Urung Mudik dari Beirut Demi Lindungi Keluarga di Kampung
CNN Indonesia
Rabu, 12 Mei 2021 13:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi Ibu Kota Beirut, Libanon.
Jakarta, CNN Indonesia --
Deasy Kristianti sedih bukan kepalang lantaran terpaksa menunda niat pulang kampung ke Indonesia untuk merayakan Hari Lebaran tahun ini bersama keluarga.
Pandemi virus corona yang belum juga reda memaksa perempuan berhijab ini menetap di Beirut, Libanon, tempat ia bertugas sebagai salah satu staf kedutaan besar RI, selama bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada Kamis (13/5).
Hingga akhir April, kasus harian corona di Libanon mencapai 1.400 kasus. Meski terbilang sedikit dibandingkan Indonesia, tren kasus harian corona di Libanon memprihatinkan lantaran total populasi negara Timur Tengah itu hanya sebanyak 6 juta penduduk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Deasy menuturkan dia bisa saja nekat pulang ke Indonesia demi bercengkerama dengan keponakan-keponakannya di Hari Raya, namun ia khawatir bisa terpapar virus corona selama di perjalanan dan menularkannya ke keluarga.
"Sedih sudah pasti, orang tua juga sedih. Dengan tingginya kasus di Libanon, saya memutuskan l menunda mudik tahun ini untuk meminimalisir resiko tertular dan menularkan. Keluarga mengerti kondisi saat ini, sehingga demi kebaikan bersama, mudik ditunda," ucap Deasy saat bercerita kepada CNNIndonesia.com
"Apalagi baru-baru ini ada kasus penggunaan alat tes antigen bekas di Bandara Kuala Namu, Medan. Jadi bertambah lah alasan untuk menunda mudik demi kebaikan semua," sambungnya.
Hati Deasy cukup bimbang ketika tahu harus ditugaskan dan berangkat ke Beirut pada Agustus 2020. Apalagi saat itu pandemi virus corona masih tinggi-tingginya sehingga ia sadar jika pergi saat itu belum tentu bisa pulang ke kampung dalam waktu dekat.
Deasy mengatakan saat mengajukan permohonan visa, Kedubes Libanon di Jakarta bahkan juga masih ragu untuk mengeluarkan masa berlaku izin tinggal kepadanya. Selain itu, ia juga menuturkan karena situasi sedang tidak menentu, maskapai penerbangan juga belum banyak yang beroperasi.
Terlebih, persyaratan kesehatan seperti memegang surat keterangan sehat dan hasil tes swab PCR negatif dalam kurun waktu kurang dari empat hari saat tiba di negara tujuan juga cukup menyulitkan Deasy.
"Karena saat itu, hasil tes belum tentu dapat dikeluarkan di hari yang sama, ditambah dengan dua hari penerbangan menimbulkan kekhawatiran sendiri. Kalau hasilnya negatif, berarti harus berangkat di hari itu juga atau paling lambat keesokan harinya. Tetapi jika positif, berarti harus membatalkan jadwal perjalanan yang telah ditetapkan sebelumnya," katanya.
Namun, beruntung Deasy bisa berangkat sesuai jadwal.
Sesampainya di Beirut, hati Deasy juga masih was-was lantaran melihat situasi dan kondisi pandemi di Libanon. Pandemi corona membuat pemerintah Libanon menerapkan serangkaian pembatasan dan hal itu kian memperburuk perekonomian negara tersebut.
Deasy menuturkan masyarakat Libanon banyak yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Ia mengatakan sempat ada beberapa demonstrasi menentang aturan pemerintah terkait pembatasan kegiatan akibat pandemi virus corona.
"Terlihat banyak yang tidak memakai masker, dan masih sering berkumpul. Jadi, kita sendiri yang harus ekstra hati-hati. Selalu memberlakukan prokes, tidak berkerumun, dan tentunya menjaga Kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh," ucap Deasy.
"Meskipun banyak terjadi protes karena kondisi perekonomian masyarakat semakin memburuk akibat serangkaian pembatasan dari pemerintah,penurunan kasus corona hingga menjadi 249 merupakan sesuatu yang patut diapresiasi," paparnya menambahkan.
Selama bulan Ramadan, Deasy semakin rindu suasana berpuasa di Indonesia. Ia menuturkan meski Libanon merupakan negara di Timur Tengah, tidak banyak masjid di sana.
Karena itu, Deasy mengandalkan jadwal imsakiyah yang dikeluarkan KBRI atau TV dan radio setempat untuk menjadi pengingat waktu salat dan berbuka.
Selain itu, Deasy memaparkan situasi perekonomian yang semakin sulit akibat pandemi membuat suasana bulan Ramadan kurang terasa di Beirut.
"Mesjid tidak sebanyak di Indonesia, yang hampir di setiap kelurahan ada masjid. Di Beirut sekitarnya, hanya ada beberapa mesjid, dan biasanya dibuka hanya pada waktu salat saja. Selama Ramadan ini, meskipun diberlakukan pembatasan, masjid boleh dibuka untuk salat tarawih dengan kapasitas terbatas," kata Deasy.
Selebihnya, Deasy menuturkan pengalaman berpuasa pertama kali di Beirut tidak banyak berbeda dengan di Indonesia. Ia menuturkan imsak di Beirut sekitar pukul 04.00 pagi dan berbuka sekitar pukul 19.20 malam.
Meskipun saat ini memasuki musim panas, tetapi kata Deay suhu di Beirut masih berasa di kisaran 24-27 derajat celcius.
"Meskipun demikian, semangat Ramadan tetap terasa di antara WNI. Sesekali kami berbuka puasa bersama dengan mematuhi protokol kesehatan, tidak lebih dari tujuh orang."
Yang paling berkesan sampai saat ini adalah saat berkesempatan ikut berbuka puasa bersama di KRI Sultan Hasanuddin yang baru tiba di Libanon awal April lalu. Karena bisa buka puasa dengan bakso, nasi goreng, dan ada takjil kue putu dan bubur kacang hijau juga!" tutur Deasy bersemangat.
Jakarta, CNN Indonesia --
Deasy Kristianti sedih bukan kepalang lantaran terpaksa menunda niat pulang kampung ke Indonesia untuk merayakan Hari Lebaran tahun ini bersama keluarga.
Pandemi virus corona yang belum juga reda memaksa perempuan berhijab ini menetap di Beirut, Libanon, tempat ia bertugas sebagai salah satu staf kedutaan besar RI, selama bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada Kamis (13/5).
Hingga akhir April, kasus harian corona di Libanon mencapai 1.400 kasus. Meski terbilang sedikit dibandingkan Indonesia, tren kasus harian corona di Libanon memprihatinkan lantaran total populasi negara Timur Tengah itu hanya sebanyak 6 juta penduduk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Deasy menuturkan dia bisa saja nekat pulang ke Indonesia demi bercengkerama dengan keponakan-keponakannya di Hari Raya, namun ia khawatir bisa terpapar virus corona selama di perjalanan dan menularkannya ke keluarga.
"Sedih sudah pasti, orang tua juga sedih. Dengan tingginya kasus di Libanon, saya memutuskan l menunda mudik tahun ini untuk meminimalisir resiko tertular dan menularkan. Keluarga mengerti kondisi saat ini, sehingga demi kebaikan bersama, mudik ditunda," ucap Deasy saat bercerita kepada CNNIndonesia.com
"Apalagi baru-baru ini ada kasus penggunaan alat tes antigen bekas di Bandara Kuala Namu, Medan. Jadi bertambah lah alasan untuk menunda mudik demi kebaikan semua," sambungnya.
Hati Deasy cukup bimbang ketika tahu harus ditugaskan dan berangkat ke Beirut pada Agustus 2020. Apalagi saat itu pandemi virus corona masih tinggi-tingginya sehingga ia sadar jika pergi saat itu belum tentu bisa pulang ke kampung dalam waktu dekat.
Deasy mengatakan saat mengajukan permohonan visa, Kedubes Libanon di Jakarta bahkan juga masih ragu untuk mengeluarkan masa berlaku izin tinggal kepadanya. Selain itu, ia juga menuturkan karena situasi sedang tidak menentu, maskapai penerbangan juga belum banyak yang beroperasi.
Terlebih, persyaratan kesehatan seperti memegang surat keterangan sehat dan hasil tes swab PCR negatif dalam kurun waktu kurang dari empat hari saat tiba di negara tujuan juga cukup menyulitkan Deasy.
"Karena saat itu, hasil tes belum tentu dapat dikeluarkan di hari yang sama, ditambah dengan dua hari penerbangan menimbulkan kekhawatiran sendiri. Kalau hasilnya negatif, berarti harus berangkat di hari itu juga atau paling lambat keesokan harinya. Tetapi jika positif, berarti harus membatalkan jadwal perjalanan yang telah ditetapkan sebelumnya," katanya.
Namun, beruntung Deasy bisa berangkat sesuai jadwal.
Urung Mudik dari Beirut Demi Lindungi Keluarga di Kampung
Ilustrasi Ibu Kota Beirut, Libanon. (iStockphoto/ramzihachicho)
Sesampainya di Beirut, hati Deasy juga masih was-was lantaran melihat situasi dan kondisi pandemi di Libanon. Pandemi corona membuat pemerintah Libanon menerapkan serangkaian pembatasan dan hal itu kian memperburuk perekonomian negara tersebut.
Deasy menuturkan masyarakat Libanon banyak yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Ia mengatakan sempat ada beberapa demonstrasi menentang aturan pemerintah terkait pembatasan kegiatan akibat pandemi virus corona.
"Terlihat banyak yang tidak memakai masker, dan masih sering berkumpul. Jadi, kita sendiri yang harus ekstra hati-hati. Selalu memberlakukan prokes, tidak berkerumun, dan tentunya menjaga Kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh," ucap Deasy.
"Meskipun banyak terjadi protes karena kondisi perekonomian masyarakat semakin memburuk akibat serangkaian pembatasan dari pemerintah,penurunan kasus corona hingga menjadi 249 merupakan sesuatu yang patut diapresiasi," paparnya menambahkan.
Selama bulan Ramadan, Deasy semakin rindu suasana berpuasa di Indonesia. Ia menuturkan meski Libanon merupakan negara di Timur Tengah, tidak banyak masjid di sana.
Karena itu, Deasy mengandalkan jadwal imsakiyah yang dikeluarkan KBRI atau TV dan radio setempat untuk menjadi pengingat waktu salat dan berbuka.
Selain itu, Deasy memaparkan situasi perekonomian yang semakin sulit akibat pandemi membuat suasana bulan Ramadan kurang terasa di Beirut.
"Mesjid tidak sebanyak di Indonesia, yang hampir di setiap kelurahan ada masjid. Di Beirut sekitarnya, hanya ada beberapa mesjid, dan biasanya dibuka hanya pada waktu salat saja. Selama Ramadan ini, meskipun diberlakukan pembatasan, masjid boleh dibuka untuk salat tarawih dengan kapasitas terbatas," kata Deasy.
Selebihnya, Deasy menuturkan pengalaman berpuasa pertama kali di Beirut tidak banyak berbeda dengan di Indonesia. Ia menuturkan imsak di Beirut sekitar pukul 04.00 pagi dan berbuka sekitar pukul 19.20 malam.
Meskipun saat ini memasuki musim panas, tetapi kata Deay suhu di Beirut masih berasa di kisaran 24-27 derajat celcius.
"Meskipun demikian, semangat Ramadan tetap terasa di antara WNI. Sesekali kami berbuka puasa bersama dengan mematuhi protokol kesehatan, tidak lebih dari tujuh orang."
Yang paling berkesan sampai saat ini adalah saat berkesempatan ikut berbuka puasa bersama di KRI Sultan Hasanuddin yang baru tiba di Libanon awal April lalu. Karena bisa buka puasa dengan bakso, nasi goreng, dan ada takjil kue putu dan bubur kacang hijau juga!" tutur Deasy bersemangat.