Jakarta, CNN Indonesia -- Virus corona varian Delta yang pertama kali terdeteksi di India dilaporkan telah terdeteksi menyebar ke 92 negara.
Para ilmuwan mengkhawatirkan varian Covid-19 yang lebih cepat menular itu bisa menjadi strain dominan virus corona di seluruh dunia jika terus menyebar luas.
Ahli kesehatan dunia bahkan khawatir varian baru corona ini sudah menyebar lebih jauh di negara berkembang dengan sistem kesehatan dan pemantauan yang kurang memadai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Virus corona varian Delta atau SARS-CoV.2.B.1.617.2 merupakan mutasi dari Covid-19 yang selama ini mewabah (SARS-CoV.2 B.1.617).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 31 Mei 2021 memasukkan varian Delta ke dalam kategori Variant of Concern (VOC). VOC terdiri dari varian Alpha (B.1.1.7), Beta (B.1.351), Gamma (P.1), dan yang terbaru adalah Delta (B.1.617.2).
Berikut deretan negara dengan kasus Covid-19 varian Delta yang signifikan.
India
Varian Delta pertama kali muncul di India pada awal tahun ini. Saat ini, varian Delta mendominasi kasus Covid-19 di negara Asia Selatan tersebut.
Varian Delta disebut sebagai salah satu alasan lonjakan virus corona di India sekitar Maret lalu hingga menyebabkan gelombang kedua penularan Covid-19 yang lebih parah di negara tersebut.
Belum selesai dengan masalah itu, India telah menemukan lebih dari 40 kasus varian Delta baru yang dikenal dengan sebutan Delta Plus dan telah tersebar di tiga negara bagian.
[Gambas:Video CNN]
Amerika Serikat
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), sebanyak 6 persen dari total kasus Covid-19 aktif di Negeri Paman Sam merupakan varian Delta.
Dilansir USA Today, Direktur CDC, Rochelle Walensky, mengatakan bahwa transmisi yang lebih tinggi dari varian Delta bisa menjadikan mutasi virus ini menjadi strain dominan Covid-19 di Negeri Paman Sam dalam waktu dekat.
Direktur Institut Nasional AS untuk Penyakit Menular dan Infeksi, Anthony Fauci, juga memperingatkan bahwa varian Delta juga bisa menjadikan penularan Covid-19 lebih parah dan risiko rawat inap di rumah sakit menjadi lebih tinggi.
Kabar baiknya, kata Fauci, vaksin yang sudah ada dan digunakan saat ini bisa mencegah infeksi virus corona varian Delta.
Sebuah studi baru dari Public Health England memang menunjukkan dua dosis vaksin Pfizer-BioNTech terbukti 88 persen efektif terhadap penyakit simtomatik dari varian Delta.
Meski tren penularan menurun, saat ini AS masih menjadi negara dengan kasus corona dan kematian tertinggi di dunia. AS mencatat 34,4 juta lebih kasus Covid-19 dengan 617 ribu kematian.
Saat ini, AS mulai mengizinkan warganya melepas masker di sejumlah tempat publik. Namun, penyebaran corona varian delta dikhawatirkan kembali memicu lonjakan penularan Covid-19.
Indonesia
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kasus positif varian Delta di Indonesia mencapai 160. Total kasus tersebut terdeteksi dari proses whole genome sequencing (WGS) per 20 Juni lalu.
Jumlah tersebut mengalami kenaikan yang cukup tinggi dari sebelumnya. Pada 6 Juni 2021, Kemenkes mencatat jumlah varian Delta sebanyak 31 kasus dan hanya tersebar di lima provinsi.
Menurut data Badan Litbang Kemenkes, varian Delta per 20 Juni ditemukan di sembilan Provinsi di Indonesia.
Daerah terbanyak varian Delta ada di DKI Jakarta dengan 57 kasus dan Jawa Tengah 80 kasus.
Selain di Jateng dan DKI, varian Delta juga ditemukan di tujuh provinsi lainnya. Daerah tersebut yakni di Jawa Timur (10 kasus), Sumatera Selatan (3 kasus), dan Kalimantan Tengah (3 kasus).
Lalu di Kalimantan Timur (3 kasus), Banten (2 kasus), Gorontalo (1 kasus), dan Jawa Barat (1 kasus).
[Gambas:Video CNN]
Inggris hingga Singapura Dikepung Covid-19 Varian Delta
Ilustrasi. (iStockphoto/oonal)
Inggris
Sebanyak 90 persen lebih kasus corona aktif di Inggris merupakan varian Delta. Kehadiran varian yang lebih menular ini menyebabkan lonjakan penularan signifikan di negara itu.
Pada Kamis (17/6), untuk pertama kalinya dalam empat bulan Inggris mencatat 11.007 kasus baru dalam satu hari.
The Guardian melaporkan bahwa hingga 18 Juni, kasus varian Delta di Inggris mencapai 75.953. Menurut data Public Health England (PHE), berdasarkan sekuensing seluruh genom (WGS), 99 persen kasus Covid di negara pimpinan Boris Johnson itu melibatkan varian Delta.
Penasihat kesehatan Inggris bahkan memprediksi gelombang ketiga penularan corona sudah ada di depan mata karena penyebaran virus corona varian Delta menyebar begitu cepat melebihi program vaksinasi nasional.
"Ini naik. Mungkin kita bisa sedikit optimistis itu tidak akan naik lebih cepat, tapi bagaimanapun itu naik, jadi gelombang ketiga ini pasti sedang berlangsung," ujar penasihat Komite Gabungan untuk Vaksinasi dan Imunisasi (JVCI), Adam Finn.
Thailand
Thailand mendeteksi setidaknya 496 kasus Covid-19 varian Delta pada Kamis pekan lalu.
Kementerian Ilmu Medis Thailand (MSD) melaporkan bahwa ratusan kasus Covid-19 varian Delta itu terdeteksi di 20 provinsi dari penelusuran selama 7 April hingga 13 Juni.
Direktur Jenderal MSD, Supakit Sirirak, mengatakan bahwa dari keseluruhan kasus tersebut, 404 kasus di antaranya terdeteksi di Bangkok. Dengan demikian, varian Delta mencakup 10 persen dari keseluruhan kasus Covid-19 di Bangkok.
[Gambas:Video CNN]
Jepang
Peningkatan kasus baru Covid-19 dari varian Delta terus bertambah di Jepang. Menurut Kementerian Kesehatan, 87 kasus varian Delta ditemukan pada 12 dari 47 prefektur pada awal Juni lalu.
Singapura
Sebagaimana dilansir The Straits Times, Singapura melaporkan setidaknya 550 kasus Covid-19 varian Delta hingga akhir Mei.
Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) menyatakan bahwa ratusan temuan varian Delta itu terdiri dari 428 kasus lokal dan 122 kasus impor.
"Namun, kami telah menyesuaikan langkah-langkah kami dan jumlah penularan kasus lokal menurun selama dua minggu terakhir," kata juru bicara Menkes Singapura.