Gelar Tes Massal 7.000 Orang, Hong Kong Cabut Lockdown Corona

CNN Indonesia | Senin, 25/01/2021 22:36 WIB
Hong Kong mencabut aturan lockdown pada Senin (25/1) pagi setelah melakukan tes massal terhadap 7.000 orang dengan 0,7 persen diantaranya dinyatakan positif. Hong Kong mencabut aturan lockdown mulai Senin (25/1) setelah melakukan tes corona massal. (Foto: AP/Kin Cheung)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hong Kong mulai Senin (25/1) pagi mencabut aturan penguncian wilayah (lockdown) untuk menekan penyebaran virus corona setelah melakukan pengetesan massal terhadap 7.000 orang.

Hong Kong untuk pertama kalinya sejak pandemi memberlakukan lockdown untuk menahan penyebaran klaster baru Covid-10 pada Jumat (22/1).

Selama akhir pekan, polisi telah menutup sekitar 150 blok apartemen dan lingkungan padat penduduk yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi klaster penyebaran virus corona. Sekitar 0,7 persen orang yang dites dinyatakan positif terpapar virus corona.


Keputusan lockdown sempat menuai protes dari beberapa komunitas dan pengusaha lokal. Namun pejabat Hong Kong mengatakan lockdown diberlakukan sebagai upaya proporsional dan tidak akan mengesampingkan lockdown serupa.

"Kami tidak menganggap lockdown ini sebagai pemborosan tenaga dan uang," kata Menteri Kesehatan Sophia Chan merespons protes soal pemberlakuan lockdown seperti dilansir dari AFP.

Hong Kong mengumumkan pemberlakuan lockdown setelah mencatat lebih dari 10 ribu infeksi Covid-19 dan 170 kematian. Sejak Jumat tengah malam hingga Sabtu (23/1), pemerintah Hong Kong mengerahkan sekitar 1.700 polisi yang mencakup sekitar 150 blok perumahan dan hingga 9 ribu orang untuk mengamankan lockdown.

Dalam beberapa pekan terakhir, masyarakat berpenghasilan rendah protes dengan pemberlakuan lockdown.

Merespons keberatan warga, seorang ahli penyakit menular, David Hui meminta pemerintah untuk bergerak lebih cepat menghentikan penyebaran virus corona di tengah protes aturan lockdown.

"Bagian yang paling mengkhawatirkan adalah apakah virus itu mungkin menyebar ke luar karena beberapa penduduk keluar ketika mereka mengetahui akan diberlakukan lockdown," kata Hui.

Seorang sumber anonim kepada South China Morning Post pekan lalu mengatakan langkah penutupan diterapkan di distrik Jordan dan Sham Shui Po yang yang mencakup sebagian kecil kota, tapi padat penduduk di Semenanjung Kowloon.

Kedua distrik itu merupakan kawasan dengan banyak flat tua dan sempit (subdivided flats), di mana virus dapat menyebar dengan mudah.

(AFP/evn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK