Australia Akan Buat 8 Kapal Selam Bertenaga Nuklir
CNN Indonesia
Kamis, 16 Sep 2021 17:37 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto ilustrasi HMS Ambush buatan Inggris. (Dok. defenceimagery.mod.uk)
Jakarta, CNN Indonesia --
Australia akan membangun delapan kapal selam bertenaga nuklir di bawah pakta keamanan Indo-Pasifik baru dengan Amerika Serikat dan Inggris.
"Dunia kami menjadi lebih kompleks, terutama di sini di kawasan kita, Indo-Pasifik," ujar Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, dikutip Reuters, Kamis (16/9).
Australia menjadi negara kedua yang diberi akses ke teknologi nuklir AS untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir. Negara pertama yakni Inggris pada tahun 1958.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk memenuhi tantangan ini, demi membantu memberikan keamanan dan stabilitas yang dibutuhkan kawasan kami, kami sekarang harus membawa kemitraan kami ke tingkat yang baru," lanjut Morrison.
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyambut baik kerja sama itu yang fokus pada kawasan Indo-Pasifik.
"Saya senang melihat bahwa fokus telah dialihkan ke wilayah kami dari mitra yang bekerja sama dengan kami," terangnya.
Namun, Jacinda juga mengatakan kapal selam itu tak akan diizinkan berlayar di perairan teritorialnya berdasarkan kebijakan bebas nuklir di negara itu.
"Ini adalah wilayah yang diperebutkan, dan ada peran yang bisa dimainkan orang lain dalam mengambil ketertarikan di wilayah kami," lanjutnya.
Dalam konferensi pers Rabu (15/9) kemarin Pemimpin AS, Inggris dan Australia berusaha melawan kekuatan dan pengaruh dari musuh yang semakin besar dengan membuat pakta trilateral ini. Terutama soal pembangunan militer, tekanan yang dialami Taiwan dan penempatan di Laut China Selatan.
Mereka tak menyebut secara pasti bahwa tindakan itu untuk melawan China. Namun, beberapa pihak meyakini hal tersebut dilancarkan demi mengurangi pengaruh Beijing di kawasan Indo-Pasifik.
Para pemimpin itu juga menegaskan kapal selam tak akan dipersenjatai dengan nuklir, tetapi hanya menggunakan sistem propulsi atau reaktor nuklir demi menjaga ancaman di masa depan.
Menanggapi kesepakatan itu, Kedutaan Besar China di AS, mengatakan negara-negara tak boleh membangun blok eksklusif yang menargetkan atau merugikan kepentingan pihak ketiga.
"Secara khusus, mereka harus melepaskan mentalitas Perang Dingin dan prasangka ideologis mereka," ujarnya.
Sementara para pengamat menilai pakta trilateral itu dianggap sebagai ancaman oleh Beijing.
Sekutu AS mulai khawatir dengan kekuatan China, baca di halaman berikutnya...
Pengamat dari Institut Kebijakan Masyarakat Asia, Richard Maude, menyebut China akan melihat pengumuman ini sebagai bukti lebih lanjut soal koalisi yang memperkuat untuk menyeimbangkan kekuatannya.
"China akan keberatan, tetapi perilakunya yang tegas dan tanpa kompromi mendorong keberpihakan baru ini," katanya.
Made melanjutkan, keputusan membangun kapal selam bertenaga nuklir mencerminkan kekhawatiran di internal pemerintah mengenai pembangunan militer China.
"Niat masa depan di kawasan itu dan kesediaan untuk menggunakan paksaan," tutur Made.
Kapal selam bertenaga nuklir bisa menghabiskan waktu lebih lama di bawah air. Hal ini memungkinkan kapal tersebut berada di area titik nyala potensial dengan China, seperti Laut China Selatan.
"Beijing pasti akan menafsirkan kapal selam baru sebagai tembakan melintasi haluan China," tutur kepala Studi Keamanan Asia-Pasifik di Universitas Macquarine, Bates Gill.
Gill lalu berkata, "Seperti rencana yang baru-baru ini diumumkan guna memperoleh rudal anti kapal jarak jauh, langkah ini dimaksudkan untuk mencegah pasukan maritim yang bermusuhan mendekati Australia.
China, kata Gill, satu-satunya negara yang saat ini mampu menimbulkan ancaman seperti itu.
Pakta keamanan trilateral dapat memperburuk hubungan perdagangan Australia dengan China, yang sudah tegang sebelumnya. Tetapi nafsu akan sumber daya dapat membatasi 'hukuman' yang diberikan China.
Beberapa tahun terakhir, China memberlakukan tarif besar dan pembatasan ekspor barang-barang Australia termasuk anggur, daging, sapi dan jelai.
Tak hanya itu, Beijing juga melarang impor batu bara sebagai bentuk kemarahannya atas kebijakan luar negeri Australia.
Jakarta, CNN Indonesia --
Australia akan membangun delapan kapal selam bertenaga nuklir di bawah pakta keamanan Indo-Pasifik baru dengan Amerika Serikat dan Inggris.
"Dunia kami menjadi lebih kompleks, terutama di sini di kawasan kita, Indo-Pasifik," ujar Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, dikutip Reuters, Kamis (16/9).
Australia menjadi negara kedua yang diberi akses ke teknologi nuklir AS untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir. Negara pertama yakni Inggris pada tahun 1958.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk memenuhi tantangan ini, demi membantu memberikan keamanan dan stabilitas yang dibutuhkan kawasan kami, kami sekarang harus membawa kemitraan kami ke tingkat yang baru," lanjut Morrison.
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyambut baik kerja sama itu yang fokus pada kawasan Indo-Pasifik.
"Saya senang melihat bahwa fokus telah dialihkan ke wilayah kami dari mitra yang bekerja sama dengan kami," terangnya.
Namun, Jacinda juga mengatakan kapal selam itu tak akan diizinkan berlayar di perairan teritorialnya berdasarkan kebijakan bebas nuklir di negara itu.
"Ini adalah wilayah yang diperebutkan, dan ada peran yang bisa dimainkan orang lain dalam mengambil ketertarikan di wilayah kami," lanjutnya.
Dalam konferensi pers Rabu (15/9) kemarin Pemimpin AS, Inggris dan Australia berusaha melawan kekuatan dan pengaruh dari musuh yang semakin besar dengan membuat pakta trilateral ini. Terutama soal pembangunan militer, tekanan yang dialami Taiwan dan penempatan di Laut China Selatan.
Mereka tak menyebut secara pasti bahwa tindakan itu untuk melawan China. Namun, beberapa pihak meyakini hal tersebut dilancarkan demi mengurangi pengaruh Beijing di kawasan Indo-Pasifik.
Para pemimpin itu juga menegaskan kapal selam tak akan dipersenjatai dengan nuklir, tetapi hanya menggunakan sistem propulsi atau reaktor nuklir demi menjaga ancaman di masa depan.
Menanggapi kesepakatan itu, Kedutaan Besar China di AS, mengatakan negara-negara tak boleh membangun blok eksklusif yang menargetkan atau merugikan kepentingan pihak ketiga.
"Secara khusus, mereka harus melepaskan mentalitas Perang Dingin dan prasangka ideologis mereka," ujarnya.
Sementara para pengamat menilai pakta trilateral itu dianggap sebagai ancaman oleh Beijing.
Sekutu AS mulai khawatir dengan kekuatan China, baca di halaman berikutnya...
Tanda Kekhawatiran dengan Membangun Kapal Selam Nuklir
Kapal selam tenaga nuklir AS, USS Georgia. (Sandy Huffaker/Getty Images/AFP)
Pengamat dari Institut Kebijakan Masyarakat Asia, Richard Maude, menyebut China akan melihat pengumuman ini sebagai bukti lebih lanjut soal koalisi yang memperkuat untuk menyeimbangkan kekuatannya.
"China akan keberatan, tetapi perilakunya yang tegas dan tanpa kompromi mendorong keberpihakan baru ini," katanya.
Made melanjutkan, keputusan membangun kapal selam bertenaga nuklir mencerminkan kekhawatiran di internal pemerintah mengenai pembangunan militer China.
"Niat masa depan di kawasan itu dan kesediaan untuk menggunakan paksaan," tutur Made.
Kapal selam bertenaga nuklir bisa menghabiskan waktu lebih lama di bawah air. Hal ini memungkinkan kapal tersebut berada di area titik nyala potensial dengan China, seperti Laut China Selatan.
"Beijing pasti akan menafsirkan kapal selam baru sebagai tembakan melintasi haluan China," tutur kepala Studi Keamanan Asia-Pasifik di Universitas Macquarine, Bates Gill.
Gill lalu berkata, "Seperti rencana yang baru-baru ini diumumkan guna memperoleh rudal anti kapal jarak jauh, langkah ini dimaksudkan untuk mencegah pasukan maritim yang bermusuhan mendekati Australia.
China, kata Gill, satu-satunya negara yang saat ini mampu menimbulkan ancaman seperti itu.
Pakta keamanan trilateral dapat memperburuk hubungan perdagangan Australia dengan China, yang sudah tegang sebelumnya. Tetapi nafsu akan sumber daya dapat membatasi 'hukuman' yang diberikan China.
Beberapa tahun terakhir, China memberlakukan tarif besar dan pembatasan ekspor barang-barang Australia termasuk anggur, daging, sapi dan jelai.
Tak hanya itu, Beijing juga melarang impor batu bara sebagai bentuk kemarahannya atas kebijakan luar negeri Australia.