5 Negara dengan Kepala Pemerintah Perempuan

CNN Indonesia | Minggu, 19/09/2021 11:20 WIB
Jerman hingga Selandia Baru, berikut merupakan negara-negara yang saat ini dipimpin perempuan. Kanselir Jerman Angela Merkel. (Michael Kappeler / POOL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam susunan kabinet Taliban yang diumumkan baru-baru ini, tidak ada perempuan di dalamnya.

Mengutip Associated Press, dari 33 anggota kabinet sementara yang sejauh ini diumumkan, seluruhnya merupakan petinggi veteran yang pernah memerintah di rezim Taliban pada 1996-2001, yang semuanya adalah pria.

Banyak negara menilai keputusan Taliban tidak mencerminkan pemerintahan inklusif dan penegakan hak perempuan yang dijanjikannya dulu.


Padahal, berbagai negara telah memberikan ruang bagi perempuan untuk masuk ke dalam kabinet. Bahkan, ada beberapa kepala negara yang dijabat perempuan-perempuan tangguh.

Berikut merupakan negara-negara yang saat ini dipimpin perempuan:

1. Jerman

Jerman dipimpin oleh Angela Merkel. Sudah 16 tahun ia memimpin Jerman. Ia menjabat sebagai kanselir Jerman sejak tahun 2005.

Pada November 2018, Merkel mengundurkan diri sebagai pemimpin partai Uni Demokratik Kristen dan mengumumkan bahwa ia tidak akan menjabat lagi sebagai kanselir. Merkel dikenal sebagai pemimpin yang tegas. Melansir Forbes, ia berani menentang Trump dan mengizinkan lebih dari satu juta pengungsi Suriah masuk ke Jerman.

Merkel pernah mendapatkan predikat "Person of the Year" oleh Majalah Time di tahun 2015. Predikat ini ia raih mengingat usaha dan kesabarannya dalam menyelesaikan krisis mata uang Euro, dikutip Time.

2. Bangladesh

Bangladesh juga tengah dipimpin perempuan. Sheikh Hasina Wajed, perdana menteri terlama dalam sejarah Bangladesh, saat ini menjalani masa jabatan keempatnya. Melansir Forbes, ia masuk dalam partai Liga Awami Bangladesh, memenangkan 288 dari 300 kursi parlemen negara itu.

Rencananya, Hasina akan memfokuskan diri pada permasalahan ketahanan pangan, akses pendidikan, dan perawatan kesehatan.

Namun, ada beberapa kontroversi dalam jabatan Hasina, salah satunya Undang-Undang Keamanan Digital. Aturan ini memungkinkan pendukung Hasina melakukan pelecehan kepada jurnalis dan blogger yang mengganggu pihak berwenang.

Dua tahun setelah aturan ini berlaku, sekitar 400 orang diadili, dengan lebih dari 70 jurnalis dan blogger di dalamnya. Melansir RSF, mereka yang dipenjara mengalami kondisi mengerikan sehingga salah satu dari mereka, Mushtaq Ahmed, meninggal di penjara pada Februari 2021.

Lanjut baca di halaman berikutnya...



5 Negara yang Dipimpin Perempuan Tangguh - Halaman 2

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK