Foto Xi Jinping dan Upaya Hapus Pengaruh Dalai Lama di Tibet
CNN Indonesia
Kamis, 17 Jun 2021 09:56 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sejumlah biksu melewati mural potret Presiden China Xi Jinping di kuil Buddha, dekat Lhasa, Tibet, 31 Mei 2021. (AP/Mark Schiefelbein)
Jakarta, CNN Indonesia --
Angin kencang mengibarkan bendera-bendera berisi tulisan-tulisan doa dari warga Tibetdi sebuah kuil Buddha di kota Lhasa Di seberang jalan, sebuah spanduk merah berisi pesan dari partai penguasa China, Partai Komunis.
"Ideologi sosialis baru Xi Jinping dengan karakteristik China adalah panduan bagi seluruh partai dan segenap bangsa untuk memperjuangkan peremajaan besar China," demikian isi dari spanduk tersebut yang tertulis dalam aksara China dan Tibet seperti dikutip dari The Associated Press, Rabu (16/6).
Beberapa waktu lalu, pemerintah China membuka ruang bagi lebih dari selusin jurnalis asing untuk meliput kehidupan di sana. Seperti dikutip dari Reuters, jurnalis kantor berita asal Inggris yang turut dalam liputan tur tersebut menggambarkan bahwa di ibu kota Tibet, Lhasa, gambar dan spanduk Presiden China Xi Jinping dan rekan-rekannya di Partai Komunis China amat mudah ditemukan di setiap sudut-sudut utama kota.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menggambarkan foto Xi Jinping itu pun ditemukannya terpasang di ruang kelas, jalan, di depan kantor lembaga keagamaan, rumah, hingga kamar tidur seorang biksu Buddha.
Figur-figur sipil dan agama pun dihadirkan pemerintah China untuk diwawancara para jurnalis dalam tur ke Tibet yang berlangsung selama lima hari tersebut.
Salah satu biksu di kuil Jokhang, Lhasa, ditanya jurnalis Reuters soal pemimpin spritual dirinya memberikan jawaban: Xi.
"Saya tidak mabuk... Saya bicara dengan bebas ke Anda," ujar biksu yang bernama Lhakpa mencoba meyakinkan sang jurnalis di sebuah halaman kuil dengan pengawasan pemantau pemerintah juga kamera-kamera keamanan.
Jawaban hampir senada dalam tur liputan itu pun dilaporkan The Associated Press.
Saat menyambangi salah satu desa di timur Lhasa, Baji, jurnalis kantor berita yang berbasis di Amerika Serikat (AS) itu berbincang dengan warga, Tsering Yudron. Pria berusia 25 yang berprofesi sebagai akuntan itu mengatakan kampanye pengentasan kemiskinan oleh pemerintah China telah mengubah hidup mereka.
"Waktu telah berubah, sehingga tuntutan masyarakat telah berubah. Rakyat membutuhkan keyakinan agama sebagai makanan rohani mereka di masa lalu, tetapi sekarang kami tidak," ujar Yudron.
Sebelumnya, media-media barat memberitakan bahwa China menawarkan kehidupan bagi warga Tibet tanpa Dalai Lama dengan cara melakukan banyak pembangunan termasuk sekolah dan jalan, juga menjauhkan pengaruh tokoh spritual Dalai Lama.
Rombongan biksu Buddha melewati poster yang menampilkan gambar Presiden China Xi Jinping dan para pendahulunya, termasuk Mao Zedong, 15 Oktober 2020. (REUTERS/Thomas Peter)
Kecuali potret Xi Jinping dan kompatriotnya, berdasarkan laporan jurnalis-jurnalis media barat yang ikut dalam tur di Tibet tersebut, mereka sama sekali tak melihat poster atau spanduk yang menunjukkan citra Dalai Lama.
Pemerintah China pun diklaim telah menghabiskan miliaran dolar untuk membangun jalan, kelistrikan, bandara, kereta api, sekolah dan harapan hidup. Hal-hal semacam itu menciptakan pekerjaan dan peluang di wilayah yang sudah lama tertinggal.
"Tibet telah memberantas kemiskinan ekstrem," demikian bunyi laporan pemerintah China pada 2019 silam tentang Tibet.
"Rakyat sekarang menjalani kehidupan yang lebih baik dan hidup dalam kepuasan. Sebuah bentuk sosialis baru di Tibet telah mendapatkan bentuknya."
Dalam pernyataan terbarunya, Kementerian Luar Negeri China pun dengan bangga menyatakan, "Masyarakat dan ekonomi Tibet telah sampai pada pencapaian besar di bawah pengawasan pemerintah pusat China, dan dukungan kuat dari setiap rakyat China."
"Hak kebebasan beragama dari semua kelompok etnis di Tibet pun dilindungi konstitusi dan hukum," demikian sambungannya.
Selama kunjungan para jurnalis asing di Tibet itu pun, pejabat pemerintah yang mendampingi mengklaim ramainya gambar dan pesan pemimpin China menunjukan 'sikap patriotik' yang terbentuk di sana.
Selama ini dari Beijing menyatakan China telah membebaskan Tibet secara damai pada 1951, ketika pasukan negara tersebut masuk ke sana. Namun, langkah China itu mendapatkan perlawanan dari kelompok spritual yang dipimpin Jetsun Jamphel Ngawang Lobsang Yeshe Tenzin Gyatso sebagai Dalai Lama ke-14.
Dalai Lama sendiri kemudian terusir dari Tibet sejak 1959 silam, setelah perjuangannya melawan kekuasaan China dikandaskan. Dalai Lama dan puluhan pengikutnya kala itu menyeberang ke India melewati jalur pegunungan Himalaya.
Setelah itu China pun melarang setiap gambar Dalai Lama sejak 1996 silam untuk menekan pengaruhnya, termasuk dengan marak poster pemimpin Negara Tirai Bambu tersebut saat ini.
"Poster-poster [pemimpin China] itu bertepatan dengan program pendidikan politik besar-besaran yang disebut pendidikan 'rasa terima kasih kepada partai'," kata peneliti soal Tibet dari Universitas London, Inggris, Robert Barnett.
Barnett mengatakan pengelolaan sekolah di Tibet menjadi salah satu upaya China untuk mengubah pikiran generasi muda Tibet. Namun, Barnett menilai, China tetap meyakini perlu seorang pemimpin agama untuk bertindak sebagai wakil mereka untuk mengendalikan Tibet.
"ini semua tentang proyek sejarah jangka panjang untuk mengendalikan Dalai Lama berikutnya," katanya.
Dalai Lama yang kini terus menua, menyisakan pertanyaan siapa penerus yang menggantikan dirinya. Biasanya penunjukan itu berdasarkan tanda dan penerawangan spiritual.
Namun, China mengatakan hanya Beijing yang dapat menunjuk Dalai Lama berikutnya dalam sebuah ritual menggunakan guci emas untuk memilih kandidat yang disetujui pemerintah.
"Reinkarnasi kehidupan Buddha termasuk Dalai Lama harus mematuhi hukum dan peraturan China dan mengikuti ritual keagamaan dan konvensi sejarah," demikian pernyatan Kemenlu China pada 2019 silam.
Pemimpin spritual Tibet yang terasingkan, Dalai Lama, pada 9 April 2017. (AFP PHOTO / Biju BORO)
Dan, sejumlah rilis pun dikeluarkan pemerintahan China di Beijing untuk menggambarkan Dalai Lama. Salah satunya Kertas Putih yang dikeluarkan kantor informasi negara China pada 21 Mei lalu. Pada dokumen tersebut, digambarkan bahwa upaya Dalai lama dan pendukungnya mendorong kemerdekaan Tibet adalah sebagai provokasi yang mengancam perdamaian dan stabilitas.
"Sejak akhir 1970-an, Dalai Lama ke-14 dan para pendukungnya mulai mengubah taktik mereka. Sambil terus memprovokasi insiden kekerasan untuk terus menekan pemerintah pusat, mereka menyatakan komitmen untuk 'tanpa kekerasan' dan 'jalan tengah' untuk menipu dunia," demikian tertulis dalam Kertas Putih tersebut seperti dikutip dari Xinhua.
Xi Jinping saat mengunjungi Tibet pada Rabu (9/6), seperti dikutip dari People's Daily menyatakan pentingnya untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan China. Dia pun menegaskan China dan rakyatnya akan terus bergerak menjadi yang terkuat di antara masyarakat dunia.
Angin kencang mengibarkan bendera-bendera berisi tulisan-tulisan doa dari warga Tibetdi sebuah kuil Buddha di kota Lhasa Di seberang jalan, sebuah spanduk merah berisi pesan dari partai penguasa China, Partai Komunis.
"Ideologi sosialis baru Xi Jinping dengan karakteristik China adalah panduan bagi seluruh partai dan segenap bangsa untuk memperjuangkan peremajaan besar China," demikian isi dari spanduk tersebut yang tertulis dalam aksara China dan Tibet seperti dikutip dari The Associated Press, Rabu (16/6).
Beberapa waktu lalu, pemerintah China membuka ruang bagi lebih dari selusin jurnalis asing untuk meliput kehidupan di sana. Seperti dikutip dari Reuters, jurnalis kantor berita asal Inggris yang turut dalam liputan tur tersebut menggambarkan bahwa di ibu kota Tibet, Lhasa, gambar dan spanduk Presiden China Xi Jinping dan rekan-rekannya di Partai Komunis China amat mudah ditemukan di setiap sudut-sudut utama kota.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menggambarkan foto Xi Jinping itu pun ditemukannya terpasang di ruang kelas, jalan, di depan kantor lembaga keagamaan, rumah, hingga kamar tidur seorang biksu Buddha.
Figur-figur sipil dan agama pun dihadirkan pemerintah China untuk diwawancara para jurnalis dalam tur ke Tibet yang berlangsung selama lima hari tersebut.
Salah satu biksu di kuil Jokhang, Lhasa, ditanya jurnalis Reuters soal pemimpin spritual dirinya memberikan jawaban: Xi.
"Saya tidak mabuk... Saya bicara dengan bebas ke Anda," ujar biksu yang bernama Lhakpa mencoba meyakinkan sang jurnalis di sebuah halaman kuil dengan pengawasan pemantau pemerintah juga kamera-kamera keamanan.
Jawaban hampir senada dalam tur liputan itu pun dilaporkan The Associated Press.
Saat menyambangi salah satu desa di timur Lhasa, Baji, jurnalis kantor berita yang berbasis di Amerika Serikat (AS) itu berbincang dengan warga, Tsering Yudron. Pria berusia 25 yang berprofesi sebagai akuntan itu mengatakan kampanye pengentasan kemiskinan oleh pemerintah China telah mengubah hidup mereka.
"Waktu telah berubah, sehingga tuntutan masyarakat telah berubah. Rakyat membutuhkan keyakinan agama sebagai makanan rohani mereka di masa lalu, tetapi sekarang kami tidak," ujar Yudron.
Sebelumnya, media-media barat memberitakan bahwa China menawarkan kehidupan bagi warga Tibet tanpa Dalai Lama dengan cara melakukan banyak pembangunan termasuk sekolah dan jalan, juga menjauhkan pengaruh tokoh spritual Dalai Lama.
Rombongan biksu Buddha melewati poster yang menampilkan gambar Presiden China Xi Jinping dan para pendahulunya, termasuk Mao Zedong, 15 Oktober 2020. (REUTERS/Thomas Peter)
Kecuali potret Xi Jinping dan kompatriotnya, berdasarkan laporan jurnalis-jurnalis media barat yang ikut dalam tur di Tibet tersebut, mereka sama sekali tak melihat poster atau spanduk yang menunjukkan citra Dalai Lama.
Pemerintah China pun diklaim telah menghabiskan miliaran dolar untuk membangun jalan, kelistrikan, bandara, kereta api, sekolah dan harapan hidup. Hal-hal semacam itu menciptakan pekerjaan dan peluang di wilayah yang sudah lama tertinggal.
"Tibet telah memberantas kemiskinan ekstrem," demikian bunyi laporan pemerintah China pada 2019 silam tentang Tibet.
"Rakyat sekarang menjalani kehidupan yang lebih baik dan hidup dalam kepuasan. Sebuah bentuk sosialis baru di Tibet telah mendapatkan bentuknya."
Dalam pernyataan terbarunya, Kementerian Luar Negeri China pun dengan bangga menyatakan, "Masyarakat dan ekonomi Tibet telah sampai pada pencapaian besar di bawah pengawasan pemerintah pusat China, dan dukungan kuat dari setiap rakyat China."
"Hak kebebasan beragama dari semua kelompok etnis di Tibet pun dilindungi konstitusi dan hukum," demikian sambungannya.
Selama kunjungan para jurnalis asing di Tibet itu pun, pejabat pemerintah yang mendampingi mengklaim ramainya gambar dan pesan pemimpin China menunjukan 'sikap patriotik' yang terbentuk di sana.
Rombongan biksu Buddha melewati poster yang menampilkan gambar Presiden China Xi Jinping dan para pendahulunya, termasuk Mao Zedong, 15 Oktober 2020. (REUTERS/Thomas Peter)
Selama ini dari Beijing menyatakan China telah membebaskan Tibet secara damai pada 1951, ketika pasukan negara tersebut masuk ke sana. Namun, langkah China itu mendapatkan perlawanan dari kelompok spritual yang dipimpin Jetsun Jamphel Ngawang Lobsang Yeshe Tenzin Gyatso sebagai Dalai Lama ke-14.
Dalai Lama sendiri kemudian terusir dari Tibet sejak 1959 silam, setelah perjuangannya melawan kekuasaan China dikandaskan. Dalai Lama dan puluhan pengikutnya kala itu menyeberang ke India melewati jalur pegunungan Himalaya.
Setelah itu China pun melarang setiap gambar Dalai Lama sejak 1996 silam untuk menekan pengaruhnya, termasuk dengan marak poster pemimpin Negara Tirai Bambu tersebut saat ini.
"Poster-poster [pemimpin China] itu bertepatan dengan program pendidikan politik besar-besaran yang disebut pendidikan 'rasa terima kasih kepada partai'," kata peneliti soal Tibet dari Universitas London, Inggris, Robert Barnett.
Barnett mengatakan pengelolaan sekolah di Tibet menjadi salah satu upaya China untuk mengubah pikiran generasi muda Tibet. Namun, Barnett menilai, China tetap meyakini perlu seorang pemimpin agama untuk bertindak sebagai wakil mereka untuk mengendalikan Tibet.
"ini semua tentang proyek sejarah jangka panjang untuk mengendalikan Dalai Lama berikutnya," katanya.
Dalai Lama yang kini terus menua, menyisakan pertanyaan siapa penerus yang menggantikan dirinya. Biasanya penunjukan itu berdasarkan tanda dan penerawangan spiritual.
Namun, China mengatakan hanya Beijing yang dapat menunjuk Dalai Lama berikutnya dalam sebuah ritual menggunakan guci emas untuk memilih kandidat yang disetujui pemerintah.
"Reinkarnasi kehidupan Buddha termasuk Dalai Lama harus mematuhi hukum dan peraturan China dan mengikuti ritual keagamaan dan konvensi sejarah," demikian pernyatan Kemenlu China pada 2019 silam.
Pemimpin spritual Tibet yang terasingkan, Dalai Lama, pada 9 April 2017. (AFP PHOTO / Biju BORO)
Dan, sejumlah rilis pun dikeluarkan pemerintahan China di Beijing untuk menggambarkan Dalai Lama. Salah satunya Kertas Putih yang dikeluarkan kantor informasi negara China pada 21 Mei lalu. Pada dokumen tersebut, digambarkan bahwa upaya Dalai lama dan pendukungnya mendorong kemerdekaan Tibet adalah sebagai provokasi yang mengancam perdamaian dan stabilitas.
"Sejak akhir 1970-an, Dalai Lama ke-14 dan para pendukungnya mulai mengubah taktik mereka. Sambil terus memprovokasi insiden kekerasan untuk terus menekan pemerintah pusat, mereka menyatakan komitmen untuk 'tanpa kekerasan' dan 'jalan tengah' untuk menipu dunia," demikian tertulis dalam Kertas Putih tersebut seperti dikutip dari Xinhua.
Xi Jinping saat mengunjungi Tibet pada Rabu (9/6), seperti dikutip dari People's Daily menyatakan pentingnya untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan China. Dia pun menegaskan China dan rakyatnya akan terus bergerak menjadi yang terkuat di antara masyarakat dunia.