Inggris dan AS Mulai Khawatir Lonjakan Covid Varian Delta

CNN Indonesia | Rabu, 23/06/2021 12:06 WIB
Inggris dan Amerika Serikat mulai khawatir dengan lonjakan kasus Covid-19 varian Delta. Di Inggris varian tersebut sudah mencapai 70 ribu lebih kasus. Ilustrasi pandemi virus corona di Amerika Serikat. (AFP/AL BELLO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Inggris dan Amerika Serikat mulai khawatir dengan lonjakan kasus Covid-19 varian Delta. Terutama Inggris di mana varian tersebut sudah mencapai 70 ribu lebih kasus.

Di Inggris, 90 persen lebih kasus aktif corona merupakan varian delta sehingga menyebabkan lonjakan penularan yang signifikan di negara itu.

Pada Kamis (17/6) untuk pertama kalinya dalam empat bulan Inggris mencatat 11.007 kasus baru selama 24 jam terakhir.


Mengutip The Guardian, hingga 18 Juni kasus varian Delta di Inggris mencapai 75.953. Menurut data Public Health England (PHE) berdasarkan sekuensing seluruh genom (WGS), 99 persen kasus Covid di negara pimpinan Boris Johnson, melibatkan varian Delta.

"Ini naik, mungkin kita bisa sedikit optimis itu tidak akan naik lebih cepat, tapi bagaimanapun itu naik, jadi gelombang ketiga ini pasti sedang berlangsung," ujar penasihat Komite Gabungan untuk Vaksinasi dan Imunisasi (JVCI), Adam Finn.

Inggris harus memvaksinasi penduduknya dengan cepat untuk mencegah lonjakan kasus dan kematian.

"Kita dapat menyimpulkan bahwa perlombaan antara program vaksin, terutama untuk mendapatkan dosis kedua orang tua dilakukan, dan gelombang ketiga varian Delta," tambah Finn, mengutip The Guardian, Sabtu (19/6).

Beruntungnya menurut penelitian dari PHE juga dua dosis vaksiN Pfizer-BioNTech diklaim 88 persen efektif terhadap penyakit simtomatik dari varian Delta.

Sementara di Amerika Serikat sejumlah pakar kesehatan mulai mengkhawatirkan varian yang pertama kali teridentifikasi di India itu.

"(varian delta) ini adalah yang paling menular dari semua varian yang pernah kami lihat," kata Dekan Sekolah Nasional kedokteran, di Baylor College of Medicine, Texas, Peter Hotez kepada CNN, Senin (21/6).

"Kami melihat apa yang terjadi di Inggris, di mana itu terjadi di seluruh negara. Jadi saya khawatir itu akan terjadi di AS," ucapnya.

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, Rochelle Walensky mengatakan perlunya mengantisipasi varian Delta yang akan menjadi varian utama dalam beberapa bulan mendatang.

Bahkan, menurut wakil presiden di Helix, perusahaan yang membantu melacak sejumlah varian, William Lee lonjakan varian Delta akan datang dalam hitungan minggu bukan beberapa bulan lagi.

"Ini sangat menular, kecuali tingkat vaksinasi Anda cukup tinggi, Anda masih akan merasakan wabah," kata Lee.

Varian yang lebih menular seperti Delta juga meningkatkan standar berapa persen populasi yang harus divaksinasi untuk mencapai kekebalan kelompok ini.

"Yang lebih mengkhawatirkan adalah kita tahu bahwa ada kelompok orang yang tidak divaksinasi," kata dia.

"Jadi saya khawatir Delta menyebar dengan sangat cepat di kelompok-kelompok itu."

Dua pekan sebelum 5 Juni, CDC memperkirakan 10 persen kasus infeksi Covid-19 di AS merupakan varian Delta. Dan sekarang menurut para pakar, termasuk Anthony Fauci, varian itu menyumbang seperlima dari kasus di Negeri Paman Sam.

"Pada beberapa hari yang lalu, 20,6 persen dari (pasien) isolasi adalah varian Delta," kata Fauci.

Angka itu terus bertambah setiap dua minggunya, imbuh pakar kesehatan AS itu.

Dihadapkan dengan varian yang lebih menular, ahli epidemiolog di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Justin Lessler memperkirakan lonjakan terjadi di akhir musim panas (September), atau di awal musim gugur.

Lessler bekerja sama dengan belasan institusi lain di Pusat Pemodelan Skenario Covid-19 untuk meramalkan pandemi di masa depan.

Model terbaru menemukan bahwa varian mirip Delta yang diasumsikan 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alpha, dapat mengakibatkan lonjakan Covid-19. Hingga titik tertentu, menyebabkan lebih dari 3.000 kematian per minggu di berbagai titik selama musim gugur dan musim dingin.

Namun menurut model tersebut, 86 persen orang Amerika yang memenuhi syarat divaksin -- artinya, mereka yang berusia 12 tahun ke atas -- dapat mencegah kasus kematian lebih dari 10 ribu pada akhir November.

Namun, kecepatan vaksinasi melambat di beberapa negara bagian dalam beberapa minggu terakhir. Menurut Lessler lonjakan Covid-19 tidak akan dialami secara seragam di seluruh negeri.

"Negara bagian yang memiliki tingkat vaksinasi lebih rendah, dan tingkat vaksinasi yang diproyeksikan lebih rendah, yang berpotensi mengalami kenaikan itu."

Fauci menyebut Delta sebagai "ancaman terbesar" AS dalam perjuangan melawan virus corona.

(isa/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK