Lacak Seumur Hidup dan Upaya China Hapus Tragedi Tiananmen
CNN Indonesia
Rabu, 23 Jun 2021 10:48 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi bendera China. (AFP PHOTO / ATTILA KISBENEDEK)
Jakarta, CNN Indonesia --
Partai penguasa Tingkok, Partai Komunis China melantik ribuan anggotanya di Museum CPC, Beijing, Selasa (22/6).
Pengambilan sumpah itu dipimpin anggota Biro Politik sekaligus ketua bidang organisasi Komite Sentral CPC, Chen XI.
Dalam pidatonya, dia meminta para anggota partai mendedikasikan diri untuk melayani, memikul tanggung jawab dan menjadi teladan bagi rakyat.
Acara tersebut juga bertepatan dengan peringatan 100 tahun berdirinya CPC, yang akan digelar 1 Juli mendatang.
Tiga puluh dua tahun lalu, 4 Juni 1989 Partai Komunis China menjadi sorotan, saat mereka berusaha menghancurkan protes besar-besaran yang dilakukan oleh para mahasiswa di Beijing, tepatnya di Lapangan Tiananmen.
Aksi protes itu dipicu keputusan China mulai mengizinkan perusahaan swasta dan investasi asing.
Pemerintah berharap langkah itu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan standar hidup masyarakat. Sayangnya, upaya itu diiringi praktik korupsi yang meluas.
Tindakan keras CPC terhadap aksi massa di Tianamen takkan pernah hilang dari ingatan Fan Baolin, yang menjalani hukuman selama 17 tahun penjara.
Tahun lalu, ia melarikan diri dari China agar terhindar dari pengawasan dan tekanan keluarga.
Pengawasan itu berupa kamera yang dipasang di apartemennya dan pihak keluarga terus meminta Fan agar tak melakukan lebih banyak aktivitas.
"Begitu Anda berada di daftar hitam pemerintah China, Anda akan dilacak seumur hidup," kata Fan kepada The Associated Press.
Kerabat dari korban yang meninggal juga diawasi dengan ketat. Menjelang peringatan peristiwa itu, beberapa ditahan bahkan dipaksa untuk menjauh dari rumah.
Langkah demikian dilakukan partai sebagai antisipasi agar kerabat korban tak melakukan aktivitas yang mungkin menarik perhatian.
Para pemimpin partai telah memenjarakan atau mendorong para aktivis ke pengasingan untuk menghapus tragedi Tiananmen dari sejarah.
Sebagian besar berhasil memastikan para pemuda hanya memahami sedikit mengenai peristiwa itu.
Peringatan Tiananmen selalu dilarang di China. Ritual Vigils untuk memperingatinya sempat diadakan secara terbuka di Hong Kong dan Makau, wilayah China dengan kontrol politik yang lebih sedikit, namun tahun ini pihak berwenang melarang acara tersebut.
"Mereka hanya terus meningkatkan represi," kata Yaqiu Wang dari Human Rights Watch dalam sebuah laporan bulan Juni.
Pada tahun 1999, Fan ditangkap lantaran memberikan dokumen rahasia kepada para aktivis di luar negeri mengenai pengawasan terhadap orang-orang buangan pro demokrasi China.
Usai keluar dari bui, Fan tinggal di kampung halamannya di Xi'an, di barat China, tentu saja di bawah pengawasan dan pembatasan.
Menurutnya polisi kerap mencegah ia meninggalkan kota, melacak ponselnya hingga menguping pembicaraan di telepon.
Untuk melindungi keluarganya, Fan jarang menghubungi mereka. Dia khawatir mereka mungkin dihukum, jika mantan demonstran itu dituduh melakukan lebih banyak kesalahan.
"Mereka mencari saudara laki-laki dan perempuan saya," katanya.
Pihak berwenang ingin membuat anggota keluarganya membujuk, dan mengendalikan Fan agar tidak berpartisipasi lagi dalam hal semacam itu.
"Seperti yang mereka semua tahu, telepon saya dipantau, jadi begitu saya menelepon dan begitu mereka menjawab, mereka ketakutan," Ucap Fan.
"Ini merupakan ketakutan yang diciptakan oleh kebijakan domestik Partai Komunis sekarang."
Fan menceritakan saat bepergian ke kota-kota lain pada tahun 2017 hanya sekadar menyapa teman-temannya. Tapi kemudian polisi menelpon setiap hari untuk menanyakan apa yang dia lakukan.
Saat mengambil paket liburan ke provinsi Yunnan tahun 2018 lalu, polisi menahan dan mengirimnya kembali ke Xi'an.
Fan meninggalkan Beijing akhir Mei. Matanya berlinang saat menceritakan kejadian tersebut.
Kemudian, Fan belajar hukum dan bekerja sebagai konsultan hukum sebelum bergabung dengan polisi di provinsi Shaanxi.
Tahun 1994 ia pindah ke agen keamanan dan ditugaskan untuk mengawasi publik, membaca surat mereka, dan mencari kemungkinan hubungan dengan pihak asing.
Meski demikian, Fan tetap berharap China yang demokratis.
Fan dihukum karena memberikan dokumen rahasia negara secara ilegal di luar negeri. Ia mengirim faks ke badan keamanan kelompok gerakan pro-demokrasi di Los Angeles.
Menurut dokumen yang diberikan Fan kepada AP, disebutkan dia telah berjanji menggunakan jabatannya untuk menyampaikan laporan intelijen tentang kelompok tersebut.
Laporan itu tidak memberikan rincian dokumen yang dituduhkan Fan bocor. "Saya tidak melakukannya demi uang dari Taiwan atau pemerintah AS," ucap Fan.
"Saya berada di pihak gerakan pro-demokrasi dan memberikan intelijen kepada teman-teman dalam gerakan pro-demokrasi."
Kasus Fan dibeberkan kepada kelompok-kelompok hak asasi manusia pada tahun 2007 oleh seorang mantan narapidana, Zhao Changqing, menurut Yayasan Dui Hua di San Francisco. Setelah itu, Fan terdaftar sebagai tahanan politik oleh Duihua dan kelompok hak asasi manusia.
Setelah Fan bebas, polisi mengajak makan, hal itu merupakan bagian dari upaya ekstensif untuk melacaknya.
"Mereka akan kembali, membuat daftar rincian pertemuan kami dan melaporkan secara teratur ke tingkat yang lebih tinggi tentang dinamika pemikiran saya di masa sensitif dan dalam kegiatan apa yang kami ambil," ujarnya.
Orang tua Fan meninggal saat ia masih mendekam di penjara. Namun dia tidak mengetahuinya sampai dibebaskan, lebih dari satu dekade kemudian.
Hari ini, Fan tinggal di apartemen kecil dengan tempat tidur lipat dan kipas, sambil menunggu kabar tentang pengajuan suakanya.
Selama dua tahun pertama keluar dari penjara, Fan jarang keluar rumah. Ia menganggap dunia ini aneh.
Saat berkunjung ke Beijing di peringatan 30 tahun protes Tiananmen, 2019 lalu, polisi dari Xi'an menelepon Fan dan memerintahkan untuk kembali ke rumah.
Tak satupun orang yang diberitahu saat Fan meninggalkan China. Dia membuang ponsel untuk mencegah pihak berwenang melacak keberadaannya. Dia lalu berjalan ke perbatasan selatan kemudian menyeberang.
"Saya tidak akan kembali ke China," katanya. "Ini adalah perjalanan untuk tidak kembali."
Jakarta, CNN Indonesia --
Partai penguasa Tingkok, Partai Komunis China melantik ribuan anggotanya di Museum CPC, Beijing, Selasa (22/6).
Pengambilan sumpah itu dipimpin anggota Biro Politik sekaligus ketua bidang organisasi Komite Sentral CPC, Chen XI.
Dalam pidatonya, dia meminta para anggota partai mendedikasikan diri untuk melayani, memikul tanggung jawab dan menjadi teladan bagi rakyat.
Acara tersebut juga bertepatan dengan peringatan 100 tahun berdirinya CPC, yang akan digelar 1 Juli mendatang.
Tiga puluh dua tahun lalu, 4 Juni 1989 Partai Komunis China menjadi sorotan, saat mereka berusaha menghancurkan protes besar-besaran yang dilakukan oleh para mahasiswa di Beijing, tepatnya di Lapangan Tiananmen.
Aksi protes itu dipicu keputusan China mulai mengizinkan perusahaan swasta dan investasi asing.
Pemerintah berharap langkah itu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan standar hidup masyarakat. Sayangnya, upaya itu diiringi praktik korupsi yang meluas.
Tindakan keras CPC terhadap aksi massa di Tianamen takkan pernah hilang dari ingatan Fan Baolin, yang menjalani hukuman selama 17 tahun penjara.
Tahun lalu, ia melarikan diri dari China agar terhindar dari pengawasan dan tekanan keluarga.
Pengawasan itu berupa kamera yang dipasang di apartemennya dan pihak keluarga terus meminta Fan agar tak melakukan lebih banyak aktivitas.
"Begitu Anda berada di daftar hitam pemerintah China, Anda akan dilacak seumur hidup," kata Fan kepada The Associated Press.
Kerabat dari korban yang meninggal juga diawasi dengan ketat. Menjelang peringatan peristiwa itu, beberapa ditahan bahkan dipaksa untuk menjauh dari rumah.
Langkah demikian dilakukan partai sebagai antisipasi agar kerabat korban tak melakukan aktivitas yang mungkin menarik perhatian.
Para pemimpin partai telah memenjarakan atau mendorong para aktivis ke pengasingan untuk menghapus tragedi Tiananmen dari sejarah.
Sebagian besar berhasil memastikan para pemuda hanya memahami sedikit mengenai peristiwa itu.
Peringatan Tiananmen selalu dilarang di China. Ritual Vigils untuk memperingatinya sempat diadakan secara terbuka di Hong Kong dan Makau, wilayah China dengan kontrol politik yang lebih sedikit, namun tahun ini pihak berwenang melarang acara tersebut.
"Mereka hanya terus meningkatkan represi," kata Yaqiu Wang dari Human Rights Watch dalam sebuah laporan bulan Juni.
Pada tahun 1999, Fan ditangkap lantaran memberikan dokumen rahasia kepada para aktivis di luar negeri mengenai pengawasan terhadap orang-orang buangan pro demokrasi China.
Usai keluar dari bui, Fan tinggal di kampung halamannya di Xi'an, di barat China, tentu saja di bawah pengawasan dan pembatasan.
Menurutnya polisi kerap mencegah ia meninggalkan kota, melacak ponselnya hingga menguping pembicaraan di telepon.
Untuk melindungi keluarganya, Fan jarang menghubungi mereka. Dia khawatir mereka mungkin dihukum, jika mantan demonstran itu dituduh melakukan lebih banyak kesalahan.
"Mereka mencari saudara laki-laki dan perempuan saya," katanya.
Pihak berwenang ingin membuat anggota keluarganya membujuk, dan mengendalikan Fan agar tidak berpartisipasi lagi dalam hal semacam itu.
"Seperti yang mereka semua tahu, telepon saya dipantau, jadi begitu saya menelepon dan begitu mereka menjawab, mereka ketakutan," Ucap Fan.
"Ini merupakan ketakutan yang diciptakan oleh kebijakan domestik Partai Komunis sekarang."
Fan menceritakan saat bepergian ke kota-kota lain pada tahun 2017 hanya sekadar menyapa teman-temannya. Tapi kemudian polisi menelpon setiap hari untuk menanyakan apa yang dia lakukan.
Saat mengambil paket liburan ke provinsi Yunnan tahun 2018 lalu, polisi menahan dan mengirimnya kembali ke Xi'an.
Fan meninggalkan Beijing akhir Mei. Matanya berlinang saat menceritakan kejadian tersebut.
Kemudian, Fan belajar hukum dan bekerja sebagai konsultan hukum sebelum bergabung dengan polisi di provinsi Shaanxi.
Tahun 1994 ia pindah ke agen keamanan dan ditugaskan untuk mengawasi publik, membaca surat mereka, dan mencari kemungkinan hubungan dengan pihak asing.
Meski demikian, Fan tetap berharap China yang demokratis.
Fan dihukum karena memberikan dokumen rahasia negara secara ilegal di luar negeri. Ia mengirim faks ke badan keamanan kelompok gerakan pro-demokrasi di Los Angeles.
Menurut dokumen yang diberikan Fan kepada AP, disebutkan dia telah berjanji menggunakan jabatannya untuk menyampaikan laporan intelijen tentang kelompok tersebut.
Laporan itu tidak memberikan rincian dokumen yang dituduhkan Fan bocor. "Saya tidak melakukannya demi uang dari Taiwan atau pemerintah AS," ucap Fan.
"Saya berada di pihak gerakan pro-demokrasi dan memberikan intelijen kepada teman-teman dalam gerakan pro-demokrasi."
Kasus Fan dibeberkan kepada kelompok-kelompok hak asasi manusia pada tahun 2007 oleh seorang mantan narapidana, Zhao Changqing, menurut Yayasan Dui Hua di San Francisco. Setelah itu, Fan terdaftar sebagai tahanan politik oleh Duihua dan kelompok hak asasi manusia.
Setelah Fan bebas, polisi mengajak makan, hal itu merupakan bagian dari upaya ekstensif untuk melacaknya.
"Mereka akan kembali, membuat daftar rincian pertemuan kami dan melaporkan secara teratur ke tingkat yang lebih tinggi tentang dinamika pemikiran saya di masa sensitif dan dalam kegiatan apa yang kami ambil," ujarnya.
Orang tua Fan meninggal saat ia masih mendekam di penjara. Namun dia tidak mengetahuinya sampai dibebaskan, lebih dari satu dekade kemudian.
Hari ini, Fan tinggal di apartemen kecil dengan tempat tidur lipat dan kipas, sambil menunggu kabar tentang pengajuan suakanya.
Selama dua tahun pertama keluar dari penjara, Fan jarang keluar rumah. Ia menganggap dunia ini aneh.
Saat berkunjung ke Beijing di peringatan 30 tahun protes Tiananmen, 2019 lalu, polisi dari Xi'an menelepon Fan dan memerintahkan untuk kembali ke rumah.
Tak satupun orang yang diberitahu saat Fan meninggalkan China. Dia membuang ponsel untuk mencegah pihak berwenang melacak keberadaannya. Dia lalu berjalan ke perbatasan selatan kemudian menyeberang.
"Saya tidak akan kembali ke China," katanya. "Ini adalah perjalanan untuk tidak kembali."