Sengketa Laut China Selatan, Duterte Siap Kirim Kapal Perang

CNN Indonesia | Selasa, 20/04/2021 07:14 WIB
Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengaku siap mengerahkan kapal perang ke Laut China Selatan demi klaim atas sumber daya minyak dan mineral. Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (UNTV via AP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengaku siap mengerahkan kapal perang ke Laut China Selatan demi klaim atas sumber daya minyak dan mineral di perairan strategis yang disengketakan.

Seruan itu dilontarkan Duterte di tengah kritikan yang menyebut sikapnya lembek dengan menolak mendorong China mematuhi putusan arbitrase.

Dia menegaskan bahwa Filipina akan mengajukan klaim atas sumber daya seperti minyak dan mineral di Laut China Selatan.


"Saya tidak begitu tertarik sekarang pada penangkapan ikan. Saya tidak berpikir ada cukup ikan untuk diperdebatkan. Tapi ketika kita mulai menambang, ketika kita mulai mendapatkan apa pun yang ada di perut Laut China, minyak kita, pada saat itu saya akan mengirim kapal abu-abu ke sana untuk mengajukan klaim," kata Duterte dalam pidato publik pada Senin (19/4) malam seperti dikutip dari Reuters.

"Jika mereka mulai mengebor minyak di sana, saya akan beri tahu China, apakah itu bagian dari kesepakatan kita? Jika itu bukan bagian dari kesepakatan kita, saya juga akan mengebor minyak di sana," ujarnya. Meski demikian dia menegaskan ingin tetap berteman baik dengan Beijing.

Duterte telah berusaha membangun aliansi dengan China dan enggan berkonfrontasi, karena dijanjikan pinjaman dan investasi miliaran dolar, namun sebagian besar belum terwujud.

Dia telah berulang kali mengatakan Filipina tidak berdaya untuk menghentikan China. Menurut Duterte, menantang aktivitas China dapat menimbulkan risiko perang.

Kata dia, tidak ada cara bagi Filipina untuk menegakkan keputusan arbitrase tahun 2016 "tanpa pertumpahan darah."

Presiden China Xi Jinping menolak keputusan Pengadilan Tetap Arbitrase (PCA) yang memutuskan mendukung Filipina dalam sengketa Laut China Selatan. Pengadilan internasional di Den Haag tersebut menyimpulkan, China tidak memiliki dasar hukum mengklaim hak bersejarah untuk sebagian besar LCS.

Kedutaan Besar China di Manila tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Filipina telah berulangkali mengajukan protes diplomatik terhadap tindakan China di Laut China Selatan. Teranyar mereka menuduh China melakukan penangkapan ikan ilegal dan mengerahkan lebih dari 240 kapal di perairan teritorialnya.

(dea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK