ANALISIS

Masa Depan Suram Perempuan Afghanistan di Rezim Taliban

Anisa Dewi, CNN Indonesia | Sabtu, 18/09/2021 09:20 WIB
Nyaris tak ada secercah harapan bagi masa depan perempuan di Afghanistan di bawah rezim Taliban. Janji Taliban tinggal lah janji. Masa depan suram perempuan Afghanistan di bawah rezim Taliban. (AP/Felipe Dana)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amat sulit mengharapkan secercah harapan bagi masa depan para perempuan Afghanistan di bawah rezim Taliban.

Belum genap satu bulan Taliban memimpin Afghanistan sebagai pemerintahan sementara, sejumlah pengekangan terhadap perempuan diterapkan. Pengamat mengatakan nasib mereka takkan jauh berbeda dengan masa 1996-2001.

Saat Taliban memimpin di tahun tersebut, terjadi banyak pengekangan mulai dari dilarang sekolah, wajib mengenakan burkak dan niqab hingga dilarang bekerja. Banyak pihak yang menilai mereka ultra konservatif dan otoriter.


Mantan Staf perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Kabul, Dhyana Paramitha, tak melihat indikasi perubahan di Afghanistan, termasuk perlakuan terhadap perempuan.

"Sejauh ini saya masih bilang belum berubah dari tahun 1996. Ini sudah sebulan, itu sepertinya belum ada tanda-tanda ke arah sana (perubahan) tentang perlakuan perempuan di sana," kata Dhyana saat dihubungi CNNindonesia.com, Jumat (17/9).

Dhyana lalu menceritakan ia mendapat kabar sudah ada perempuan Afghanistan yang dicambuk. Ia juga menyoroti kewajiban niqab yang turut membatasi kebebasan perempuan.

Tak lama setelah berhasil menduduki istana kepresidenan, Taliban mengaku ingin membentuk pemerintahan yang inklusif dan terbuka.

Namun, sejauh ini mereka menerapkan sejumlah aturan yang membatasi ruang gerak perempuan. Kekangan-kekangan itu antara lain pemisahan murid laki-laki dan perempuan saat kegiatan belajar mengajar di kelas, bepergian harus dengan wakil laki-laki, kewajiban mengenakan hijab, perempuan dilarang olahraga, dan menyebut perempuan tak perlu menjadi menteri.

Meski Taliban mengizinkan universitas dibuka, Dhyana, menyangsikan sikap mereka.

"Siapa yang ngajar, bagaimana kurikulumnya, sementara mereka membatasi kurikulum sesuai syariat Islam," terangnya.

Ia tidak percaya Taliban betul-betul akan membuka kampus, karena bagi mereka ilmu tak penting, dan ujung-ujungnya perempuan kembali mengalami domestifikasi.

Apa faktor yang menguntungkan kebijakan misogini Taliban? Baca di halaman berikutnya...



Faktor yang Menguntungkan Kebijakan Misogini Taliban

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK