Australia Akan Sabar Meski Prancis Kecewa karena AUKUS

CNN Indonesia | Jumat, 24/09/2021 01:20 WIB
Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengaku akan bersabar dengan sikap dingin Prancis terkait pakta pertahanan AUKUS bersama AS dan Inggris. Kapal selam tenaga nuklir Prancis. Ilustrasi (AFP/NICOLAS TUCAT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengaku akan bersabar dengan sikap dingin Prancis.

Prancis mengambek usai Australia membatalkan kesepakatan kapal selam bertenaga nuklir dengan Paris. Negeri Kanguru itu memilih bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Inggris dalam proyek kapal selam tenaga nuklir AUKUS.

Morrison mengatakan dirinya telah berusaha menghubungi pemimpin Prancis. Namun, percakapan antar keduanya belum terjadi.


"Tapi kami akan bersabar. Kami memahami kekecewaan mereka," kata Morrison di Washington seperti dikutip AFP, Rabu (22/9).

"Australia memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak pertahanan yang sangat signifikan. Dan bisa dimengerti, kami tahu bahwa Prancis kecewa soal itu," Morrison melanjutkan.

Sikap dingin Prancis bukan tanpa alasan. Mereka merasa ditusuk dari belakang oleh Australia karena membatalkan perjanjian pembelian kapal selam senilai US$66 miliar atau Rp940 triliun.

Australia lebih memilih membuat kesepakatan trilateral dengan Amerika Serikat dan Inggris (AUKUS), dan akan membangun delapan kapal selam bertenaga nuklir.

Sebagai balasan, Prancis membatalkan acara untuk memperingati hubungan AS-Prancis. Mereka bahkan sempat berencana menarik duta besarnya dari Washington.

Prancis juga menuduh kedua negara itu telah melakukan pengkhianatan dan kebohongan.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Presiden Prancis Emmanuel Macron berusaha memperbaiki hubungan diplomasi mereka dengan melakukan komunikasi selamat 30 menit.

Gedung Putih menilai tindakan itu sebagai hubungan "persahabatan." Bahkan Macron memerintah duta besarnya kembali ke Washington.

Namun, upaya yang sama tak ditunjukkan Macron saat berhadapan dengan Morrison.

"Saya pikir masalah-masalah itu akan membutuhkan waktu lebih lama untuk diselesaikan daripada yang sedang ditangani antara Amerika Serikat dan Prancis," kata Morrison.

Meski masih renggang hubungan Prancis dan Australia, sejauh ini belum ada rencana penarikan duta besar dari Canberra.

Kesepakatan AUKUS disebut untuk mengimbangi kekuatan China di kawasan Indo-Pasifik. Melihat sekutu tersebut Beijing juga geram.

Tensi yang terjadi di antara negara-negara besar membuat khawatir sejumlah negara terutama mereka yang ada di kawasan Indo-pasifik.

Indonesia, misalnya, khawatir akan terganggunya stabilitas kawasan dan adanya perlombaan senjata yang tak bisa dihindari.



(isa/bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK