Kematian Corona India Melonjak, Kremasi Mayat Operasi 24 Jam

CNN Indonesia | Selasa, 20/04/2021 10:34 WIB
Sebagian besar pusat krematorium di India terpaksa beroperasi melebihi kapasitas demi mengkremasi jenazah yang terus berdatangan saat pandemi corona. Lebih dari 1.000 orang positif Covid-19 di festival keagamaan India. (REUTERS/ANUSHREE FADNAVIS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagian besar pusat krematorium di India dilaporkan terpaksa beroperasi melebihi kapasitas demi mengkremasi jenazah yang terus berdatangan setiap jam tepat waktu.

Kepulan asap terus menyeruak dari corong sebuah krematorium di negara bagian Gujarat, barat India, selama hampir 24 jam tanpa henti.

Sebagian besar jenazah itu meninggal akibat menderita virus corona (Covid-19). Selama beberapa waktu terakhir, jumlah penularan dan kematian akibat corona di India memang terus melonjak signifikan.


Negara berpenduduk 1,3 miliar itu mencapai rekor tertinggi 261.500 kasus baru pada Minggu (18/4). Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, tiap pengetesan menunjukkan satu positif dari enam orang yang menjalani pengujian Covid-19.

Saat ini, India memiliki total 15,3 juta lebih kasus corona dengan 180 ribu kematian.

"Kami bekerja sepanjang waktu dengan kapasitas 100 persen agar bisa mengkremasi jenazah tepat waktu," kata pengurus salah satu krematorium di Kota Surat, Kamlesh Sailor, kepada Reuters.

Tak hanya pusat kremasi, sebagian rumah sakit juga kewalahan hingga kehabisan tempat untuk merawat pasien Covid-19. Beberapa rumah sakit sudah mengumumkan pasokan ventilator dan tabung oksigen habis hingga banyak rusak karena terus digunakan tanpa henti untuk merawat pasien corona yang datang dan pergi.

Petugas krematorium dan pemakaman menuturkan jumlah kremasi dan pemakanan jauh lebih banyak dibandingkan data kematian corona yang selama ini dirilis pemerintah.

Krematorium khusus jenazah Covid-19 terbesar di Lucknow, ibu kota negara bagian Uttar Pradesh, Baikunthdham, memaparkan pihaknya menerima jumlah jenazah untuk dikremasi dua kali lipat dari yang dilaporkan pemerintah dalam enam hari terakhir.

Jumlah itu pun belum termasuk jenazah pasien corona yang dimakamkan di tempat lain, seperti komunitas Muslim di India.

Sementara itu kepala krematorium lainnya di Uttar Pradesh, Azad menuturkan jumlah kremasi berdasarkan protokol corona memang telah meningkat lima kali lipat dalam beberapa pekan terakhir.

"Kami bekerja siang dan malam. Insinerator beroperasi terus tetapi masih banyak jenazah yang harus menunggu untuk dikremasi," kata Azad.

Varian Baru Corona dan Abai Protokol

India memang tengah dihadapkan dengan gelombang penularan virus corona baru yang dinilai lebih ganas dalam beberapa pekan terakhir.

Pemerintah New Delhi menerapkan penguncian wilayah (lockdown) di Ibu Kota India tersebut pada akhir pekan lalu akibat tingkat penularan corona yang terus memburuk.

New Delhi, kota berpenduduk lebih dari 20 juta orang, saat ini menjadi wilayah dengan kasus corona harian terbanyak di India. Beberapa kota dan negara bagian lainnya seperti Mumbai juga menerapkan lockdown serupa.

Tenaga kesehatan menganggap lonjakan virus corona ini sedikit banyak terjadi akibat sejumlah perayaan ritual yang berlangsung di India dalam waktu dekat ini. Salah satunya ritual mandi di sungai alias Kumbh Mela yang berlangsung beberapa waktu lalu.

Ribuan orang di India dinyatakan positif Covid-19 setelah Kumbh Mela. Pihak berwenang melaporkan angka infeksi ini setelah melakukan tes terhadap 50 ribu peserta Kumbh Mela di kawasan Haridwar, Uttarakhand.

Selain akibat perayaan ritual, warga India memang dikenal abai terhadap protokol kesehatan. Penularan corona pun diperparah dengan kemunculan varian virus corona baru di India yang dianggap lebih cepat menular.

Varian corona yang dikenal dengan B1617 yang bermutasi ganda.

Negara pimpinan Narendra Modi pun kini menempati urutan kedua negara dengan kasus infeksi Covid-19 paling banyak, menyalip posisi Brasil sebelumnya.

(rds/dea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK