Saudi Usulkan Gencatan Senjata, Pemberontak Houthi Pesimis

CNN Indonesia | Selasa, 23/03/2021 08:36 WIB
Arab Saudi kembali menawarkan usulan gencatan senjata kepada pemberontak Houthi guna mengakhiri Perang Yaman. Ilustrasi pemberontak Houthi di Yaman. (AFP PHOTO / MOHAMMED HUWAIS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Arab Saudi kembali menawarkan usulan gencatan senjata kepada pemberontak Houthi guna mengakhiri Perang Yaman.

Usulan itu diumumkan Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud, dalam jumpa pers di Riyadh pada Senin (22/3).

Selain gencatan senjata, Pangeran Faisal mengatakan gagasan perdamaian juga mencakup pembukaan bandara Sanaa dan kesempatan impor bahan bakar dan makanan melalui pelabuhan Hodeidah. Bandara Sanaa dan pelabuhan Hodeidah hingga kini masih dikuasai oleh pemberontak Houthi.


Negosiasi politik antara pemerintah Yaman yang didukung Saudi dan Houthi akan dimulai kembali, kata Faisal.

Ia menuturkan Saudi akan bekerja sama dengan komunitas internasional untuk menekan Houthi agar "menerima usulan dan dan datang ke meja perundingan."

Meski begitu, Faisal menuturkan koalisi Saudi akan terus melawan Houthi selama kelompok pemberontak itu belum menghentikan serangan.

Pemerintah Yaman menyambut baik gagasan damai dari Saudi.

Namun, Houthi menganggap inisiatif itu usang dan tidak memberikan sesuatu yang baru lantaran sampai detik ini koalisi Saudi belum memenuhi permintaan mereka untuk mencabut blokade sepenuhnya di Bandara Sanaa dan Pelabuhan Hodeidah.

"Kami berharap Saudi akan mengumumkan diakhirinya blokade pelabuhan dan bandara dan inisiatif mengizinkan 14 kapal yang ditahan oleh koalisi," kata juru runding Houthi, Mohammed Abdulsalam kepada Reuters.

Abdulsalam menuturkan "hak kemanusiaan" tidak boleh digunakan untuk menekan. Ia mengatakan Houthi akan terus bernegosiasi dengan Saudi, Amerika Serikat, dan Oman sebagai mediator kesepakatan damai.

Sementara itu, AS menyambut baik gagasan Saudi tersebut.

Kelompok pemantau konflik di Yaman, The Armed Conflict Location & Event Data Project (ACLED), menuturkan perang sipil yang berlangsung sejak 2014 lalu itu menewaskan lebih dari 100 ribu orang. Sebagian besar korban tewas merupakan warga sipil.

Konflik Yaman selama ini dipandang luas sebagai perang proxy antara Saudi dan Iran, yang selama ini menyokong Houthi. Perang sipil tersebut dinilai sebagai krisis kemanusiaan terburuk dalam sejarah yang minim perhatian dari komunitas internasional.

(rds/ayp/ayp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK