Aktivis Gelar Aksi Sunyi, Myanmar Kembali Senyap

CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 15:30 WIB
Usai situasi memanas beberapa waktu belakangan, aktivis Myanmar menyerukan aksi sunyi dengan berdiam di rumah untuk mengenang lebih dari 700 warga yang tewas. Ilustrasi Kota Yangon. (AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah situasi memanas dalam beberapa waktu belakangan, para aktivis Myanmar menyerukan "aksi sunyi" dengan berdiam diri di rumah untuk mengenang lebih dari 700 warga yang tewas sejak demonstrasi antikudeta merebak.

"Mari buat jalan-jalan sunyi. Kita harus menggencarkan Aksi Sunyi untuk memperlihatkan duka kita atas para martir yang mengorbankan nyawanya," ujar pemimpin aksi bernama Ei Thinzar Maung, melalui Facebook, Jumat (16/4).

Di akhir seruannya, Ei Thinzar Maung menuliskan, "Suara paling sunyi sesungguhnya merupakan yang paling nyaring."


Ei kemudian mengimbau agar warga mengenakan pakaian hitam jika benar-benar harus melakukan aktivitas di luar rumah.

Setelah seruan ini tersebar, warga melaporkan kepada Reuters bahwa ruas-ruas jalan di salah satu kota besar di Myanmar, Yangon, sunyi senyap. Hanya sejumlah kelompok kecil orang berpakaian hitam yang terlihat di jalan.

Ini merupakan hari kelima dalam pekan Tahun Baru Thingyan. Biasanya, warga Myanmar merayakan Thingyan dengan berbagai ritual, seperti membersihkan patung-patung Buddha.

Namun tahun ini, para aktivis membatalkan perayaan Thingyan dan mengajak masyarakat untuk menggelar aksi bisu dalam pekan Thingyan ini.

Pada awal pekan, mereka sebenarnya berhasil menggelar aksi bisu. Para warga memakai baju rapi, layaknya sedang merayakan Thingyan, sembari turun ke jalan tanpa bicara.

Suasana mulai kembali panas ketika aparat menembaki demonstran peserta aksi yang digelar oleh para pekerja medis pada Kamis (15/4).

Dengan seruan aksi sunyi ini, para aktivis berharap mereka dapat memperlihatkan demonstrasi tanpa kekerasan juga bisa membawa dampak, terutama karena perputaran roda ekonomi yang minim.

[Gambas:Video CNN]

Mereka juga berharap aksi semacam ini dapat mengurangi alasan aparat untuk menangkap atau menembak warga sipil dengan dalih menghasut kericuhan.

Pada akhirnya, para aktivis berharap tak ada lagi nyawa yang harus melayang atau orang-orang dipenjara karena menentang kudeta militer.

Berdasarkan catatan Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik Myanmar (AAPP), setidaknya 726 nyawa melayang dan 3.151 ditangkap serta diadili sejak protes merebak pada Februari lalu.

(has/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK