Uskup Katolik AS Cegah Jemaat Divaksin Johnson & Johnson

CNN Indonesia | Jumat, 05/03/2021 00:06 WIB
Uskup Katolik di AS cegah para jemaat gereja menerima suntikan vaksin corona Johnson & Johnson karena dikembangkan gunakan sel dari janin yang diaborsi. Ilustrasi vaksin corona. (iStockphoto/licsiren)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah uskup Katolik di Amerika Serikat mencegah para jemaat gereja menerima suntikan vaksin corona Johnson & Johnson karena dikembangkan menggunakan sel dari janin yang diaborsi.

Konferensi Uskup Katolik AS, dengan setidaknya 6 keuskupan lain dari seluruh negeri telah mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan "keprihatinan moral."

Pernyataan itu terkait penggunaan sel yang dikembangkan di laboratorium, berasal dari sel yang diambil pada tahun 1980-an dari janin yang diaborsi.


Johson & Johson adalah vaksin ketiga yang diberi izin digunakan di Amerika Serikat.

Tidak seperti pendahulunya Pfizer / BioNTech dan Moderna, vaksin Johnson & Johnson hanya membutuhkan satu kali suntikan dan dapat disimpan pada suhu normal, sehingga mudah untuk diangkut.

Sebelum penggunaan darurat AS untuk vaksin Johnson & Johnson disetujui, kantor doktrinal untuk Gereja Katolik Roma mengatakan vaksin itu secara moral dapat diterima.

Pernyataan baru dari Konferensi Para Uskup bertentangan dengan catatan yang disetujui oleh Paus Fransiskus, yang menerima vaksin pada Januari.

Catatan bulan Desember mengatakan bahwa "penggunaan vaksin semacam itu bukan merupakan kerja sama formal dengan sel-sel yang berasal dari janin aborsi yang digunakan dalam produksi vaksin."

Dalam sebuah pernyataan kepada CNN, Johnson & Johnson mengatakan bangga dapat membawa vaksin Covid-19 tersebut ke kancah internasional dan turut berkontribusi mengakhiri pandemi.

"Vaksin Covid-19 suntikan tunggal kami menggunakan vektor adenovirus non-infektif yang tidak aktif, yang mengkode protein "lonjakan" virus corona, dan tidak ada jaringan janin dalam vaksin," kata Johnson & Johnson.

"Kami mampu memproduksi ratusan juta dosis menggunakan sistem lini sel yang direkayasa kami, dan berharap dapat memberikan dosis tersebut ke seluruh dunia dan membantu memenuhi krisis kebutuhan (vaksin)."

Pembuat vaksin terkadang menggunakan sel janin saat pengembangan.

Menurut seorang ahli penyakit menular di Nebraska Medicine, James Lawler, Pfizer /BioNtech dan Moderna menggunakan sel yang berasal dari jaringan janin untuk menguji vaksin mereka.

Sedangkan vaksin Pfizer/BioNTech digunakan dalam "pengembangan, konfirmasi dan produksi" Johnson & Johnson.

Sel-sel itu merupakan ribuan generasi yang dikeluarkan dari jaringan asli janin, kata Lawler.

Seiring dengan penggunaan sel, vaksin Johnson & Johnson dibuat berbeda dari dua vaksin resmi lainnya.

Perusahaan mengembangkan vaksin vektor adenovirus membawa materi genetik dengan lonjakan protein virus corona ke dalam tubuh. Sehingga sel-sel seseorang dapat memproduksi lonjakan protein sendiri dan mengaktifkan sistem kekebalannya melawan virus, ucap Lawler.

"Johnson & Johnson menggunakan sel janin karena itu merupakan "standar industri yang dipelajari dengan baik untuk memproduksi vaksin vektor virus yang aman dan andal," kata Lawler.

Sementara Gedung Putih pada hari Rabu (3/3) menolak pernyataan dari Konferensi Para Uskup.

Seorang pejabat pemerintah mengatakan kepada CNN bahwa pemerintahan Biden juga berusaha mengatasi keraguan dan bekerja dengan utusan lokal mengenai cara mengatasi pernyataan uskup, termasuk dengan para pemimpin agama.

(isa/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK