Di hari sebelumnya, menurut pantauan AFP, pengacara terkemuka sekaligus Wakil Ketua Aliansi Hong Kong, Chow Hang-tung, dibawa polisi ke markas mereka itu di Hong Kong, dengan kondisi tangannya diborgol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ingin memberitahu warga Hong Kong bahwa kita perlu terus melawan, jangan menyerah pada ketakutan yang tak masuk akal dengan cepat dan mudah." kata Chan, saat dirinya dibawa ke markas kepolisian Hong Kong, dikutip Reuters, Selasa (7/9).
Polisi mengatakan, penangkapan itu dilakukan lantaran mereka tak memberi informasi sebagaimana berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional.
Keempat orang itu, telah ditahan dan akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Polisi juga menyatakan tak menutup kemungkinan ada penangkapan selanjutnya.
Penangkapan Chow terjadi beberapa jam, sebelum dirinya dijadwalkan hadir di sidang jaminan politisi oposisi, Gwyneth Ho.
Ho menarik permohonan jaminannya di Pengadilan Tinggi setelah Hakim Esther Toh menolak permintaanya mencabut batasan pelaporan untuk persidangan.
Pemimpin Aliansi Hong Kong, Albert Ho dan Lee Cheuk-yan sudah dipenjara karena terlibat dalam protes anti-pemerintah pada 2019 lalu.
Sebelumnya, pada Agustus lalu, polisi mengirim surat kepada Aliansi Hong Kong, meminta informasi mengenai keanggotaan organisasi, keuangan dan kegiatan pada 7 September, menurut salinan berkas yang dikirim kepada para wartawan.
Surat itu, menuduh aliansi sebagai, "agen pasukan asing." Jika gagal memberikan informasi sesuai tenggat waktu akan dikenai denda HK$100 atau sekitar Rp183 juta, demikian menurut AFP.
UU Keamanan nasional menjerat siapa saja yang berkaitan dengan hal-hal seperti subversi, terorisme, dan kerja sama dengan pihak asing yang bisa menyebabkan penjara seumur hidup.
Apa itu tragedi Tiananmen? Baca di halaman berikutnya...
Juli lalu, Aliansi Hong Kong mengatakan mereka telah memberhentikan anggota staf guna memastikan keselamatan masing-masing. Setengah dari anggota komite, juga dilaporkan telah mengundurkan diri.
Setiap tanggal 4 Juni, mereka mengorganisir peringatan peristiwa berdarah Lapangan Tiananmen, dengan menyalakan lilin secara massal di Victoria Park Hong Kong.
Peringatan itu dihadiri oleh ribuan penduduk. Beberapa tahun terakhir lebih banyak warga yang turut berpartisipasi dalam acara itu lantaran mereka geram atas tingkah laku Beijing mengendalikan Hong Kong.
Slogan-slogan di acara tersebut, kerap menyuarakan demokrasi di China dan menuntut berakhirnya pemerintahan satu partai.
Insiden Tiananmen terjadi pada 4 Juni 1989. Partai Komunis China menjadi sorotan, saat mereka berusaha menghancurkan protes besar-besaran yang dilakukan oleh para mahasiswa di Beijing.
Pemicu aksi protes itu yakni China yang mulai mengizinkan perusahaan swasta dan investasi asing. Pemerintah berharap langkah itu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan standar hidup masyarakat. Sayangnya, upaya itu diiringi praktik korupsi yang meluas.
Menurut laporan Associated Press, para pemimpin partai juga telah memenjarakan atau mengungsikan para aktivis menghapus tragedi Tiananmen dari sejarah.
Peringatan Tiananmen selalu dilarang di China. Ritual Vigils untuk memperingatinya sempat diadakan secara terbuka di Hong Kong dan Makau, wilayah China dengan kontrol politik yang lebih sedikit, namun tahun ini pihak berwenang melarang acara tersebut.
Dua peringatan terakhir Tiananmen dilarang oleh kepolisian dan pemerintah Kota Hong Kong, dengan menutup museum yang dioperasikan oleh aliansi tersebut.
Pihak berwenang China juga khawatir di masa mendatang akan ada kemungkinan pelanggaran dari undang-undang keamanan itu.
Jakarta, CNN Indonesia --
Polisi Hong Kong menangkap empat penyelenggara peringatan peristiwa berdarah Tiananmen China, Rabu (8/9).
Tiga anggota kelompok Aliansi Hong Kong, Simon Leung, Sean Tang dan Chan To-wai ditangkap pada Rabu (8/9) pagi waktu setempat.
Di hari sebelumnya, menurut pantauan AFP, pengacara terkemuka sekaligus Wakil Ketua Aliansi Hong Kong, Chow Hang-tung, dibawa polisi ke markas mereka itu di Hong Kong, dengan kondisi tangannya diborgol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ingin memberitahu warga Hong Kong bahwa kita perlu terus melawan, jangan menyerah pada ketakutan yang tak masuk akal dengan cepat dan mudah." kata Chan, saat dirinya dibawa ke markas kepolisian Hong Kong, dikutip Reuters, Selasa (7/9).
Polisi mengatakan, penangkapan itu dilakukan lantaran mereka tak memberi informasi sebagaimana berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional.
Keempat orang itu, telah ditahan dan akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Polisi juga menyatakan tak menutup kemungkinan ada penangkapan selanjutnya.
Penangkapan Chow terjadi beberapa jam, sebelum dirinya dijadwalkan hadir di sidang jaminan politisi oposisi, Gwyneth Ho.
Ho menarik permohonan jaminannya di Pengadilan Tinggi setelah Hakim Esther Toh menolak permintaanya mencabut batasan pelaporan untuk persidangan.
Pemimpin Aliansi Hong Kong, Albert Ho dan Lee Cheuk-yan sudah dipenjara karena terlibat dalam protes anti-pemerintah pada 2019 lalu.
Sebelumnya, pada Agustus lalu, polisi mengirim surat kepada Aliansi Hong Kong, meminta informasi mengenai keanggotaan organisasi, keuangan dan kegiatan pada 7 September, menurut salinan berkas yang dikirim kepada para wartawan.
Surat itu, menuduh aliansi sebagai, "agen pasukan asing." Jika gagal memberikan informasi sesuai tenggat waktu akan dikenai denda HK$100 atau sekitar Rp183 juta, demikian menurut AFP.
UU Keamanan nasional menjerat siapa saja yang berkaitan dengan hal-hal seperti subversi, terorisme, dan kerja sama dengan pihak asing yang bisa menyebabkan penjara seumur hidup.
Apa itu tragedi Tiananmen? Baca di halaman berikutnya...
Mengenang Tragedi Tiananment
Mengenang tragedi Tiananmen di China. (NICOLAS ASFOURI / AFP)
Juli lalu, Aliansi Hong Kong mengatakan mereka telah memberhentikan anggota staf guna memastikan keselamatan masing-masing. Setengah dari anggota komite, juga dilaporkan telah mengundurkan diri.
Setiap tanggal 4 Juni, mereka mengorganisir peringatan peristiwa berdarah Lapangan Tiananmen, dengan menyalakan lilin secara massal di Victoria Park Hong Kong.
Peringatan itu dihadiri oleh ribuan penduduk. Beberapa tahun terakhir lebih banyak warga yang turut berpartisipasi dalam acara itu lantaran mereka geram atas tingkah laku Beijing mengendalikan Hong Kong.
Slogan-slogan di acara tersebut, kerap menyuarakan demokrasi di China dan menuntut berakhirnya pemerintahan satu partai.
Insiden Tiananmen terjadi pada 4 Juni 1989. Partai Komunis China menjadi sorotan, saat mereka berusaha menghancurkan protes besar-besaran yang dilakukan oleh para mahasiswa di Beijing.
Pemicu aksi protes itu yakni China yang mulai mengizinkan perusahaan swasta dan investasi asing. Pemerintah berharap langkah itu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan standar hidup masyarakat. Sayangnya, upaya itu diiringi praktik korupsi yang meluas.
Menurut laporan Associated Press, para pemimpin partai juga telah memenjarakan atau mengungsikan para aktivis menghapus tragedi Tiananmen dari sejarah.
Peringatan Tiananmen selalu dilarang di China. Ritual Vigils untuk memperingatinya sempat diadakan secara terbuka di Hong Kong dan Makau, wilayah China dengan kontrol politik yang lebih sedikit, namun tahun ini pihak berwenang melarang acara tersebut.
Dua peringatan terakhir Tiananmen dilarang oleh kepolisian dan pemerintah Kota Hong Kong, dengan menutup museum yang dioperasikan oleh aliansi tersebut.
Pihak berwenang China juga khawatir di masa mendatang akan ada kemungkinan pelanggaran dari undang-undang keamanan itu.