Penentang Junta Myanmar Ramai-ramai Dukung Muslim Rohingya

CNN Indonesia | Selasa, 15/06/2021 07:54 WIB
Kelompok anti-junta Militer Myanmar ramai-ramai menunjukkan solidaritas untuk etnis Muslim Rohingya. Ilustrasi pengungsi Rohingya. (AP/Saleh Noman)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kelompok anti-junta Militer Myanmar ramai-ramai menunjukkan solidaritas untuk etnis Muslim Rohingya.

Mereka membanjiri media sosial Myanmar dengan foto-foto diri mengenakan pakaian hitam, pada Minggu (13/6) sebagai bentuk dukungan kepada Rohingya, salah satu kelompok minoritas paling teraniaya di negara itu.

Sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dari kekuasaan dalam kudeta 1 Februari, gerakan anti-junta yang menuntut kembalinya demokrasi telah berkembang termasuk memperjuangkan hak-hak etnis minoritas.


Rohingya, yang sebagian besar Muslim, tidak diakui sebagai warga negara di Myanmar. Mereka sudah sejak lama mengalami penganiayaan di tanah airnya sendiri.

Ratusan ribu orang melarikan diri dari tindakan keras militer tahun 2017 ke negara tetangga Bangladesh.

Aktivis dan warga sipil memposting foto diri mereka di media sosial mengenakan pakaian hitam sambil berpose simbol perlawanan salam tiga jari dengan tagar "#Black4Rohingya".

"Keadilan harus ditegakkan untuk Anda dan kami di Myanmar," kata aktivis HAM Thinzar Shunlei Yi di Twitter.

Seperti dikutip dari AFP, media lokal juga melaporkan ada aksi kecil di Yangon. Di sana para demonstran kompak berpakaian hitam sambil memegang spanduk protes Rohingya yang tertindas.

Pada Minggu sore, tagar #Black4Rohingya menjadi trending di Twitter Myanmar dengan lebih dari 332.000 mentions.

PBB mencatat sekitar 740 ribu etnis Rohingya meninggalkan negara bagian Rakhine pada Agustus 2017 untuk mengungsi ke Bangladesh karena ada upaya genosida.

Aung San Suu Kyi yang saat itu memimpin Myanmar membantah ada upaya pembantaian massal di Rakhine.

Peraih Nobel Perdamaian pada 1991 itu justru membela militer Myanmar dalam sidang atas kekejaman terhadap Rohingya di Pengadilan Kriminal Mahkamah Internasional pada 2019.

Publik Myanmar sebagian besar tidak simpatik dengan penderitaan Rohingya. Sementara para aktivis dan jurnalis yang melaporkan penderitaan Rohingya menghadapi sumpah serapah secara online.

(dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK