelas bahwa transfer buruh untuk memetik kapas adalah kerja paksa yang berisiko tinggi," tulis peneliti Center for Global Policy, Adrian Zenz, seperti dilansir AFP.

Zenz menelaah dokumen yang diklaim milik pemerintah China tentang kerja paksa etnis Uighur.

"Para etnis minoritas itu mungkin bisa tahan dalam proses itu karena mereka mungkin mendapat keuntungan finansial. Bagaimanapun, sangat tidak mungkin memperkirakan kapan praktik pemaksaan itu berakhir atau para penduduk setempat mulai sadar," lanjut Zenz.

Laporan itu juga mengatakan ada timbal balik ideologis yang kuat untuk menerapkan skema tersebut, karena ada peningkatan pendapatan desa yang memungkinkan para pejabat setempat mencapai target pengentasan kemiskinan yang diamanatkan negara.

Menanggapi laporan itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, menyatakan tidak ada praktik kerja paksa terhadap etnis Uighur.

"Membantu penduduk dari segala suku untuk mendapatkan pekerjaan tetap sangat berbeda dari kerja paksa," kata

Wenbin mengatakan para buruh dari seluruh suku di Xinjiang tidak akan dipinggirkan terkait perbedaan etnis, jenis kelamin atau agama.

Dia juga mengklaim program kerja dan pendidikan yang diterapkan pemerintah China membantu menekan ekstremisme di Xinjiang.

Xinjiang menjadi daerah penghasil kapas, dan memasok 20 persen kapas untuk seluruh dunia. Seperlima jumlah ekspor kapas dari Xinjiang diserap oleh industri tekstil dan konveksi Amerika Serikat.

Pada awal Desember, pemerintah AS melarang impor kapas dari Korps Produksi dan Pembangunan Xinjiang.

Menurut laporan lembaga riset Australian Strategist Policy Institute, sejumlah merek pakaian ternama seperti Adidas, Gap dan Nike disebut menggunakan bahan baku tekstil yang diduga melibatkan warga Uighur yang dipaksa bekerja.

(ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK