Curhat WNI di Tengah Lockdown Ketiga Inggris

CNN Indonesia | Selasa, 12/01/2021 18:45 WIB
Sejumlah WNI yang berada di Inggris ikut merasakan penerapan penguncian wilayah (lockdown) ketiga untuk menahan laju infeksi virus corona. Situasi penguncian wilayah (lockdown) ketiga untuk menahan penyebaran virus corona di Inggris. (AFP/OLI SCARFF)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menyusul lonjakan infeksi mutasi baru virus corona di Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson kembali menerapkan penguncian wilayah (lockdown) secara nasional sejak Rabu (6/1) pekan lalu.

Lockdown diperkirakan akan berlaku hingga pertengahan Februari mendatang.

Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini bermukim di London, Fahmi Ardi mengatakan mayoritas warga setempat merasa cemas dan khawatir dengan lonjakan kasus mutasi baru Covid-19 tersebut.


"Sebelumnya warga Inggris sempat optimis ketika ada kabar mengenai vaksin yang saat ini sudah mulai diaplikasikan untuk gelombang prioritas pertama, walau hal ini sempat membuat warga jadi lebih 'nyantai' dalam mengikuti protokol kesehatan sebelum national lockdown diberlakukan kembali," kata Fahmi melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com.

"Namun tingkat penyebaran virus justru malah meningkat tajam semenjak Oktober sampai saat ini ditambah lagi varian baru Covid jauh lebih infectious (menular)," tambahnya.

Menanggapi mutasi baru Covid-19, Fahmi menuturkan dirinya sebisa mungkin mengikuti protokol kesehatan dan berusaha untuk tetap tinggal di rumah.

"Agak khawatir juga dengan varian baru ini karena sumber penyebaran bisa datang dari siapa saja terutama anak-anak dan anak muda yang tidak menunjukkan gejala (asimtomatik)," imbuhnya.

Meski suasana di London tampak lengang karena warga disarankan mengisolasi diri di rumah, tapi Fahmi mengatakan warga tetap diperbolehkan melakukan kegiatan esensial seperti berbelanja kebutuhan sehari-hari di supermarket terdekat.

"(Warga) hanya diperbolehkan keluar rumah untuk menuntaskan kepentingan utama, seperti belanja kebutuhan sehari-hari, olahraga, bekerja apabila tidak memungkinkan bekerja dari rumah dan berobat untuk penyakit-penyakit yang sangat berisiko tinggi," ujar pria lulusan University of Greenwich itu.

Fahmi sendiri mengaku tidak berbelanja secara langsung ke supermarket. Dia lebih mengandalkan jalur daring (online) untuk meminimalisir kekhawatiran penularan covid-19.

Sejak Inggris kembali menerapkan lockdown, Fahmi mengaku cukup kesulitan untuk mendapatkan slot pengiriman barang belanja daring. Bahkan, untuk memasuki situs perbelanjaannya saja, ia harus menunggu secara virtual selama beberapa saat.

Selain itu, restoran di Inggris hanya diperkenankan melayani transaksi secara online.

A pedestrian crosses an almost empty street in Manchester, north west England on January 5, 2021, as Britain enters a national lockdown to combat the spread of COVID-19. - England's six-week lockdown, which began at midnight, emulates the first national coronavirus curbs in place from March to June -- but goes further than another instituted in November when schools remained open. Authorities in Wales, Scotland and Northern Ireland have all taken similar measures, putting the UK as a whole in lockdown. (Photo by Oli SCARFF / AFP)Suasana penguncian wilayah ketiga di Inggris. (AFP/OLI SCARFF)

Di sisi lain, Fahmi mengaku tidak banyak mengalami kendala dalam menghadapi lockdown kali ini, terlebih kantor tempatnya bekerja telah memberlakukan sistem bekerja dari rumah (work from home/WFH) sejak Maret 2020.

Begitu pula mayoritas kantor lainnya turut memberlakukan WFH, kecuali sektor-sektor tertentu seperti perawatan medis, pelayanan visa, dan supermarket.

Meski pemerintah Inggris mengklaim bahwa lockdown kali ini lebih ketat, namun Fahmi mengatakan ia masih menjumpai beberapa aktivitas publik di luar ruangan.

"Ada sedikit perbedaan dengan situasi lockdown pertama, jalan-jalan, dan pusat keramaian yang biasanya dipenuhi orang-orang terlihat sangat kosong saat lockdown dulu. Namun, di lockdown saat ini saya masih sempat melihat beberapa aktivitas warga di luar," kata pria yang bermukim di London selama empat tahun itu.

Kemudian menanggapi sikap pemerintah Inggris terhadap penanganan wabah, Fahmi mengungkapkan bahwa ia masih menjumpai beberapa kelemahan seperti kurangnya penegakan protokol kesehatan dan tidak pastinya informasi protokol kesehatan sebelum kembali memberlakukan lockdown.

Terlepas dari itu, ia yakin bahwa pemerintah Inggris telah melakukan upaya terbaik untuk mengendalikan wabah.

"Saya agak menyayangkan semenjak vaksin disetujui, kasus penyebaran virus malah justru menaik tajam dan lebih buruk lagi dengan munculnya varian baru," kata pria berusia 35 tahun itu.

"Namun demikian, informasi dan imbauan yang disampaikan perdana menteri Inggris saat mengumumkan diberlakukannya national lockdown awal minggu ini sudah sangat jelas dan saya berharap warga mengikuti protokolnya dengan tertib dan baik sampai kasusnya bisa dikendalikan kembali dan vaksin sudah bisa diakses secara umum," jelasnya.

Menyinggung perihal vaksinasi Covid-19, Fahmi menerangkan bahwa Inggris saat ini masih mendahulukan kelompok prioritas untuk menerima dosis vaksin dan diperkirakan akan masih berlangsung hingga pertengahan Februari.

Setelah itu, proses vaksinasi akan dilanjutkan ke tahap gelombang ke-2 untuk warga berusia antara 65-69 tahun dan orang-orang dengan kondisi kesehatan tidak ideal (underlying health condition).

"Sampai saat ini informasi vaksin untuk umum masih belum tersedia," pungkasnya.

(ans/ayp/ayp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK