Lacak Seumur Hidup dan Upaya China Hapus Tragedi Tiananmen

CNN Indonesia
Rabu, 23 Jun 2021 10:48 WIB
Tiga puluh dua tahun lalu Partai Komunis China menjadi sorotan, saat mereka berusaha menghancurkan protes besar-besaran di Lapangan Tiananmen.
Peringatan tragedi Tiananmen CATHERINE HENRIETTE / AFP

Fan menceritakan saat bepergian ke kota-kota lain pada tahun 2017 hanya sekadar menyapa teman-temannya. Tapi kemudian polisi menelpon setiap hari untuk menanyakan apa yang dia lakukan.

Saat mengambil paket liburan ke provinsi Yunnan tahun 2018 lalu, polisi menahan dan mengirimnya kembali ke Xi'an.

Fan meninggalkan Beijing akhir Mei. Matanya berlinang saat menceritakan kejadian tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian, Fan belajar hukum dan bekerja sebagai konsultan hukum sebelum bergabung dengan polisi di provinsi Shaanxi.

Tahun 1994 ia pindah ke agen keamanan dan ditugaskan untuk mengawasi publik, membaca surat mereka, dan mencari kemungkinan hubungan dengan pihak asing.

Meski demikian, Fan tetap berharap China yang demokratis.

Fan dihukum karena memberikan dokumen rahasia negara secara ilegal di luar negeri. Ia mengirim faks ke badan keamanan kelompok gerakan pro-demokrasi di Los Angeles.

Menurut dokumen yang diberikan Fan kepada AP, disebutkan dia telah berjanji menggunakan jabatannya untuk menyampaikan laporan intelijen tentang kelompok tersebut.

Laporan itu tidak memberikan rincian dokumen yang dituduhkan Fan bocor. "Saya tidak melakukannya demi uang dari Taiwan atau pemerintah AS," ucap Fan.

"Saya berada di pihak gerakan pro-demokrasi dan memberikan intelijen kepada teman-teman dalam gerakan pro-demokrasi."

Kasus Fan dibeberkan kepada kelompok-kelompok hak asasi manusia pada tahun 2007 oleh seorang mantan narapidana, Zhao Changqing, menurut Yayasan Dui Hua di San Francisco. Setelah itu, Fan terdaftar sebagai tahanan politik oleh Duihua dan kelompok hak asasi manusia.

Setelah Fan bebas, polisi mengajak makan, hal itu merupakan bagian dari upaya ekstensif untuk melacaknya.

"Mereka akan kembali, membuat daftar rincian pertemuan kami dan melaporkan secara teratur ke tingkat yang lebih tinggi tentang dinamika pemikiran saya di masa sensitif dan dalam kegiatan apa yang kami ambil," ujarnya.

Orang tua Fan meninggal saat ia masih mendekam di penjara. Namun dia tidak mengetahuinya sampai dibebaskan, lebih dari satu dekade kemudian.

Hari ini, Fan tinggal di apartemen kecil dengan tempat tidur lipat dan kipas, sambil menunggu kabar tentang pengajuan suakanya.

Selama dua tahun pertama keluar dari penjara, Fan jarang keluar rumah. Ia menganggap dunia ini aneh.

Saat berkunjung ke Beijing di peringatan 30 tahun protes Tiananmen, 2019 lalu, polisi dari Xi'an menelepon Fan dan memerintahkan untuk kembali ke rumah.

Tak satupun orang yang diberitahu saat Fan meninggalkan China. Dia membuang ponsel untuk mencegah pihak berwenang melacak keberadaannya. Dia lalu berjalan ke perbatasan selatan kemudian menyeberang.

"Saya tidak akan kembali ke China," katanya. "Ini adalah perjalanan untuk tidak kembali."

(isa/dea)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER