Menlu Iran Batalkan Kunjungan ke Austria Sebab Bendera Israel

CNN Indonesia | Senin, 17/05/2021 08:15 WIB
Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif, batal mengunjungi Austria karena pengibaran bendera Israel di Wina. Ilustrasi Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif,. (FABRICE COFFRINI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, membatalkan rencana kunjungan ke Austria, karena pemerintah setempat di bawah kepemimpinan Kanselir Sebastian Kurz mengibarkan bendera Bintang Daud dengan alasan sebagai wujud solidaritas terhadap Israel dari serangan Hamas.

"Kami sangat menyayangkan dan membuat cataten tersendiri mengenai hal ini, tetapi bagi kami di hari ketika Hamas meluncurkan lebih dari 2.000 roket ke wilayah permukiman sipil di Israel maka kami tidak akan tinggal diam," demikian isi pernyataan Kementerian Luar Negeri Austria, seperti dilansir surat kabar Die Presse dan dikutip Reuters, Senin (17/5).

Zarif seharusnya bertemu dengan Menlu Austria, Alexander Schallenberg, di Ibu Kota Wina pada akhir pekan lalu. Akan tetapi, kunjungan itu dibatalkan akibat kejadian tersebut.


Juru Bicara Kemenlu Iran, Saeed Khatibzadeh, buru-buru menyampaikan klarifikasi terkait pembatalan kunjungan Zarif ke Austria.

"Beliau tidak menganggap kunjungan itu tidak menguntungkan di saat seperti ini, maka dari itu rencana lawatan juga belum diputuskan," kata Khatibzadeh seperti dikutip kantor berita ISNA.

Padahal, lawatan Zarif ke Austria bertujuan untuk menggalang berunding demi menghidupkan kembali perjanjian pembatasan nuklir dan pencabutan sanksi bagi Iran yang diteken pada 2015 silam.

Pemerintah Amerika Serikat di masa pemerintahan Presiden Donald Trump memutuskan menarik diri dari perjanjian itu pada 2018 dan kembali menerapkan serangkaian sanksi bagi Iran.

Sementara itu, sikap Kurz sebagai kepala pemerintahan condong mendukung Israel. Dia memerintahkan langsung untuk mengibarkan bendera Bintang Daud di kantor kanselir pada Jumat pekan lalu sebagai bentuk dukungan atas konflik yang terjadi dengan Hamas di Jalur Gaza.

Keputusan Kurz dikritik oleh kepala delegasi perundingan Iran yang dikirim ke Wina, Abbas Araqchi.

"Wina adalah markas Badan Tenaga Atom Dunia (IAEA) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan mereka (Austria) selama ini adalah tuan rumah yang baik dalam perundingan. Saya terkejut dan kecewa melihat bendera rezim penjajah di kantor lembaga pemerintah di Wina, yang secara kejam membunuh warga sipil, termasuk anak-anak hanya dalam beberapa hari ini. Kami mendukung Palestina," demikian isi cuitan Araqchi melalui akun Twitter.

Peperangan antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza terjadi sejak menjelang akhir Ramadan. Kedua belah pihak saling meluncurkan serangan yang merenggut nyawa ratusan orang.

Sejumlah bangunan dan infrastruktur di Jalur Gaza rusak berat dihantam serangan udara Israel.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan menyatakan akan menyerang Hamas dengan kekuatan penuh dengan alasan sebagai pembalasan demi melindungi penduduknya.

Sejumlah pihak, termasuk PBB, mendesak supaya peperangan di Jalur Gaza segera diakhiri. Amerika Serikat sebagai sekutu Israel menyatakan siap menjadi penengah jika Hamas dan Israel ingin berunding dan melakukan gencatan senjata.

[Gambas:Video CNN]

(ayp/ayp/ayp)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK