Diaspora Indonesia Diharap Berperan di Diplomasi Soft Power

CNN Indonesia | Sabtu, 01/05/2021 05:05 WIB
Komunitas diaspora Indonesia yang tersebar di dunia diharapkan bisa menjadi aset bagi kekuatan diplomasi. Ilustrasi Gedung Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Komunitas diaspora Indonesia yang tersebar di Inggris dan berbagai negara ASEAN dan G20 lainnya diharapkan bisa menjadi aset bagi kekuatan diplomasi.

Hal itu dipaparkan dalam forum virtual dengan tema "Inaugural UK-Indonesia Soft Power Forum: Propelling Indonesia's Soft Power in the next Decade", yang digelar oleh KBRI London dan Global Indonesia Professionals Association (GIPA) dan Young Indonesia Professionals Association (YIPA) UK.

Forum virtual itu dihadiri dan didukung oleh para pemangku kepentingan dari Indonesia dan Inggris, serta komunitas diaspora Indonesia yang tersebar di Inggris dan negara lain.


Chairman GIPA, Steven Marcelino, di dalam sambutannya menyampaikan forum itu merupakan bentuk tindak lanjut dari sejumlah masukan yang diberikan ke Kementerian Luar Negeri pada 2020 lalu. Sebab saat ini Kemlu sedang meramu kebijakan payung untuk pengembangan Soft Power untuk Indonesia.

Duta Besar Indonesia untuk Inggris dan Irlandia, Dr. Desra Percaya, mendukung gagasan itu.

"Melalui kegiatan ini, KBRI London akan mensinergikan potensi soft power Indonesia sekaligus menyusun rekomendasi strategi dalam menghadapi tantangan ke depan, sehingga Indonesia dapat menjadi aktor penting dalam forum internasional," ungkap Dr. Desra dalam keterangan pers.

Pada kesempatan ini juga Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI, Dr. Teuku Faizasyah, dan Wakil Dubes Inggris di Jakarta, Rob Fenn, sama-sama menyinggung peran diaspora dan pendidikan sebagai aset strategis diplomasi soft power yang diharapkan mampu membawa citra baik dan kemajuan negara.

Rob Fenn juga mengatakan bahwa kunjungan Menlu Inggris ke Indonesia pada April 2021 juga menjadi ciri untuk berkolaborasi memperkuat soft power antara Indonesia dan Inggris.

Selain itu, CEO Brand Finance, David Haigh, yang hadir dalam kegiatan itu mengungkapkan perlunya memperkenalkan Indonesia untuk membangun persepsi masyarakat dunia terhadap Indonesia.

Kegiatan ini juga diramaikan oleh 27 pembicara dari beragam latar belakang, diantaranya berprofesi sebagai akademisi, pengusaha, praktisi, dan pejabat pemerintah dari Indonesia dan Inggris yang memperkaya pembahasan terkait soft power yang tersebar ke dalam 3 (tiga) tema FGD.

Dengan dukungan dari Kemenlu RI, Kemenlu Inggris, dan Brand Finance, forum ini berkesempatan untuk memfasilitasi 3 (tiga) Focused Group Discussion (FGD) yang masing-masing membawakan tema berbeda yaitu pertama membahas tentang bisnis dan perdagangan, tata kelola, dan hubungan internasional.

Lalu topik selanjutnya adalah soal edukasi dan sains serta manusia dan nilai. Sedangkan ketiga menyinggung pembahasan mengenai media dan digital serta budaya dan warisan kultural.

Melalui ketiga sesi diskusi tersebut, para pemangku kepentingan dari berbagai sektor yang terlibat diharapkan bisa membagikan pengalamannya dan saling bersinergi bersama masyarakat dalam mempromosikan dan memperkuat soft power Indonesia secara terbuka dan menyeluruh.

GIPA dan YIPA menganggap kegiatan ini adalah permulaan bagi kolaborasi dan sinergi antara komunitas diaspora dan para pemangku kepentingan di Tanah Air untuk mengoptimalkan kemitraan Indonesia-Inggris dalam membangkitkan kesadaran publik bagi peningkatan soft power Indonesia di dunia.

(ayp/ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK