Jakarta, CNN Indonesia -- Pertempuran Israel dan kelompok Hamas, Palestina, di perbatasan Jalur Gaza sudah berlangsung lebih dari sepekan terakhir tak kunjung reda, bahkan kian parah.
Israel terus menggempur Jalur Gaza dengan serangan udara. Sementara itu, Hamas dan kelompok militan Palestina lainnya menghujani wilayah Israel, termasuk Tel Aviv, dengan roket.
Hampir seluruh serangan Hamas tidak berdampak kerusakan dan kerugian berarti bagi Israel. Sebaliknya, serangan balasan Israel justru dinilai lebih mematikan dan merusak sejumlah basis Hamas hingga fasilitas publik di Jalur Gaza.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini, sebanyak 212 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel di Gaza. Sementara itu, sepuluh personel Israel tewas dalam bentrokan yang sama.
Sejak lama, Israel memang telah dianggap sebagai salah satu negara dengan kekuatan militer paling mumpuni di dunia.
Anggapan itu terbukti dari catatan kejayaan pasukan Israel di medan pertempuran, mulai dari Perang Israel-Arab pertama pada 1948 hingga Perang Enam Hari 1967.
Sejak 1985, Israel bahkan sudah menjadi negara pemasok alutsista modern terbesar di dunia dengan nilai penjualan senjata lebih dari US$6,5 miliar setiap tahunnya.
Berikut alasan Israel menjadi salah satu negara dengan kekuatan militer tercanggih di dunia.
Terdesak Ekonomi
Menurut Yaakov Katz, penulis buku 'The Weapon Wizards: How Israel Became a High-Tech Military Superpower', salah satu alasan militer Israel begitu kuat adalah desakan ekonomi.
Pada 1950 atau dua tahun setelah Israel terbentuk, mereka kesulitan menjalin hubungan perdagangan dengan negara lain.
Tak seperti kebanyakan negara tetangganya di Timur Tengah, Israel tidak memiliki sumber daya alam dan komoditas lain yang mempunyai nilai jual bersaing.
Di sisi lain, kebutuhan Israel terhadap persenjataan sangat tinggi lantaran hidup dikelilingi musuh-musuhnya, seperti Arab Saudi, Suriah, Libya, hingga Iran.
Sementara itu, warga Yahudi terkenal dengan budaya inovatif dankreativitasnya. Mereka menganggap kebutuhan akan persenjataan bisa dijadikan pemasukan bagi negara.
Orang Israel juga dinilai lebih berani mengambil risiko dibandingkan warga negara lain. Mereka pun terbiasa mengembangkan senjata sendiri.
Sebelum negara Israel resmi terbentuk pada 1948, bangsa Yahudi bahkan sudah rajin membuat senjata kecil dan bahan peledak sendiri di pabrik-pabrik senjata rahasia sekitar medio 1930-an.
Beragam senjata itu pada akhirnya digunakan pasukan Yahudi dalam Perang Arab-Israel pada 1948. Sejak itu, kapabilitas teknologi senjata Israel mulai dipertimbangkan.
Israel bahkan rela menghabiskan sekitar 4,5 persen GPD negara untuk penelitian dan pengembangan. Dari jumlah itu, sekitar 30 persen anggaran penelitian disalurkan untuk mengembangkan industri pertahanan.
 Tank Israel. (AP/Ariel Schalit) |
Seorang ahli politik Universitas Tel Aviv, Aaron S Klieman, mengatakan bahwa tingkat produksi senjata Israel yang tinggi ini membuat mereka harus ikut bermain dalam ekspor alutsista.
"Produksi senjata Israel telah mencapai tingkat produksi utama dan kepentingan dalam perekonomian Israel sehingga mengekspor senjata telah menjadi keharusan ekonomi negara itu," kata Klieman, seperti dikutip The New York Times.
"Jika strategi penjualan industri pertahanan Israel gagal, itu akan berdampak besar pada keamanan, kelangsungan ekonomi, dan diplomasi Israel."
Sebuah laporan yang disusun oleh Amnesty International, OXFAM International, dan International Action Network on Small Arms (IANSA) pun menyebutkan Israel menjadi pemain dominan di pasar senjata internasional sejak 2005.
Dua pertiga produksi senjata mereka diekspor ke negara-negara lain. Pasar utama mereka adalah negara-negara berkembang.
Empat perusahaan industri pertahanan Israel juga masuk dalam daftar 100 industri senjata terbesar dunia. Keempat perusahaan itu yakni Elbit, RAFAEL, IMI (Israel Military Industries), dan IAI (Israel Aircraft Industries).
Selain itu, berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institut (SIPRI) pada 2019, Israel menjadi pemasok senjata terbesar kesembilan di dunia.
Hidup Dikelilingi Musuh hingga Bantuan AS
Ilustrasi. (AP/Ariel Schalit)
Hidup Dikelilingi Musuh
Selain karena ekonomi, Israel juga terpaksa mengembangkan senjata sendiri lantaran hidup terus menerus dalam situasi perang, bahkan sejak awal negara tersebut terbentuk pada 1948.
Hampir setiap satu dekade hingga saat ini, Israel kerap berkonflik dengan negara tetangga, terutama kelompok milisi anti-Tel Aviv.
Keadaan itu memaksa orang Israel terus memutar otak demi membangun senjata canggih agar dapat bertahan hidup dari ancaman musuh.
Sebagai contoh, Tel Aviv berhasil menciptakan tank Merkava, salah satu proyek militer paling rahasia Israel. Tank tersebut dianggap sebagai paling mematikan bagi musuh dan paling aman bagi pasukannya.
Pemicu Israel bisa menciptakan teknologi tank Merkava sederhana, yakni karena kebutuhan. Di awal Israel terbentuk, Inggris dan sejumlah negara Barat menolak menjual tank kepada Israel. Sejak 1970, Israel pun mulai membangun tank sendiri.
Dilansir Gulf News, tak hanya tank, Israel juga menjadi salah satu negara pemasok pesawat nirawak (drone) dan senjata robot tercanggih di dunia.
 Ilustrasi. (AP/Ariel Schalit) |
Israel berhasil membuat Unmanned Ground Vehicles (UGV) Guardium yang dikerahkan untuk patroli perbatasan.
Dengan UGV Guardium tersebut, Israel menjadi satu-satunya negara saat ini yang mengerahkan kendaraan robot untuk menggantikan tentara dalam mengamankan perbatasan.
Salah satu alasan Israel menciptakan teknologi UGV Guardium adalah untuk meminimalisir ancaman terhadap para personel aktifnya yang hanya berjumlah sekitar 170 ribu.
Bantuan Amerika Serikat
AS sejak lama telah menjadi sekutu utama Israel. Menurut William D Hartung dan Frida Berrigan dari World Policy Institute, Israel telah menjadi salah satu negara penerima bantuan AS terbesar setiap tahun sejak 1976, termasuk untuk senjata.
Berdasarkan data Congressional Research Service, bantuan AS untuk Israel selama setengah abad terakhir mencapai US$81,3 miliar.
Dokumen The Jewish Federation of North America dan Israel Action Network bahkan menyebutkan, sejak 1985, Amerika Serikat telah memberikan US$3 miliar dalam bentuk hibah setiap tahun untuk Israel. Hampir hibah bantuan AS ke Israel itu merupakan bantuan militer.
[Gambas:Video CNN]
Hampir 75 persen dari dana bantuan AS tersebut digunakan Israel untuk membeli alutsista buatan Negeri Paman Sam.
Selain itu, AS memasok 64.744 senapan M16A1, 2.469 peluncur granat M-204, serta 1.500 senapan mesin M-2 kaliber 50 dan amunisi kaliber 30, 50, dan 20 mm, kepada Israel pada periode 1994-2001.
Pemberian senjata dan amunisi tersebut merupakan bagian dari program Excess Defense Articles (EDA), yang membuat Israel dapat secara gratis menerima suplai senjata dari AS.