Hubungan Panas, Jet Tempur Rusia Cegat Pesawat Patroli AS

CNN Indonesia | Selasa, 20/04/2021 14:41 WIB
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa jet tempur mereka, MiG-31 berhasil mencegat pesawat patroli Amerika Serikat di atas Laut Barents. Ilustrasi jet tempur Rusia. (Alexander NEMENOV / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa jet tempur mereka, MiG-31 berhasil mencegat pesawat patroli Amerika Serikat di atas Laut Barents.

Kantor berita RIA, Senin (19/4) sebagaimana dikutip Reuters melaporkan jet tempur pencegat itu juga menghalau dan mengawal pesawat patroli Norwegia.

Kemhan Rusia mengatakan insiden itu terjadi di perairan utara Swedia, Norwegia, Finlandia dan Rusia.


Seorang pejabat Pentagon mengatakan kepada The Hill bahwa Departemen Pertahanan telah "mengetahui laporan tersebut".

"Aktivitas mencegat bukanlah hal yang aneh. Sebagian besar dianggap aman. Namun, kami tidak membahas detail interaksi itu sendiri," kata pejabat Pentagon tersebut.

Kantor berita Rusia, Tass, mengatakan pekan lalu jet tempur MiG-31 juga mencegat pesawat pengintai AS di sepanjang timur laut jauh Semenanjung Kamchatka di atas Samudra Pasifik.

Insiden ini terjadi kurang dari sepekan setelah pemerintahan Joe Biden menjatuhkan sanksi dan mengusir 10 diplomat Rusia sebagai balasan atas intervensi Kremlin dalam pemilu 2020 dan serangan siber terhadap Washington. Sebagai balasan, Moskow juga mengusir 10 diplomat AS dari Rusia.

Moskow dalam sebulan terakhir telah meningkatkan kehadiran militernya di wilayah tersebut, terutama di perbatasan dengan Ukraina dan di Laut Hitam. Jet tempur beserta pesawat bomber Rusia terbang di dekat wilayah udara negara itu.

Hubungan Rusia dan Ukraina terus memanas akhir-akhir ini.

Ukraina menuding Rusia mengerahkan banyak pasukan ke dekat perbatasan. Pejabat Ukraina mengatakan setidaknya 41 ribu pasukan telah dikerahkan Moskow ke timur perbatasan dan 42 ribu ke Krimea.

Kondisi itu bisa membuat peperangan antara kedua negara pada 2014 silam kembali terulang.

Perang di kawasan timur Ukraina pecah pada 2014 setelah Presiden Ukraina saat itu, Viktor Yanukovych, yang dekat dengan Rusia tumbang akibat gelombang demo.

Konflik itu dilaporkan menelan korban jiwa lebih dari 13 ribu orang, dan Ukraina juga kehilangan Krimea yang kini diduduki oleh Rusia.

Ukraina lantas meminta bantuan kepada blok Barat melalui Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Amerika Serikat sebagai salah satu sekutu Ukraina menyatakan akan tetap mendukung negara itu menghadapi Rusia.

(dea/dea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK