India Siaga Covid-19 Jelang Rentetan Festival Keagamaan

CNN Indonesia | Kamis, 05/08/2021 21:04 WIB
Pemerintah India meminta negara bagian siaga memberlakukan pembatasan pergerakan mencegah penularan Covid-19 menjelang rangkaian festival keagamaan. Ilustrasi. (Reuters/Navesh Chitrakar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah India meminta negara bagian siaga memberlakukan pembatasan pergerakan sosial mencegah penularan Covid-19 menjelang rangkaian festival keagamaan yang berlangsung di seluruh negeri.

Pemerintah pusat memperingatkan kerumunan rakyat selama festival berlangsung dapat menyebabkan fenomena "penyebar super Covid-19" dan lonjakan infeksi virus corona baru.

"Dewan Penelitian Medis India (ICMR) menyatakan keprihatinan mengenai potensi acara pertemuan massal selama festival berlangsung yang menjadikan momen penyebaran super sehingga menyebabkan lonjakan kasus Covid-19," kata Sekretaris Kesehatan India, Rajesh Bhushan, dalam surat kepada pemerintah negara bagian, Rabu (4/8).


India memang mulai disibukkan dengan berbagai macam festival, keagamaan, seperti Janmashtami pada 11 Agustus hingga festival lampu, Diwali, pada November mendatang.

Janmashtami merupakan festival agama Hindu tahunan untuk merayakan kelahiran Dewa Krishna. Setiap negara bagian memiliki cara sendiri dalam merayakan Janmashtami.

Sementara itu, Diwali, yang akan jatuh pada 14 November, merupakan salah satu festival umat Hindu terbesar yang dirayakan selama lima hari. Festival ini melambangkan kemenangan kebaikan atas keburukan.

Festival ini sangat kental dengan mitologi Hindu, yakni kembalinya Dewa Rama dari pengasingan. Dalam mitologi lain, disebutkan perayaan Diwali juga dianggap menandai peristiwa kemenangan Dewa Krisna yang berhasil membunuh setan Narakasura. Ia berhasil membebaskan rakyatnya yang hidup dalam ketakutan.

Biasanya, festival Diwali dirayakan oleh jutaan warga India yang memasang lampu-lampu, lilin, lampion, hingga kembang api di penjuru kota.

Rentetan festival tersebut berlangsung ketika India belum tuntas menangani gelombang kedua Covid-19 yang lebih ganas.

India kembali mengalami lonjakan besar kasus Covid-19 mulai awal Maret lalu dengan puncaknya pada awal Mei, di mana terdapat lebih dari 400 ribu kasus corona dalam sehari. Jumlah kematian corona pun turut memuncak sekitar 10 hari kemudian, dengan lebih dari 4.000 dalam sehari.

Di sisi lain, situasi corona di India saat itu juga diperparah dengan kemunculan varian Delta yang lebih menular. Sementara itu, proporsi penduduk yang sudah divaksinasi lengkap masih kurang dari 3 persen dari total hampir 1,4 miliar penduduk India.

Meski tren penularan telah menurun, India masih melaporkan rata-rata 30-40 ribu kasus Covid-19 setiap hari sejak Juli lalu. Pemerintah India memperingatkan meski kasus turun, puncak gelombang kedua Covid-19 belum mereda.

Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi telah meminta setiap negara bagian berhati-hati ketika melonggarkan pembatasan dan lockdown.

Negara bagian Maharashtra, yang paling parah terdampak gelombang dua Covid-19 India, telah melonggarkan pembatasan pergerakan sejak bulan lalu secara bertahap.

[Gambas:Video CNN]

Di sisi lain, Maharashtra masih menjadi negara bagian dengan kasus harian Covid-19 tertinggi kedua di India setelah Kerala.

"Di mana pun ada klaster, harus ada zona penahanan," ucap penasihat pemerintah India, Vinod Kumar Paul, dalam jumpa pers pekan ini seperti dikutip Reuters.

Per Kamis (5/8), India melaporkan 42.982 kasus Covid-19 baru dan 533 kematian dalam 24 jam terakhir.

Secara keseluruhan, India mencatat total 31,8 juta kasus Covid-19 dengan 426 ribu kematian. Dengan demikian, Inda menjadi negara dengan kasus virus corona tertinggi kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

(rds/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK