Angka Kelahiran Warga Uighur Turun, China Dituduh Genosida

CNN Indonesia | Jumat, 14/05/2021 00:59 WIB
Angka kelahiran warga Uighur turun. China dituduh melakukan genosida lewat kebijakan kontrol kelahiran. Ilustrasi. Angka kelahiran warga Uighur turun, China dituduh melakukan genosida lewat kebijakan kontrol kelahiran. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kebijakan ketat China di wilayah sebelah barat jauh provinsi Xinjiang dituding menjadi penyebab penurunan angka kelahiran yang tajam bagi warga Uyghur dan minoritas lain.

Berdasarkan laporan Institut Kebijakan Strategis Australia (ASPI) kawasan Xinjiang mengalami "penurunan angka kelahiran tajam yang belum pernah terjadi sebelumnya di Xinjiang sejak 2017," mengutip Reuters.

Saat itu, China memulai kampanye untuk mengontrol angka kelahiran di wilayah tersebut. Laporan tersebut mengutip dari data resmi China.


Tingkat kelahiran Xinjiang turun hampir setengah dari 2017 hingga 2019, dan di negara-negara bagian di mana populasinya didominasi Uighur atau kelompok minoritas lainnya mengalami penurunan yang jauh lebih tajam daripada negara bagian lain. Sementara, pada 2010 dan 2018, Populasi Uyghur Xinjiang tumbuh lebih cepat daripada Han.

Sehingga, lembaga Australia itu menuding kebijakan China ini menambah bukti genosida yang dilakukan kepada kaum minoritas itu, kata ASPI dalam laporan yang dirilis Rabu (12/5).

Namun, China menolak tuduhan genosida itu. Mereka menyebut penurunan kelahiran terjadi karena perubahan tingkat kelahiran terkait dengan perbaikan kesehatan dan kebijakan ekonomi.

ASPI "memalsukan data dan mendistorsi fakta," kata Hua Chunying, juru bicara kementerian luar negeri China, dalam jumpa pers harian di Beijing, Kamis (13/8).

China menyebut kebijakan pengendalian kelahiran Xinjiang tidak menargetkan satu pun kelompok etnis minoritas.

Analisis ASPI didasarkan pada data kependudukan pemerintah China, termasuk angka populasi regional yang dirilis pada Maret.

"Analisis kami didasarkan pada data sebelumnya dan memberikan bukti kuat bahwa kebijakan pemerintah China di Xinjiang mungkin merupakan tindakan genosida," katanya.

Menurut ASPI, tingkat kelahiran di negara-negara dengan populasi penduduk asli lebih dari 90 persen itu rata-rata turun 56,5 persen dari 2017 hingga 2018. Penurunan ini jauh lebih banyak daripada daerah lain di provinsi Xinjiang dan wilayah China lain selama periode yang sama.

Denda, pengasingan, atau ancaman pengasingan, adalah di antara metode yang digunakan oleh pihak berwenang China untuk mencegah kelahiran.

Ada seruan yang berkembang di antara beberapa negara barat untuk menyelidiki apakah benar terjadi genosida di Xinjiang oleh China.

Pemerintah Amerika Serikat dan parlemen di negara-negara termasuk Inggris dan Kanada menyebut kebijakan China di Xinjiang sebagai genosida.

Menurut Konvensi Genosida PBB tahun 1948, perlu ada bukti bahwa Beijing memang berniat untuk menghancurkan populasi etnis itu untuk menggolongkan hal ini sebagai genosida.

Sebelumnya, kelompok hak asasi manusia, peneliti, mantan penduduk dan beberapa anggota parlemen barat mengatakan pihak berwenang Xinjiang telah secara sewenang-wenang menahan sekitar satu juta orang Uighur dan minoritas Muslim lainnya di jaringan kamp sejak 2016.

Beijing awalnya membantah mereka melakukan konsentrasi etnis Uighur di dalam kamp. Menurut China, pengumpulan penduduk itu adalah pusat pelatihan kejuruan yang dirancang untuk memerangi ekstremisme agama dan menyatakan semua orang di pusat pelatihan itu tersebut telah "lulus".

(eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK