Tak Terkait Langsung Vaksin, Norwegia Kaji Kematian 33 Lansia

CNN Indonesia | Selasa, 19/01/2021 03:45 WIB
Norwegia mengatakan jika kematian 33 lansia tidak ada hubungannya dengan pemberian vaksin corona Pfizer-BioNTech. Ilustrasi vaksinasi corona. (Foto: AP/Ted S. Warren)
Jakarta, CNN Indonesia --

Norwegia mengatakan jika kematian 33 lansia tidak ada hubungannya dengan pemberian vaksin corona Pfizer-BioNTech. Sekitar 13 kasus yang sejauh ini dianalisis secara rinci menunjukkan jika lansia berusia lanjut dalam kondisi lemah dan mengidap penyakit serius.

Efek samping vaksin umumnya ringan, termasuk merasakan mual dan mengidap demam. Namun efeknya bisa lebih berat bagi pasien yang mengidap penyakit tertentu dan dalam kondisi kesehatan lemah.

Para dokter di Norwegia mengatakan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut atas kematian 23 lansia yang telah disuntikkan vaksin corona. Penelitian berfokus pada adanya reaksi terhadap suntikan yang bisa memicu efek fatal pada beberapa pasien dengan kondisi lemah.


Institut Kesehatan Masyarakat Norwegia akan memperbarui panduan vaksinasi terutama bagi orang tua dalam kondisi lemah atau yang mengidap sakit parah.

Panduan tersebut mengharuskan dokter untuk mengevaluasi kondisi kesehatan pasien untuk menentukan manffat vaksin yang lebih besar dibandingkan efek samping yang mungkin muncul. Pemerintah Norwegia juga akan mempertimbangkan ulang pemberian vaksin bagi orang yang mengidap sakit parah atau dalam kondisi kesehatan lemah.

"Soal penyebab [kematian 23 lansia] belum ada analisis yang dilakukan," ujar Direktur Institut Kesehatan Masyarakat, Camilla Stoltenberg seperti mengutip AFP.

"Penting untuk diingat bahwa rata-rata sekitar 45 orang meninggal setiap hari di panti jompo di Norwegia, jadi tidak bisa disimpulkan bahwa ini mewakili kematian berlebih atau terkait dengan vaksin," ucapnya.

Hingga Kamis (14/1) lalu, Norwegia telah memberikan dosis pertama vaksin Pfizer terhadap 48 ribu orang. Orang tua dan lansia di panti jompo masuk dalam daftar prioritas pertama orang yang mendapatkan vaksin.

"Oleh karena itu, kematian yang mendekati waktu vaksinasi dapat terjadi. Di Norwegia, rata-rata 400 orang meninggal setiap minggu di panti jompo dan fasilitas perawatan jangka panjang," tulis Badan Pengawas Obat Norwegia (NOMA) dalam pernyataan resminya.

Dilansir dari CNN, NOMA mencatat semua kematian yang terjadi pada periode pertama vaksinasi akan dianalisis dengan cermat.

Sejak memulai proses vaksinasi massal di akhir Desember, Norwegia telah mencatat 33 kematian lansia yang telah mendapat dosis pertama vaksin corona.

"Bukan tidak mungkin bahwa beberapa dari mereka yang telah mendapatkan vaksin sangat lemah [kondisi kesehatannya] sehingga mungkin Anda harus mempertimbangkan kembali dan tidak memberi mereka vaksin, karena mereka sangat sakit sehingga mereka menjadi lebih buruk dari efek samping normal ketika tubuh bereaksi dan membangun kekebalan, "kata Stoltenberg.

Selain Norwegia, sejumlah negara tetangga seperti Denmark, Finlandia, Islandia dan Swedia juga melaporkan kematian setelah divaksin, tetapi tidak ada hubungan langsung dengan vaksin yang telah ditetapkan.

Pfizer dan BioNTech mengatakan bahwa mereka "bekerja dengan Badan Obat Norwegia untuk mengumpulkan semua informasi yang relevan" untuk mengetahui lebih lanut penyebab kematian lansia yang telah divaksin.

(AFP/evn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK