Laju Pertumbuhan Penduduk China Melambat

CNN Indonesia | Selasa, 11/05/2021 17:43 WIB
Laju pertumbuhan penduduk di China melambat dalam beberapa dekade. Ilustrasi penduduk China. (AFP/NOEL CELIS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Laju pertumbuhan penduduk di China melambat dalam beberapa dekade. Hasil sensus menunjukkan populasi penduduk negara itu hanya mencapai 1,41 miliar atau tumbuh 5,38 persen pada 2020.

Hasil sensus itu diterbitkan oleh Biro Statistik Nasional China pada Selasa (11/5). Populasi penduduk yang melambat di China disebut dapat menimbulkan masalah serius bagi ekonomi negara itu.

Mengutip CNN, data terbaru menunjukkan tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata 0,53 persen. Jumlah itu dinilai lebih rendah 0,04 persen, dari tingkat pertumbuhan tahunan antara 2000-2010.


Pertumbuhan 5,38 persen merupakan pertumbuhan yang paling lambat sejak 1960-an. Penyebabnya karena penurunan angka kelahiran dan jumlah penduduk usia produktif.

Kebijakan China yang menerapkan satu pasangan hanya boleh memiliki satu anak direvisi pada 2016 menjadi dua anak, lantaran kekhawatiran menyusutnya jumlah tenaga kerja di Negeri Tirai Bambu. Namun, kebijakan itu belum berhasil melahirkan bayi-bayi yang dapat mempercepat pertumbuhan penduduk dan mengimbangi populasi lansia.

"Penyesuaian kebijakan keluarga berencana China telah mencapai hasil yang positif. (Namun) penuaan populasi terus menekan pertumbuhan jangka panjang populasi yang seimbang," kata seorang pejabat dari Biro Statistik Nasional, Ning Jizhe, dikutip dari AFP.

Sementara proporsi penduduk usia di atas 65 tahun meningkat pesat, dari 8,87 persen pada 2010 menjadi 13,5 persen di tahun 2020.

Pada November tahun lalu, China meluncurkan sensus nasional ketujuh. Untuk menghitung populasi, mereka mengirim 7 juta pekerja di tengah pandemi Covid-19.

China berjuang untuk menambah pertumbuhan populasi karena jumlah kelompok masyarakat usia produktif semakin menyusut. Tingkat pernikahan yang menurun dalam beberapa tahun terakhir juga berdampak pada tingkat kelahiran.

Pada 2020, persentase kelahiran bayi di China turun hampir 15 persen dari tahun ke tahun. Dari 11,79 juta pada 2019 menjadi 10,03 juta di 2020.

Kenaikan biaya persalinan juga membuat para perempuan secara otomatis menunda atau menghindari kelahiran. Faktor tambahan lainnya adalah pandemi virus corona.

"Wabah Covid-19 meningkatkan ketidakpastian kehidupan sehari-hari dan meningkatkan kekhawatiran seputar persalinan di rumah sakit, yang selanjutnya mengurangi keinginan warga untuk melahirkan," tambah Ning.

Dari hasil sensus, kini jumlah rata-rata keluarga 2,62 orang, turun dari jumlah rata-rata pada satu dekade lalu yang mencapai 3,10 orang.

Sementara di kota, pertumbuhan penduduk melesat menjadi 236,4 juta. Meningkat hampir 15 persen dari sensus sebelumnya. Di China sendiri hampir 63 persen penduduknya tinggal di kota.

China melakukan sensus setiap satu dekade untuk menentukan pertumbuhan populasi, pola pergerakan, dan tren lainnya. Data yang dianggap sensitif itu akan memainkan peran utama dalam perencanaan kebijakan pemerintah.

Seorang pakar dari Universitas Wisconsin-Madison, Yi Fuxian, mengatakan dia meyakini populasi China terlalu banyak dan mulai menurun pada 2018.

Data sensus 2020, menurutnya dirancang untuk menghindari "gempa bumi politik", tetapi menyebabkan guncangan di sektor lain.

"Menyebabkan ekonomi, sosial, pertahanan, hubungan luar negeri, dan kebijakan lain China (untuk) terus didasarkan pada data populasi yang salah," katanya.

Hasil sensus itu ramai diperbincangkan netizen China di media sosial. Beberapa mengeluh bahwa datanya tidak akurat, sementara yang lain menunjukkan meningkatnya tantangan dan biaya kehidupan keluarga modern di Tiongkok.

[Gambas:Video CNN]

(isa/ayp/ayp)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK