Pangeran Yordania Disebut Minta Saudi Bantu Kudeta Raja

CNN Indonesia | Senin, 14/06/2021 10:58 WIB
Pangeran Hamzah bin Hussein dari Yordania disebut meminta dukungan Arab Saudi untuk menggulingkan kakak tirinya yang saat ini jadi pemimpin, Raja Abdullah II. Pangeran Hamzah bin Hussein dari Yordania disebut meminta dukungan Arab Saudi untuk menggulingkan kakak tirinya yang saat ini jadi pemimpin, Raja Abdullah II. (AFP/Khalil Mazraawi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pangeran Hamzah bin Hussein dari Yordania disebut meminta dukungan Arab Saudi untuk menggulingkan kakak tirinya yang saat ini menjadi pemimpin kerajaan, Raja Abdullah II.

Hal itu terungkap dalam dakwaan pengadilan dua tersangka kaki tangan Hamzah yang dirilis Minggu (13/6).

"Pangeran Hamzah bertekad memenuhi ambisi pribadinya untuk memerintah, yang melanggar konstitusi dan kebiasaan Kerajaan Hashemite," bunyi dokumen dakwaan tersebut.


"Agar berhasil, dia (Pangeran Hamzah) berusaha mengeksploitasi keprihatinan dan masalah penduduk untuk membangkitkan hasutan dan frustrasi di masyarakat."

Kedua terdakwa kaki tangan Hamzah itu terdiri dari mantan Kepala Istana Kerajaan, Bassem Awadallah, yang juga berkewarganegaraan Saudi, dan mantan utusan khusus kerajaan, Sharif Hassan bin Zaid. Keduanya disebut dekat dengan kerajaan Saudi.

Sejumlah media Yordania melaporkan bahwa Awadallah memiliki kedekatan dengan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salam.

Dokumen dakwaan menyatakan Awadallah "dekat dengan pejabat kerajaan Saudi" dan memiliki jaringan kontak di luar negeri.

Awadallah dan Hassan menghadapi persidangan di Pengadilan keamanan Negara akhir Juni mendatang. Menurut tim pengacara, keduanya terancam 20 tahun penjara jika terbukti bersalah.

Namun, sebagaimana dilansir AFP, Pangeran Hamzah sendiri tidak akan diadili terkait upayanya "mengguncang keamanan kerajaan."

Pihak berwenang mengatakan kasus Pangeran Hamzah telah diselesaikan secara kekeluargaan di antara anggota Kerajaan Hashemite.

Sementara itu, Saudi dengan cepat menyangkal tuduhan tersebut. Riyadh menyatakan "dukungan penuh" untuk Yordania dan keputusan yang diambil oleh Raja Abdullah II dan mantan Putra Mahkota Hamzah untuk menjaga keamanan dan stabilitas.

Secara terpisah, Pangeran Hamzah dilaporkan sangat prihatin dengan sikap Riyadh atas drama kerajaan yang menyeretnya itu.

"Jika sesuatu yang buruk terjadi pada saya di Yordania, apakah pejabat Saudi akan membantu saya atau tidak?" ucap Hamzah kepada Awadallah menurut dokumen dakwaan.

Pangeran Hamzah sempat dituduh hendak melakukan rencana jahat untuk mengguncang negara kerajaan tersebut.

Pangeran Hamzah sempat ditangkap dan menjadi tahanan rumah sekitar awal April lalu karena alasan keamanan dan stabilitas di Yordania.

Pemerintah Yordania mengklaim Pangeran Hamzah berhubungan dengan pihak asing untuk mengguncang negara itu. Amman mengklaim telah menyelidiki Pangeran Hamzah selama beberapa waktu terakhir.

Namun, Hamzah sendiri membantah melakukan konspirasi. Pangeran Hamzah akhirnya berjanji setia kepada Raja Abdullah II tak lama setelah ditahan.

Pangeran Hamzah merupakan putra tertua mendiang Raja Hussein dan Ratu Noor. Setelah ayahnya meninggal, Yordania dipimpin saudara tirinya, yakni Raja Abdullah.

[Gambas:Video CNN]

Hamzah kehilangan gelar putra mahkota setelah dicabut oleh Abdullah pada 2004. Dia menuduh para pemimpin Yordania korup dan tidak mampu menjalankan pemerintahan sehingga menyebabkan kehancuran.

Hamzah memang sempat melontarkan narasi menantang kerajaan.

Dia mengaku ditempatkan di tahanan rumah di Istana di Amman. Hamzah diminta militer tidak keluar rumah dan tidak berkomunikasi dengan orang lain.

Hamzah menegaskan bahwa ia tidak akan mematuhi perintah itu.

(rds/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK