Pedemo dan Massa Pro Militer Myanmar Saling Lempar Batu

CNN Indonesia | Kamis, 25/02/2021 15:27 WIB
Demonstran yang menentang kudeta terlibat bentrok dengan pendukung junta militer Myanmar di Kota Yangon. Ilustrasi bentrokan massa pro pemerintah dan demonstran anti kudeta di Myanmar. (AFP/SAI AUNG MAIN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Demonstran yang menentang kudeta terlibat bentrok dengan pendukung junta militer Myanmar di Kota Yangon, pada Kamis (25/2).

Dilansir Reuters, mulanya ada sekitar seribu orang yang menamakan diri sebagai kelompok pendukung junta militer berkumpul menggelar unjuk rasa di pusat kota Yangon.

Mereka kemudian mengusir dan mengancam para wartawan setempat yang ingin meliput aksi itu. Tidak lama kemudian terjadi massa pro militer dan pedemo antikudeta terlibat bentrok.


Kedua belah pihak saling melempar batu dan menggunakan ketapel. Satu orang juru foto dilaporkan terluka dalam kejadian itu.

Secara terpisah, anggota Kepolisian Yangon berjaga di depan universitas setempat guna mencegah mahasiswa berunjuk rasa di luar kampus.

"Mahasiswa harus menggulingkan diktator. Sejak kudeta hidup kami seakan tidak mempunyai harapan, mimpi kami seolah lenyap," kata seorang mahasiswa saat berorasi di kampus di Yangon, Kaung Sat Wai (25).

Sudah tiga pekan krisis politik terjadi di Myanmar, setelah angkatan bersenjata mengkudeta pemerintah dan menangkap Penasihat Negara, Aung San Suu Kyi, serta Presiden Win Myint.

Masyarakat sipil yang terdiri dari muda-mudi, mahasiswa, pegawai negeri sipil hingga tenaga medis ikut berunjuk rasa dan mogok kerja menuntut kekuasaan pemerintahan yang digulingkan dipulihkan.

Meski aparat keamanan Myanmar berangsur-angsur mulai menahan diri, tetapi sampai saat ini sudah tiga demonstran tewas ditembak dengan peluru tajam. Seorang polisi dilaporkan luka dalam bentrokan dengan massa demonstran.

Hingga saat ini tercatat jumlah tahanan politik yang ditangkap junta militer mencapai 728 orang.

Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar (Tatmadaw), Jenderal Min Aung Hlaing, mengkudeta pemerintahan sipil terpilih yang dipimpin Penasihat Negara Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint pada 1 Februari lalu.

Alasan militer melakukan kudeta adalah menjaga amanat Undang-Undang Dasar 2008 dan sengketa hasil pemilihan umum.

Militer Myanmar lantas menangkap Suu Kyi dan Win Myint, serta sejumlah politikus dari partai berkuasa, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Militer menuduh ada indikasi kecurangan sehingga NLD memenangi pemilihan umum. Mereka menuduh pada pemilu yang dimenangkan Suu Kyi disebut terdapat setidaknya 8 juta pemilih palsu.

Komisi Pemilihan Umum Myanmar membantah tuduhan kudeta itu.

Protesters flash the three-fingered salute, a symbol of resistance, during a protest in Mandalay, Myanmar, Tuesday, Feb. 9, 2021. Protesters continued to gather Tuesday morning in major cities breaching Myanmar's new military rulers ban of public gathering of five or more issued on Monday intended to crack down on peaceful public protests opposing their takeover. (AP Photo)Demonstran anti kudeta di Myanmar memperlihatkan simbol tiga jari sebagai bentuk protes. (AP/STR)

Min mengatakan bakal menggelar pemilihan umum yang jujur dan bebas usai status masa darurat nasional selama satu tahun dinyatakan berakhir.

Saat ini Suu Kyi dijerat dengan dua perkara, yakni kepemilikan dan impor walkie-talkie ilegal serta melanggar UU Penanggulangan Bencana. Sedangkan Win dituduh melanggar protokol kesehatan dan UU Penanggulangan Bencana saat berkampanye pada tahun lalu. Saat ini keduanya menjadi tahanan rumah.

(ayp/ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK