AS: 28 Kasus Penggumpalan Darah dari Vaksin Johnson & Johnson

CNN Indonesia | Kamis, 13/05/2021 20:13 WIB
CDC AS mengidentifikasi 28 kasus penggumpalan darah setelah suntikan vaksin covid-19 Johnson & Johnson dari total 8,7 juta orang yang divaksin. CDC AS mengidentifikasi 28 kasus penggumpalan darah setelah suntikan vaksin covid-19 Johnson & Johnson dari total 8,7 juta orang yang divaksin. (CNN).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengidentifikasi total 28 kasus penggumpalan darah setelah menerima suntikan vaksin covid-19 racikan Johnson & Johnson di antara total 8,7 juta orang yang telah menerima vaksin tersebut.

Data tersebut diunggah hingga 7 Mei 2021. Sebelumnya, per 25 April, CDC telah melaporkan 17 kasus pembekuan darah dari hampir 8 juta orang yang divaksin.

Penggunaan vaksin ini sempat dihentikan pada 13 April lalu. Namun, 10 hari kemudian atau pada 23 April, penggunaan vaksin kembali diizinkan.


Pemimpin pemantauan keamanan vaksin covid-19 CDC, Tom Shimabukuro menyebut dari total 28 kasus itu, pasien menerima suntikan sebelum 13 April.

"Bukti saat ini menunjukkan hubungan sebab akibat yang masuk akal dengan vaksin Johnson & Johnson dan kasus trombosis dengan sindrom trombositopenia atau TTS," kata Shimabukuro seperti dilansir dari NBC News.

"Kondisi ini melibatkan pembekuan darah yang disertai dengan rendahnya trombosit. Peristiwa tersebut tampak serupa dengan apa yang diamati setelah administrasi tembakan AstraZeneca covid-19 di Eropa," kata dia menambahkan.

Dari laporan, sebagian besar kasus Johnson & Johnson di AS itu terjadi pada wanita berusia 18 hingga 49 tahun. Hanya enam kasus pada pria.

Adapun rentang usia, yakni 30 hingga 39 dan usia 40 hingga 49 sangat tinggi, menurut presentasi, masing-masing pada 12,4 kasus per juta dan 9,4 kasus per juta.

Waktu permulaan munculnya TTS terjadi tiga sampai 15 hari setelah vaksinasi, dengan rata-rata sembilan hari.

"Sebagian besar kasus memiliki gejala awal setelah vaksinasi sekitar satu hingga dua minggu," kata Shimabukuro.

(yoa/bir)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK