Perubahan Aturan Privasi, Erdogan Uninstall WhatApp

CNN Indonesia | Selasa, 12/01/2021 08:35 WIB
Kantor media Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meyatakan berhenti (uninstall) WhatsApp menyusul adanya perubahan privasi yang kontroversial. Kantor media Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan uninstall WhatsApp. (Foto: AFP/ADEM ALTAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kantor media Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan berhenti menggunakan (uninstall) aplikasi pesan instan WhatsApp dan beralih menggunakan aplikasi perpesanan buatan lokal.

Dalam pernyataan resminya, Minggu (10/1) pejabat kepresidenan mengatakan bahwa kantor media akan memberikan pembaruan informasi melalui aplikasi BiP, sebuah unit perusahaan komunikasi Turki Turkcell mulai Senin (11/1).

Keputusan tersebut dilakukan menyusul adanya perubahan kebijakan kontroversial yang dilakukan WhatsApp terhadap data penggunanya.


Kepala Kantor Transformasi Digital Kepresidenan Turki, Ali Taha Koc mengkritik kebijakan baru WhatsApp yang memberikan pengecualian terhadap aturan baru tersebut untuk pengguna di Inggris Raya dan Uni Eropa.

"Perbedaan antara negara anggota Uni Eropa dan lainnya dalam hal privasi data tidak dapat diterima! Seperti yang telah kami kutip dalam Pedoman Keamanan Informasi dan Komunikasi, aplikasi asing menanggung risiko signifikan terhadap keamanan data," tulis Koc dalam cuitannya, Minggu (10/1).

"Itulah mengapa kami perlu melindungi data digital kami dengan perangkat lunak lokal dan nasional dan mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan kami. Jangan lupa bahwa data Turki akan tetap ada di Turki berkat solusi lokal dan nasional."

Mengutip Middle East EyeKoc pun meminta agar pengguna WhatsApp di Turki untuk menggunakan aplikasi lokal seperti BiP dan Dedi.

Perubahan privasi WhatsApp memungkinkan layanan itu berbagi data pengguna dengan perusahaan induk, Facebook serta Instagram dan Messenger yang berlaku mulai 8 Februari. Pengguna dipaksa menyetujui kebijakan baru untuk tetap menggunakan WhatsApp setelah batas waktu tersebut.

Upaya tersebut membuat Facebook bisa memonetisasi WhatsApp dengan mengizinkan bisnis untuk menghubungi klien mereka melalui platform dan menjualn produk kepada pengguna secara langsung.

Pembaruan paksa tersebut memunculkan penolakan oleh pengguna media sosial Twitter lewat kampanye untuk mencopot layanan WhatsApp di Twitter menggunakan tagar #DeletingWhatsApp.

Menurut media Turki yang mengutip Turkcell, kampanye menghapus WhatsApp mendatangkan untung bagi layanan BiP yang mengantongi lebih dari 1,12 juta pengguna baru dalam waktu 24 jam, dengan lebih dari 53 juta pengguna di seluruh dunia.

(evn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK