Cerita 22 Uighur Eks Napi AS yang Dituduh China Ekstremisme

CNN Indonesia | Selasa, 18/05/2021 09:21 WIB
Sekitar 22 etnis Uighur pernah menjadi narapidana teroris di penjara Guantanamo, Amerika Serikat sekitar medio 2001. Ilustrasi keseharian Muslim Uighur di Xinjiang. (Greg Baker / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekitar 22 etnis Uighur pernah menjadi narapidana teroris di penjara Guantanamo, Amerika Serikat sekitar medio 2001.

Mereka ditahan tanpa pengadilan lantaran diduga pernah bergabung dalam kelompok Gerakan Islam Turkistan Timur (ETIM). Kelompok itu disebut terkait dengan Taliban dan Al Qaida.

AS saat itu juga mengelompokkan ETIM sebagai organisasi teroris.


Dokumen resmi Guantanamo yang dibocorkan WikiLeaks menuturkan ETIM merupakan "organisasi separatis Uighur yang didedikasikan untuk penciptaan sebuah negara Islam di China melalui pemberontakan dan terorisme."

ETIM mengklaim bersatu dengan Gerakan Islam Uzbekistan untuk membentuk organisasi teroris yang lebih besar dan didukung langsung oleh Al Qaida serta kelompok teroris lainnya.

Namun, di sisi lain, Taliban dan Al Qaida dilaporkan tidak familiar dengan ETIM.

Sejak saat itu, China mulai menyalahkan ETIM di balik hampir semua tindakan kekerasan yang terjadi di Xinjiang sejak pertengahan 1990 hingga hari ini.

Beijing juga disebut terus menerapkan aturan diskriminasi dan pembatasan lainnya terhadap etnis Uighur di Xinjiang dengan dalih mencegah radikalisme dan ekstremisme.

Dalam beberapa tahun terakhir, China dituding menahan sekitar satu juta etnis Uighur di Xinjiang dalam tempat penampungan layaknya kamp konsentrasi.

Namun, Beijing membantah hal itu dengan menegaskan bahwa kamp-kamp tersebut adalah kamp pelatihan vokasi untuk memberdayakan etnis Uighur di Xinjiang yang sebagian besar hidup dalam kemiskinan.

Sementara itu, setelah berjuang di pengadilan dan dibantu oleh kelompok hak asasi manusia, 22 orang Uighur tersebut dibebaskan secara bertahap oleh AS hingga 2013 lalu dan dinyatakan sebagai "non-kombatan".

China pun mengecam pembebasan puluhan etnis Uighur tersebut. Kemlu China pada akhir 2013 menganggap ETIM dan 22 etnis Uighur itu merupakan "teroris tanpa harus diragukan lagi."

"Para napi ini adalah anggota ETIM, sebuah organisasi yang dianggap teroris oleh Dewan Keamanan PBB. Mereka tidak hanya akan menimbulkan ancaman parah bagi keamanan nasional China, tapi juga bagi negara penerima mereka," ucap juru bicara Kemlu China saat itu, Qin Gang seperti dikutip CNN.

Pada November 2020, juru bicara Kemlu China, Wang Wenbin mengatakan ETIM "telah lama terlibat dalam kegiatan teroris dan kekerasan yang menyebabkan banyak korban jiwa dan kerugian harta benda." Beijing juga menganggap ETIM menimbulkan ancaman serius terhadap stabilitas China dan sekitarnya.

Sebuah video yang dirilis lembaga penyiaran China, CGTN, pada 2019 membandingkan ETIM dengan Al Qaida dan ISIS. CGTN bahkan melaporkan ETIM telah berupaya "merekrut" orang dalam skala besar dan menyebarkan ideologi radikal yang terus menyebabkan kekacauan di banyak negara."

Salah satu etnis Uighur mantan napi di Guantanamo, Abu Bakeer Qassim, menuturkan meski AS telah membebaskan mereka dari seluruh tuduhan terorisme, China terus menuding mereka bekerja untuk Taliban dan Al Qaida.

"Mereka (China) bahkan mengatakan Uighur adalah teroris yang memiliki hubungan dengan Al Qaida, Taliban, dan ISIS. Propaganda ini benar-benar berhasil," kata Qassim.

Sementara itu, sebagian besar pengamat menganggap hanya ada sedikit bukti independen untuk mengonfirmasi klaim China terkait pengaruh ETIM dengan radikalisme di negaranya.

"Pemahaman saya adalah bahwa sebenarnya tidak ada perlawanan militan terorganisir, melainkan ada insiden terpisah ini (di Xinjiang)," kata penulis buku 'The War on the Uyghurs: China's Internal Campaign Against a Muslim Minority', Sean Roberts.

"Apa yang terjadi setelah serangan 11 September 2001 di AS adalah bahwa pemerintah China mencoba mengubah semua insiden tersebut sebagai terkait dengan terorisme Islam dan secara terbuka mengatakan bahwa mereka didanai oleh Osama bin Laden," katanya.

Setelah bebas dari Guantanamo, puluhan etnis Uighur itu tetap tidak bisa kembali ke Xinjiang. Sebagian besar dari mereka kini tinggal di negara Eropa Timur dan Amerika Tengah yang merupakan sekutu dekat AS.

(rds/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK